Senin, 19 September 2011

Pengaruh Pergaulan Remaja terhadap Pembentukan Kepribadian

Senin, 19 September 2011





Berteman menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya berkawan, bersahabat, tidak seorang diri; ada temannya, berbagi dan beriring. Sedangkan pertemanan berarti perihal berteman.


Bergaul menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya hidup berteman atau bersahabat. Sedangkan pergaulan berarti perihal bergaul; kehidupan bermasyarakat.


Sebuah pertemanan atau pergaulan merupakan sebuah karunia. Akan tetapi dalam bergaul atau bersahabat kita harus berhati-hati karena ada sahabat yang berteman karena harta, kedudukan, tendensi dunia, seekdar mengobrol saja, dan ada juga yang bersahabat karena kepentingan agama yang ingin mengambil faidah dari ilmu dan amalny, bersahabat karena memiliki hobi yang sama atau hanya karena butuh pertolongannya saja, tapi ada juga sahabat yang selalu menyusahkan kita saja sehingga mendera jiwa dan kehidupan kita.


Mencari teman itu tidak terlalu sulit. Begitu juga dengan bergaul dan bersahabat dengan orang lain. Akan tetapi mencari sahabat sejati, sahabat yang bersedia ada dalam suka dan duka tidaklah mudah. Karena pertemanan yang indah saat diri kita menjadi pilihan kebutuhan jiwa teman kita. Sejatinya pergaulan itu akan mendatangkan sikap saling memberi, menerima, menutupi sehingga terbuka lebar bagi setiap sahabat untuk saling tolong-menolong, saling menasehati dan tidak memaksa. Karena bila kita memaksa sesuatu kepada teman kita maka sesungguhnya kita telah berlaku zhalim atas diri teman kita.


Ikatan pergaulan hakiki tidak akan terwujud kecuali dari ketulusan dan keluhuran iman yang tertanam di lubuk hati orang-orang yang bebas berkehendak dan mempunyai persepsi yang benar, serta dibarengi aplikasi yang sempurna dan menyeluruh terhadap perintah Allah swt, karena mengharapkan rahmat dan pahala dariNya.


Ikatan itu juga tidak akan muncul kecuali dari jiwa yang diliputi iman yang mendarah daging di dalamnya; jiwa yang tidak mengenal Tuhan selain Allah, tidak bersandar kepada kekuatan selain kekuatanNya, serta tidak mengenal rasa khawatir kecuali saat ia melakukan maksiat kepadaNya. Jiwa seperti itu berjalan menuju superioritas iman di antara manusia, tidak mengakui semua apa yang bertentangan dengan kehendak Allah maupun ia dijauhi oleh semua orang di muka bumi ini. Inilah yang kita sebut dengan pergaulan dalam ketakwaan di mana ada pertautan nilai-nilai spiritual yang dianugerahkan Allah kepada hati-hati setiap manusia. Inilah sebenarnya yang terbaik buat kita. Sebab kedekatan pergaulan itu tidak hanya ada di dunia tapi juga di akhirat. Sehingga pergaulan kita mendapat rahmat dariNya dan mendatangkan naunganNya di padang mahsyar yang panas.


Oleh sebab itu kita harus berhati-hati dalam berteman dan bergaul. Ibnu Qudama Al Maqdsi mengingatkan, “Ketahuilah tidak dibenarkan seseorang mengambil setiap orang jadi sahabatnya, tetapi dia harus mampu memilih criteria-kriteria orang yang dijadikan teman, baik dari segi sifatnya, perangainya atau lainya, yang bisa menimbulkan gairah berteman, dan sesuai pula dengan manfaat yang bisa diperoleh dari persahabatan tersebut.


Dalam berteman juga kita harus mampu menahan diri dari segala jenis rahasia sahabat kita. Semakin dekat diri kita maka semakin banyak rahasia tentang pribadi dirinya yang kita ketahui, segala jenis informasi tentang kepribadian, watak, karakter, kebaikan bahkan sampai aib dan celanya pun di ketahui. Sebab orang terdekat biasanya tidak segan-segan membicarakan tentang hal dirinya kepada sahabatnya. Begitu juga dalam hal memuji sahabat kita. Kadang pujian itu bernilai kebaikan untuk memotivasinya tapi kadang pujian itu akan berdampak negatif yang menjerumuskannya ke dalam perbuatan tercelah, sombong dan angkuh. Oleh sebab itu, ketika memuji sahabat kita jangan berlebihan dan usahakan tidak memujinya di depan orang banyak. Rasulullah melarang kita melakukan hal itu. Ada sebuah hadist mengatakan memuji seseorang di depan orang banyak sama halnya kita telah memenggal lehernya. Kita harus menghargai sahabat kita sendiri. Karena di sinilah akan timbul pertemanan yang hakiki. Akan tetapi, menceritakan kebaikan seorang sahabt kepada orang lain itu meruapkan sebuah hal yang sangat bagus karena itu ibarat sebuah rekomendasi agar orang lain mau berteman dengan sahabat kita. Maka jagalah dan peliharalah pergaulan kita, sehingga tidak meruntuhkan arti sebuah kepercayaan dari pergaulan antar sahabat itu.


