My Sweet Home

"marillah kita telusuri Hikmah Ramadhan dengan ... "Meneladani Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam "


Oleh Buya H. Masoed Abidin

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian
(yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah
dan (kedatangan) hari kiamat dan dia dia banyak menyebut Allah
(QS. Al Ahzab : 21)


Ayat ini memberi petunjuk bahwa ada keharusan meneladani Rasulullah saw.
balk dalam ucapan, perbuatan, maupun perilakunya.

Meneladani Rasulullah SAW. berarti mentaati dan menyintainya.
Hal ini sudah menjadi kewajiban yang harus dilakukan setiap muslim selaku umatnya.

Namun ayat di atas lebih menekankan bahwa
yang dapat meneladani suri teladan yang ada pada diri Rasulullah SAW
adalah orang-orang yang senantiasa mengharap rahmat Allah,
mengharap keselamatan di hari kiamat
dan orang-orang yang melanggengkan zikir,
baik berzikir dengan lidahnya maupun dalam hatinya.


Bagi seorang muslim yang mengharap rahmat Allah,
maka ia akan selalu menghambakan dirinya kepada Allah.
Perintah Allah senantiasa ia jaga dan laksanakan,
sehingga dirinya terhindar dari melakukan apa yang dilarang oleh Allah SWT.

Dalam firman Allah disebutkan bahwa
apabila seseorang ingin mencintai Allah
maka haruslah ia mengikuti apa yang dibawa dan diajarkan Rasulullah SAW.

Karena dengan mengikuti atau meneladani Rasulullah,
niscaya Allah akan mencintai dan mengasihi diri dan kehidupannya
bahkan menghapus dosa-dosa yang ada padanya.

Rasulullah SAW. diutus oleh Allah kepada segenap manusia
dengan membawa wahyu yang Allah turunkan kepadanya
sebagai penyeru kebenaran,
pembawa berita gembira
sekaligus pemberi peringatan.

Maka dalam upaya mengikuti ajaran beliau,
setidaknya salah satu dari sifat beliau
mesti ada di dalam diri seorang muslim.

Di antara sifat mulia yang beliau miliki adalah sifat shidiq.
Karena sifat shidiq itu pula Rasulullah SAW. diberi gelar Al Amin (orang yang dapat dipercaya).

Shidiq (as shidqu) artinya benar atau jujur,
lawan dari dusta atau bohong (al kidzbu).

Seorang muslim dituntut memiliki sifat shidiq;
dalam keadaan benar lahir maupun batin.

Sifat shidiq yang utama dan harus dimiliki minimal ada tiga:

1. Shidqul qalb, yaitu benar hati atau kejujuran hati nurani.
Kejujuran hati nurani dapat dicapai jika hati dihiasi dengan iman kepada Allah SWT
dan bersih dari segala macam penyakit hati.
Sifat ini akan mencapai kematangannya apabila didukung dengan sifat ihsan.

2. Shidqul hadits, yaitu benar atau jujur dalam ucapan dan perkataan.
Seseorang dapat dikatakan jujur dalam perkataan
apabila semua yang diucapkannya adalah suatu kebenaran bukan kebatilan.
Artinya, bisa jadi seseorang tidak berdusta dalam ucapannya,
tetapi apa yang ia ucapkan itu adalah sesuatu yang batil atau dimurkai Allah SWT.
Seperti membicarakan aib orang lain
atau pembicaraan yang mengakibatkan timbulnya suatu fitnah .....
dan semisalnya.

3. Shidqul ‘amal, yaitu benar perbuatan atau beramal shaleh.
Yang dimaksud benar dalam perbuatan adalah
apabila semua yang dilakukan sesuai dengan syari’at Islam.

Sifat shidiq akan mengantarkan seseorang ke pintu gerbang kebahagiaan
baik di dunia maupun di akhirat.

Karenanya Rasulullah SAW. memerintahkan setiap muslim
untuk bersikap shidiq dalam segala hal di antaranya dalam tiga hal di alas.
Sebagaimana juga dijelaskan firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 177.

Rasulullah saw bersabda:
"Hendaklah kamu semua bersikap jujur,
karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga.
Seseorang yang telah jujur dan mencari kejujuran
akan ditulis oleh Allah sebaqai seorang yang jujur (shidiq).

Dan jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan,
dan kejahatan membawa ke neraka.
Oranq yang selalu berbohonq dan mencari-cari kebohongan,
akan ditulis oleh Allah sebaqai pembohonq (kadzdzab)".
(HR. Bukhari)


Kemudian, selain tiga perkara shidiq di alas,
ada sifat shidiq yang lain yang harus pula dimiliki.

(a). Shidqul mu‘amalah atau benar pergaulan.
Seorang muslim akan selalu benar dalam bermu‘amalah atau dalam berinteraksi sosial,
baik dalam masyarakat maupun dalam keluarganya.

Orang-orang yang shidiq dalam bermu’amalah
sangat jauh dari sifat sombong dan riya’.
Segala sesuatu dilakukannya alas dasar (nawaytu) lillahi ta‘ala,
bukan karena orang lain,
seperti karena ingin di sanjung atau pamer.

Sikap ini mesti ia lakukan kepada siapa saja
tanpa memandang seseorang karena kekayaannya,
kedudukannya atau status lainnya.

Allah SWT berfirman:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.
Dan berbuat baiklah kepada dua ibu bapak,
karib kerabat,
anak yatim,
orang-orang miskin,
tetangga yang dekat
dan tetangga yang jauh,
teman sejawat,
ibnu sabil,
dan sahayamu.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang sombong
dan membangga-banggakan diri. “
(Q.S. An Nisaa’ 36)

(b). Shidqul ‘azam atau benar kemauan.
Sebelum melakukan sesuatu,
seorang muslim harus mempertimbangkannya secara matang terlebih dahulu,
apakah yang akan ia lakukan itu benar dan bermanfaat atau malah sebaliknya.

Apabila yang akan dilakukan itu diyakini kebenarannya,
maka hal itu ia lakukan dengan bertawakkal kepada Allah SWT
dan tidak menghiraukan suara-suara yang mencelanya
atau komentar-komentar negatif lainya.

Karena, jika ia menghiraukan semua komentar orang,
maka apa yang tadinya telah diyakini untuk ia lakukan,
bisa saja tidak jadi ia lakukan.

Hal ini bukan berarti seorang muslim harus menolak
atau mengabaikan semua kritik yang diajukan kepada dirinya,
asal kritik tersebut argumentatif dan konstruktif serta edukatif.

Allah SWT berfirman
“Apabila kamu telah membulatkan tekad,
maka bertawakkallah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. “
(Q.S. Ali Imran:159)


Sifat shidiq adalah “tambang emas” dalam diri seseorang yang sangat berharga.
Dan sifat inilah yang dijadikan standar kepercayaan orang lain kepadanya.

Apabila seseorang telah kehilangan sifat shiddiq,
maka hilanglah arti dirinya,
karena tiada yang mau mempercayainya lagi .....

Allahu a‘lam bi s-Shawab

Wassalam
Buya H.Masoed Abidin
buyamasoedabidin@gmail.com
author

a wife, a mom, a blogger, a survivor of ITP & Lupus, a writer, author, a counselor of ITP & Lupus autoimmune, a mompreuneur, a motivator, a lecturer.