bunga

Seri Kajian Akhlak: IKHLAS

Pengantar

Sesungguhnya akhlak terpuji tidak sebatas pemaknaan kebaikan dzahiriyah perilaku. Kerja itu meliputi hati, juga dikontrol oleh Iman. Berkaitan dengan keimanan ini, Syeikh Abdul Qadir al-Jailaniy merumuskan aturan; siapa saja yang hendak masuk Madrasah al-Qdiriyah – Madrasah Tarbiyah Ruhiyah yang didirikannya – pertama-tama yang menjadi titik tekan adalah Tauhid yang benar [Fathu Rabbaniy, hlm. 206].

Syeikh al-Jilaniy dalam tarbiyahnya menekankan dua hal penting; Tauhid dan Tasawwuf. Perpaduan dua elemen mendasar ini akan mengontrol baik tidaknya perilaku seorang muslim. “Agar seorang muslim berakhlak dengan akhlak terpuji, maka akidahnya harus terbebas dari penyimpangan!”, pesan Syeikh al-Jailaniy dalam salah satu pidatonya.

Konsep akhlak dalam Islam terbungkus dalam bingkai keyakinan yang benar. Karena, akidah, layaknya Worldview akan mengontrol aktifitas manusia. Syekh Atif al-Zayn mengatakan bahwa akidah fikriyah adalah sistem kepercayaan rasional yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, dengan dirinya dan dengan orang lain [al-Islam wa Idulujiyyah al-Insan, hlm. 13]. Syeikh al-Jailany membagi akhlak menjadi dua; Akhlak kepada Allah – dengan menjauhi larangan, melaksanakn perintah -, dan Akhlak kepada makhluk. Akhlak kepada makhluk adalah turunan dari jenis akhlak yang pertama tadi [al-Ghunyah li Thalibi Thariqil Haq, hlm.192-193).

Jadi, perilaku baik dalam konsep Islam tidak mungkin dipisah dengan konsep keyakinan dasar kepada Sang Khalik. Lantas, apa landasan seorang non-muslim beramal baik? Al-Qur’an telah memberi jawaban “Dan orang-orang kafir perbuatan (amal) mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu maka ia tidak mendapatkan sesuatu apapun” (QS. Al-Nur: 39).

Lahiriahnya berbuat baik, akan tetapi karena tidak berdimensi tauhid, amalan mereka bukanlah kategori amal shalih. Mereka tak akan mendapat apresiasi apapun dari Allah SWT, karena syarat diterimanya amal adalah, kebersihan akidah. Yang membedakan adalah dalam hati non-muslim tidak ada konsep ikhlas. Ikhlas dalam konsepnya sekedar tulus karena kemanusiaan. Berarti sebaik apapun yang kita lihat, mereka belum bisa dikatakan ikhlas. Kita boleh memberi apresiasi terhdap mereka, namun tetap, apresisasi kita masih terbatas pada dimensi duniawi.

Itulah mengapa, seorang muslim yang beramal dengan riya’ dimasukkan kategori syirik kecil, sebab memasukkan yang lain dalam kalbunya yang mesti hanya terisi karena Allah SWT. So…jika akhlak kita masih tercela, maka berarti ada ketidaksempurnaan dalam konsep akidah kepercayaan kita kepada Allah SWT. Mengenal Allah (ma’rifatullah) berarti paham tanggung jawab dirinya kepada Allah, dirinya dan kepada manusia lainnya.

IKHLAS
Ikhlas adalah meng-esakan Allah SWT dalam ibadah, ketaatan dan perbuatan baik lainnya tanpa tendensi yang lain, berbuat-buat karena makhluk, atau ingin mendapat pujian orang lain. Ikhlas merupakan kunci utama dalam beramal. Imam Yusuf bin al-Husein berkomentar; “Sesuatu yang paling mulya di dunia adalah IKHLAS”.

Oleh karena itu, kedudukan seorang mukhlis cukup mulya di sisi Allah. Menurut Syeikh Makhuul, seseorang yang ikhlas beramal dengan sebenar-benar ikhlas selama empat puluh hari, maka biasanya ia akan diberi anugerah hikmah di hati dan lisannya.

