bunga

Membahas Ucapan Jazakallahu khairan



Alhamdulillah mendapat ilmu dari catatan seorang sahabat Evi, akhi Anshari Taslim yang mana selama ini ternyata Evi juga telah berbuat khilaf dalam penyampaiannya. Ternyata kurang beberapa huruf saja dalam bahasa Arab telah membuat artinya beda.
Astagfirullah. Ya Allah maafkanlah kami yang sering berbuat khilaf dan lupa. Limpahkanlah kepada kami sellau ilmu yang bermanfaat dan cahaya petunjukMu. Amin
***************************************************************************

Sering kita mengucapkan kalimat (جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا) (semoga Allah membalas anda dengan kebaikan) atau kalau kepada perempuan jazaka menjadi jazaki dan kalau orangnya banyak jazakumullahu khairan. Ternyata ini adalah sunnah Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam sebagaimana terungkap dalam hadits riwayat At-Tirmidzi dengan sanad sebagai berikut:

Al Husain bin Hasan Al Marwazi di Mekah dan Ibrahim bin Sa’id Al Jauhari menceritakan kepada kami, keduanya berkata, Al-Ahwash bin Jawwab menceritakan kepada kami, dari Su’air bin Al-Khims, dari Sulaiman At-Taimi, dari Abu Utsman An-Nahdi, dari Usamah bin Zaid yang berkata, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ

Barangsiapa yang diberikan suatu kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengucapkan jazakallaahu khairan (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan) berarti dia telah sempurna dalam memuji.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2035).

Tinjauan sanad:
1.Al-Husain bin Hasan Al-Marwazi adalah guru At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, Al-Hafizh Ibnu Hajar menganggapnya “Shaduq”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam kitab Ats-Tsiqaat dan Abu Hatim mengatakan, “Shaduq”. (At-Taqrib 1/151, no. 1447, Tahdzib Al-Kamal 6/361-363, no. 1304).
2.Ibrahim bin Sa’id Al-Jauhari menurut Ibnu Hajar dia tsiqah lagi seorang hafizh (At-Taqrib 1/43, no. 204).
3.Al-Ahwash bin Al-Jawwab, Ibnu Hajar menganggapnya shaduq (jujur) mungkin ada keraguan. Ibnu Ma’in menganggapnya tsiqah dan Abu Hatim menganggapnya shaduq, salah satu gurunya adalah Su’air bin Al-Khims sebagaimana dijelaskan oleh Al-Mizzi. Dia salah seorang yang dipakai dalam Shahih Muslim sebagai hujjah. (At-Taqrib 1/54, no. 327, Tahdzib Al-Kamal 2/288, no. 286).
4.Su’air bin Al-Khims, Ibnu Hajar menganggapnya shaduq dan dia dipakai dalam Shahih Muslim berupa hadits tentang waswas. Ibnu Ma’in dalam riwayat Ad-DAuri menganggapnya tsiqah, Abu Hatim menganggapnya shaduq dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam kitab Ats-Tsiqaat. (At-Taqrib 1/250, no. 2680, Tahdzib Al-Kamal 11/130, no. 2394).
5.Sulaiman At-Taimi, dia adalah Sulaiman bin Tharkhan At-Taimi, karena memang dialah murid Abu Utsman An-Nahdi dan salah satu muridnya adalah Su’air bin Al-Khims. Tsiqah ‘abid dipakai oleh Al-Bukhari dan Muslim dan empat penyusun sunan. (At-Taqrib 1/261, no. 2836, Tahdzib Al-Kamal 12/5, no. 2531).
6.Abu Utsman An-Nahdi, namanya adalah Abdurrahman bin Mull, tsiqah tsabat ‘abid, memang biasa meriwayatkan dari Usamah bin Zaid. (At-Taqrib, 1/396, no. 4494, Tahdzib Al-Kamal 17/424, no. 3968).

Islam mengajarkan ucapan terimakasih kepada siapa saja yang berbuat baik kepada kita, sekecil apapun kebaikan itu. Tidak boleh mengingkari kebaikan orang yang telah kita nikmati, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam:

مَنْ أُعْطِيَ عَطَاءً فَوَجَدَ فَلْيَجْزِ بِهِ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُثْنِ فَإِنَّ مَنْ أَثْنَى فَقَدْ شَكَرَ وَمَنْ كَتَمَ فَقَدْ كَفَرَ

Siapa yang diberi pemberian maka hendaklah dia membalasnya dengan itu pula. Kalau tidak maka dengan memuji, sebab dengan memuji berarti telah berterimakasih dan siapa yang menyembunyikan (kebaikan orang padanya) berarti dia telah kufur nikmat.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2034).

Berterimakasih kepada sesama manusia merupakan salah satu bentuk syukur atas nikmat Allah, sebagaimana terungkap dalam hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda,

لاَ يَشْكُرُ اللهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

Tidak dinamakan bersyukur kepada Allah bagi siapa yang tidak berterimakasih kepada manusia.” (HR. Abu Daud, no. 4811, At Tirmidzi no. 1954 )[1]

Al-Khaththabi menjelaskan hadits ini mengandung dua kemungkinan, pertama, orang yang menjadi kebiasaannya adalah mengingkari nikmat dari manusia, maka juga akan menjadi tabiatnya mengingkari nikmat Allah.
Kemungkinan kedua, bahwa Allah tidak menerima syukur dari seorang hamba kalau si hamba itu tidak pandai berterimakasih atas kebaikan orang lain, karena keduanya saling berhubungan.[2]
Jadi, jangan remehkan ucapan terimakasih kepada siapapun yang berjasa, baik memberi bantuan materil maupun moril, karena itu adalah salah satu bentuk syukur kepada Allah Ta’ala.
Kadang kita suka salah dalam mengucapkan ini, seperti mengucapkan ”Jazakallah khair” itu secara bahasa bisa diartikan begini: ”Semoga kebaikan membalasmu dengan Allah.” Makanya, ujung ’AN’ yang ada setelah kata khair jangan sampai ketinggalan.
Demikian semoga bermanfaat, dan saya ucapkan JAZAKUMULLAHU KHAIRAN atas perhatiannya..:)


[1] Dianggap shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib, no. 973, dan As-Silsilah Ash-Shahihah, no. 416.
[2] Lihat: Ma’alim As-Sunan, juz 4 hal. 113 ketika menjelaskan hadits di atas.

jawabannya boleh : wa iyyaaka yg kalau diartikan adalah (sama-sama) atau terimakasih kembali, atau kembali kasih dan lain sebagainya.
Dalam hadits Al Bara` bin 'Azib ttg azab kubur yg panjang itu ketika kita mati nanti dan kebetulan kita adalah orang baik (insya Allah) maka amal baik kita mengucapkan kepada kita "Jazakallah khairan" lalu kitapun menjawab wa anta jazakallah khairan.
Demikian pula berdasarkan sebuah hadits riwayat Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir bahwa ketika Rasulullah mendapat ucapan jazakallah khairan maka beliau menjawab, wa antum ya ma'asyiral anshar jazakumullah khairan".