Sabtu, 12 Juni 2010

Cinta, antara aku, Dia dan mereka

Sabtu, 12 Juni 2010


Kita, Manusia diciptakan Allah swt dengan desain yang khas, yaitu hanya untuk beribadah kepada-Nya. Jika kita memahami dan mengikuti desain kita ini, maka kita dapat hidup dengan baik. Jika tidak, kita rusak. Rusak karena tidak melaksanakan "panduan" hidup dari yang Menghidupkan, "pandauan hidup" dari yang Menciptakan dan Maha Mengetahui diri kita.

Panduan hidup itu berupa 'perintah dan larangan.' Dia yang menciptakan kita, maka Dia yang paling tahu tentang kita. Kita didesain untuk beribadah, maka kita harus beribadah. Caranya jelas tertuang dalam Al-Qur'an dan Hadits Nabi SAW. Kita diperintahkan mengerjakan sesuatu karena itu baik bagi kita, demikian juga sebaliknya. Ibarat sebuah mobil, yang paling tahu tentang berapa kecepatannya, bensin apa yang dapat menjaga agar mesinnya tetap awet, cocok dipakai di jalan yang bagaimana dsb, adalah orang yang membuat atau perusahaan yang memproduksinya. Jika untuk menjaga mesin agar tetap awet konsumen ditunjukkan bensin merek A, namun ia menggunakan yang merek B, maka dapat dipastikan bahwa mesin mobil akan cepat rusak. Demikian juga jika mobil yang diproduksi didesain hanya untuk digunakan di jalan yang lurus, akan tetapi digunakan di jalan yang banyak tanjakan dan tikungannya, tentu juga akan mempercepat kerusakan mobil tersebut. Begitulah hakikat hidup manusia. Bahkan lebih dari penggambaran di atas, Allah SWT yang Maha Tahu segala sesuatu tentu memiliki keakuratan yang tak terbantahkan. Kesalahan besar manakala ada yang berfikir bahwa ia dapat hidup dengan baik berdasarkan logika kemanusiaannya. Orang yang lemah imannya biasanya berkata begini: "Allah itu Maha Besar, dan tidak tergantung pada kita. Kita beribadah atau tidak merupakan masalah yang sama sekali tidak penting bagi Dia (Allah swt)." Ungkapan ini laksana orang yang sedang sakit yang ketika oleh dokter diberi peraturan pengobatan tertentu kemudian berkata, "Yah, saya ikuti atau tidak, apa urusannya dengan dokter itu." Perlu kita tegaskan, memang benar, diikuti atau tidak resep tersebut tidak akan berakibat apa-apa bagi dokter itu. Tapi ia (si pasien ini) dapat merusak dirinya sendiri akibat ketidaktaatannya itu. Pendek kata, kebahagiaan hidup diperoleh dengan mematuhi-Nya, menjadi hamba-Nya yang sejati ('Abdullah).

'Abdullah
Status hamba kita kepada Allah swt tidak bisa kita analogikan dengan "hubungan" antara seseorang dengan majikannya. Sebab, majikan (manusia) itu bukanlah pencipta kita, bukan pemilik kita yang hakiki. Tapi kita didepan-Nya (Allah swt) adalah antara "yang tidak memiliki apa-apa, hatta diri ini" dengan Yang Memiliki kita sepenuhnya. Yang Menciptakan dan Telah Menetapkan Panduan Hidup kita. Yang mendesain kita, yang Maha Rahman dan Rahim kepada kita. Dimana Rahman dan Rahim-Nya melebihi kecintaan dan kesayangan kita kepada diri kita sendiri. Rahman dan Rahim-Nya sejalan dengan Kemaha Tahuannya-Nya atas diri kita, atas alam semesta ini.

Oleh sebab itu, sebagai hamba, seharusnya kita senantiasa bersama dan dalam panduan-Nya. Setiap tarikan nafas ini, setiap tatapan ini, setiap gerakan ini, setiap apa yang didengar, setiap apa yang difikirkan dan rencanakan SELALU bersama-Nya dan karenanya (kullu syai-in 'ibadah wa ma'a ma'rifatihi ta'ala). Bersama dan hanya untuk-Nya adalah fitrah kita, adalah jalan hidup yang memanusiakan kita.

Mengenali diri

Pengetahuan tentang diri adalah kunci pengetahuan tentang Tuhan. Pengetahuan tentang diri yang sebenarnya ada dalam pengetahuan tentang hal-hal berikut: Siapakah saya, dan dari mana saya datang? Kemana saya akan pergi, apa tujuan saya datang dan tinggal sejenak di sini, di dunia ini? Dimanakah kebahagiaan saya dan kesedian saya sebenarnya berada? Dari sifat-sifat saya, mana yang aksidental dan mana yang esensial (pokok)? Sebelum kita mengetahui ini, kita tidak akan bisa menemukan letak kebahagiaan kita yang sebenarnya (al-Ghazali).

Orang yang mengenal "dirinya" dengan baik, mengenal "Tuhannya" dengan sebenar-benarnya, dan mengetahui "lingkungannya" dengan sangat mendalam akan terbimbing ke jalan hidup yang menjadi fitrahnya. Pada saat demikianlah kita akan "menemukan dan mengamalkan" apa yang dilihat oleh para ilmuan fisika sebagai ENERGI terbesar yang ada dalam diri kita, dilihat oleh para Sufi sebagai GRAVITASI, dimana Allah ternyata tidak hanya memberi gaya gravitasi (yang merupakan satu dari empat gaya terbesar alam semesta yang bertanggungjawab atas semua gerak benda di alam semesta) untuk bumi saja, tapi Allah juga benamkan dalam diri, dan yang dilihat oleh para ilmuwan di bidang kedokteran sebagai OBAT PALING MUJARAB.

Para ilmuwan maupun para sufi sepakat menyebut bahwa yang dimaksud energy terbesar alam semesta, gaya gravitasi, dan obat paling mujarab dalam diri kita adalah CINTA! Tapi bukan cinta dalam makna keseharian kita, yakni suka pada lawan jenisnya. Namun, itu adalah "CINTA SEJATI, YANG HANYA MEMBERI TANPA PERNAH MENERIMA." Cinta Sejati adalah Pengorbanan (keberanian untuk mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi, sebuah keberanian terbesar manusia), dan esensi dari setiap pengorbanan adalah pemberdayaan terhadap objek yang kita cintai. Inilah Konsep Cinta yang dimaksudkan sebagai potensi yang menjadikan kita layak menjadi Khalifah fil Ardli.

Cinta adalah benih kebahagiaan. Dan cinta kepada Allah swt hanya ditumbuhkan dan dikembangkan oleh ibadah.

Al-faqir,.....
Yang sedang berusaha memahami (thalabu al-'ilm) dan mengamalkan "panduan hidup" Ilahi.

(dari : sahabatku Asmu'i Marto)
blog comments powered by Disqus