Setiap interaksi pergaulan yang intens kepada seorang teman akan membawa pengaruh. Karena sifat, sikap, tingkah laku jika bersentuhan dengan pribadi seseorang maka akan memberikan dampak bagi orang tersebut. Perilaku yang buruk akan lebih cepat menular kepada pembentukan kepribadian seseorang. Ibarat penyakit menular yang akan menjangkiti siapapun yang berada didekatnya.


Contohnya, bila kita bergaul dengan anak-anak punk maka kita bisa menjadi anak punker, bila kita bergaul dengan para motivator maka hidup kita akan berubah menjadi semangat motivasi, jika kita bergaul dengan orang shalih maka kita bisa menjadi anak yang shalih, jika kita bergaul dengan para penulis maka kemungkinan besar kita pun bisa menjadi seorang penulis, jika kita bergaul dengan orang yang suka mencuri maka perilaku kita bisa menjadi seorang pencuri, dan lain-lain.


Hal tersebut juga sesuai dengan hadits Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik (shalih) dan teman yang jahat adalah seeprti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau membeli darinya, atau engkau akan mencium aroma harumnya itu. Sedangkan peniup api tukang besi mungkin akan membakar bajumu, atau engkau akan mencium bau darinya yang tidak sedap.”(HR. Bukhari)


Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam bergaul. Terutama pada masa remaja, di mana kondisi masa remaja ada peningkatan rasa ingin tahu terhadap sesuatu hal. Remaja sangat mudah tertarik pada “bagaimana sesuatu bekerja”. Bila kurangnya informasi, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman, maka akan menimbulkan banyak masalah. Di sinilah seorang yang kreatif diperlukan. Karena seorang yang kreatif mempunyai rasa ingin tahu, ingin mencoba-coba, bertualang, suka bermain-main, serta intuitif. Kita semua berpotensi untuk menjadi orang yang kreatif seperti ini. Jika kita yakin pada diri sendiri bahwa kita adalah orang yang kreatif maka kita akan menemukan cara yang kreatif untuk mengatasi setiap masalah yang kita hadapi. Sehingga kita menjadi manusia yang bijak dalam menyikapinya. Kreatif kita dalam bergaul juga harus kita perhatikan sehingga kita bisa memilih-milih teman yang layak menjadi teman kita.


Akan tetapi bila kreativitas kita yang tinggi digunakan untuk hal-hal yang tidak baik maka akan terjadi suatu tindakan keburukan. Hal ini pernah disampaikan dalam sebuah seminar di Kemang Village oleh Elly Risman, M.Psi (Yayasan Buah Hati) terjadi pada seorang anak remaja sekarang. Mengikuti trend bergaul dengan menggunakan bahasa gaul atau huruf alay.


Saat seminar dibuka dengan tulisan SMS anak zaman sekarang─huruf ALAY─ dengan sedemikian rupa di layar presentasi, ternyata tidak ada satu orang pun yang mampu membaca tulisan itu. Karena begitu kreatifnya pergaulan anak remaja sekarang─selain bahasanya ALAY, membacanya juga harus dengan posisi handphone terbalik. Dan isinya adalah: "Hi, sayang, aku kangen nih. Udah lama kita GA ML, Yuk, mumpung bonyok lagi pergi, yuk kita ketemuan...dsb." Hal ini akan merusak mental para remaja. Oleh karena itu setiap orang perlu dibekali pembelajaran agama, pembinaan dari orangtua di rumah agar mendekatkan anak-anaknya dalam kebaikan, dalam mengingat kepada Allah dan setiap remaja harus berperilaku akhlak yang mulia dan terpuji. Sehingga selalu memilih pikiran yang positif, kreatif dan bijak agar menghasilkan sesuatu yang bermanfaat buat orang lain. Ingatlah bahwa setiap apa yang kita perbuat, Allah selalu melihat perbuatan kita itu. Oleh karena itu berhati-hatilah dalam bergaul. Jika teman kita mempunyai sifat atau kebiasaan yang umumnya tidak disukai orang lain dan bisa menghambat pergaulannya maka menjadi kewajiban kita untuk segera mengingatinya. Namun dalam memberi nasehat juga harus pake etika dengan memilih situasi dan waktu yang tepat.