Seorang ulama suatu saat menasihati muridnya yang akan mensedekahkan secuil hartanya untuk masjid. Sang Guru berpesan, “Serahkan dirhammu kepada masjid, tapi saya akan umumkan bahwa si fulan – orang lain – yang beramal bukan kamu”. Orang itu mengusulkan, “Bagaiman kalau tidak perlu disebut, baik nama saya atau si fulan itu?” “Simpan saja hartamau, karena kamu tidak ikhlas!” komentar sang Guru. Masya Allah…Memang betapa halus setan menggoda hati agar kita salah dalam beramal. Dalam benak kita mungkin kadang-kadang berpikir kita sudah ikhlas, tapi hakikatnya belum tulus. Bagaimana bila hal ini baru kita ketahui ketika persidangan di hadapan Allah kelak??? Sungguh merupakan kerugian besar!

Maka, sering kali kita dapati seorang yang ketika berbicara, selalu yang keluar kata-kata bijak, bernas dan solutif. Itulah orang yang ikhlas, perilakunya teduh, kata-katanya sopan bijak, takut dipuji, tidak menonjolkan diri. Saat diminta nasihat selalu kata-katanya indah plus ayat-ayat al-Qur’an dan hadis.
Agama yang kokoh, tidak tegak kecuali dengan pondasi Ikhlas. "Dan mereka tidaklah diperintahkan selain agar menyembah Allah semata dengan ikhlas hati dan menjalankan agama dengan benar. Mengerjakan shalat dan menunaikan zakat. Itulah agama yang kokoh (tegak)." (QS. Al−Bayyinah: 6). Kehancuran keberagamaan seseorang itu seiring lenyapnya keikhlasan dalam hatinya. Betapa, dalam kisah-kisah para ulama dahulu selalu menggambarkan orang yang riya’ terperangkap ke dalam kelompok-kelompok yang tidak benar.

Penghancur agama itu sebenarnya bernama riya, pemersatu umat penguat agama itu adalah ikhlas. Demikian kira-kira salah satu kesimpulan dari inti nasihat-nasihat Imam al-Ghazali dan Imam al-Jailaniy.
Oleh sebab itulah, baik Imam al-Ghazali dan Imam al-Jailaniy berupaya memperbaiki kondisi masyarakat Islam dengan mengobati hatinya. Penyakit yang cukup kronis menurut beliau adalah ketiadaan ikhlas dalam berjuang. Al- Jinaliny bahkan cukup tegas, menurutnya orang yang berjuang hanya karena ingin disebut pejuang sejati, dan orang yang berjuang demi kemulyaan jamaahnya adalah seorang dajjal yang menghancurkan ukhuwah Islamiyah.

Jadi, kerusakan hati yang disebabkan oleh ketiadaan ikhlas, berdampak pada tiga hal; Penyumbang retaknya persatuan, amalnya sia-sia tidak mendapat balasan sebaliknya mendapat siksa, dan orang lain akan menjauhi model orang yang tidak terpuji ini. Kita bisa menangkap, bahwa ukhuwah Islamiyah terbangun atas pondasi keikhlasan berjuang. Sebaik apapun tingkat intelektualitas kita, jika hati terkotak-kotak dan terbungkus akhlak tercela tak akan terwujud persatuan dan kekuatan itu.
Mudah-mudahan Allah SWT selalu membimbing kita. Semoga apa yang telah kita berbuat bukan karena apa-apa tapi karena Allah, dan apa yang telah diputuskan Allah semuanya dapat kita terima dengan tulus. "Allah tidak menerima amal, kecuali yang dikerjakan dengan ikhlas karena Dia semata, dan dimaksudkan untuk mencari ridlo-Nya” ( HR. Ibnu Majah ).Wallahu A’lam bisshawab.

Kampung Perdamaian, 2 Juli 2010 by: Kholili Hasib

(dari : sahabatku Kholili Hasib)