***

Tips menjaga Ukhuwah (persaudaraan/persahabatan) :


1. Nyatakan rasa cintamu

Seperti dalam Hadist Rasulullah:

"Apabila seseorang mencintai saudaranya, maka hendaklah ia mengatakan rasa cintanya kepadanya" (HR Abu Dawud dan At Tirmidzi)

2. Saling mendoakan

Org yang mendoakan saudaranya pun tdk akan rugi karena keutamaan doa itu sendiri akan ttp kembali kpd org yg mendoakan, spt dalam sebuah hadist:

" Tidaklah seorang hamba mukmin berdoa unk saudaranya dari kejauhan, melainkan malaikat berkata 'Dan bagimu seperti itu' " (HR Muslim)

3. Saling memberi hadiah

Jgn terlalu dipikir susah. Pemberian hadiah tdk hrs menunggu momen2 tertentu apalagi dgn momen bid'ah spt ultah. Juga tdk perlu sesuatu yg bernilai finansial tinggi. Yang diukur adl bkn nilai finansialnya, tp makna dr pemberian hadiah itu sendiri.

Pemberian hadiah spt ini akan menumbuhkan perasaan cinta antara pemberi dan yg diberi, Rasulullah bersabda:

"Saling memberi hadiahlah, niscaya kamu akan saling mencintai" (HR Al Bukhari)

4. Melepas kesusahan saudaranya

Rasulullah bersabda:

"Barang siapa melepaskan salah satu kesusahan dunia dr seorang mukmin, maka Allah akan melepaskan salah satu kesusahan hari kiamat darinya. Barang siapa memudahkan org yg dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya didunia dan akhirat" (HR Muslim)

5. Memenuhi hak sesama muslim

Yang ini dibagi menjadi 2, hak umum dan hak khusus.

Hak umum:

Dikenal melalui hadist yg bersumber dr Abu Hurairah, Rasulullah berkata:

"Hak muslim atas muslim lainnya ada 6: menjawab salam, menghadiri undangan, memberi nasehat, mendoakannya bila bersin, menjenguknya bila sakit, dan mengantarkan jenazahnya" (HR Muslim)


Hak khusus:

- berinteraksi dlm segala hal

Mestinya, saudara sesama muslim kita jadikan teman dlm meniti kehidupan beragama kita. Teman dalam suka dan duka, ada rasa saling memiliki dan memahami. Bahkan berusaha unk mementingkan urusan saudaranya dr urusannya sendiri sbg wujud perngorbanan tulus unk membahagiakan saudaranya.

- menutup aib

Aib saudara sesama muslim wajib disimpan demi menjaga kehormatannya. Ini akan terwujud jk ada kesadaran bahwa aib saudaranya seakan2 aibnya sendiri.

Rasulullah bersabda:

"Tidaklah seorang hamba menutup aib hamba yg lain, kecuali Allah menutupi keburukannya pada hari kiamat" (HR Muslim)


Demikian pula, buruk sangka dan mencari-cari kesalahan saudaranya merupakan perbuatan yang merusak ukhuwah islamiyah. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Jauhilah oleh kalian prasangka, sesungguhnya prasangka itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian saling mencari-cari aib dan saling memata-matai, jangan saling berlomba demi menjatuhkan, jangan saling dengki, jangan saling benci, dan jangan saling membelakangi. Jadilah kalian wahai hamba-hamba Allah, sebagai orang-orang yang bersaudara.” (HR. Bukhari dalam Kitab Adab [6066] dan Muslim dalam Kitab Al-Birr wa Shilah wal Adab [2563]).


Mendiamkan saudara sesama muslim lebih dari tiga hari –tanpa haq- merupakan perbuatan yang dapat merusak kecintaan ini. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam. Ketika mereka berdua bertemu, yang satu berpaling dan yang satunya lagi juga berpaling. Yang terbaik di antara mereka berdua adalah yang memulai mengucapkan salam.” (HR. Bukhari dalam Kitab Adab [6077] dan Muslim dalam kitab Al-Birr wa Shilah wal Adab [2560]). Dalam riwayat Muslim, Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma meriwayatkan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal bagi seorang yang beriman mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. (HR. Muslim dalam Kitab Al-Birr wa Shilah wal Adab [2561]).



*.:。✿*゚゚・✿.。.:**.:。✿*゚゚・✿.。.:**.:。✿*゚゚・✿.。.:*

Rasulullah salallahu'alaihi wa sallam pernah bercerita:


Seorang laki2 berkunjung kepada saudaranya karena Allah. Lalu Allah menyuruh seorang malaikat untuk mengikuti laki2 itu.

Malaikat bertanya 'Mau kemana engkau?',

laki2 itu menjawab 'Aku mau mengunjungi saudaraku, si Fulan'.

Malaikat berkata 'Apakah engkau punya keperluan dengannya?'

Laki2 itu menjawab 'Tidak ada!',

Malaikat berkata 'Apakah ada pertalian kerabat antara engkau dan dia?',

Laki2 itu menjawab 'Tidak!',

Malaikat berkata 'Barangkali ada satu nikmatnya dgn kunjunganmu kepadanya?',

Laki2 itu menjawa 'Tidak!',

Malaikat bertanya 'Kalau begitu apa keperluanmu?'

Laki2 itu menjawab 'Aku menyenangi dia karena Allah'

Malaikat berkata 'Sesungguhnya Allah telah mengutus aku untuk menyampaikan berita padamu bahwa Allah mencintaimu karena engkau mencintainya. Maka Allah telah mewajibkan kamu masuk surga

(HR Muslim)

*.:。✿*゚゚・✿.。.:**.:。✿*゚゚・✿.。.:**.:。✿*゚゚・✿.。.:*



Contoh lain :


Persaudaraan antara suku Aus dan Khazraj ini tidak akan timbul seandainya mereka tidak mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Sebelum mereka mengenal Islam, pertikaian dan permusuhan diantara mereka membawa mereka ke tepi jurang neraka, namun setelah mereka beriman pada Allah dan RasulNya dan berpegang teguh di jalan Allah, Allah SWT berkenan memberikan pertolongan bagi mereka berupa jalinan hati dan persaudaraan sebagai buah ketaqwaan mereka kepada Allah.

Nabi Muhammad SAW bersabda,

"Kebanyakan hal yang memasukkan seseorang ke dalam surga adalah taqwa kepada Allah dan akhlaq yang baik." (HR Tirmidzi dan al-Hakim)


Persaudaraan dan saling mencintai karena Allah merupakan buah dari keimanan yang sangat indah. Orang yang saling mencintai karena Allah akan memperoleh naungan di hari kiamat. Sebuah hadits menyebutkan, saat Abu Idris al-Khaulani berkata kepada Mu'adz, "Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah."


Sungguh sangat indah jika kita bersaudara, berteman dan bersahabat karena Allah SWT. Uhibbukum fillah...Semangat, ceria dan senyum...


Ingatlah olehmu dua perkara, yaitu kesalahanmu kepada orang lain dan kebaikan orang lain kepadamu. Lupakan dua perkara, yaitu kebaikanmu pada orang lain dan kesalahan orang lain kepadamu.



"Disediakan untuk sekelompok orang kursi-kursi di seputar Arsy pada hari kiamat; wajah mereka seperti bulan di malam kemuliaan, orang-orang merasa cemas tetapi mereka tidak merasa cemas, orang-orang merasa takut tetapi mereka tidak merasa takut, mereka adalah para wali Allah yang tidak ada rasa takut pada diri mereka dan tidak merasa bersedih hati." Ditanyakan, "Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?" Nabi SAW menjawab: "Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah." (HR Bukhari-Muslim dan Tirmidzi



Referensi Pustaka :

http://www.forumbebas.com/printthread.php?tid=47486
http://www.mahabbatullah.co.cc/
http://abumushlih.com/kecintaan-karena-allah.html/
Mensucikan Jiwa oleh Sa'id Hawwa
Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam oleh Dr. Abdullah Nashih Ulwan
The Ideal Muslimah oleh Dr. Muhammad Ali Al Hashimi
Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir
Majalah Tarbawi edisi 234 Th.12 Ramadhan 1431H
Pentingkah berpikir Kreatif? oleh Evi Andriani


oleh : Evi Andriani

Ditulis untuk adekku Aty Rahmawati. Semoga tugas kuliahnya cepat selesai ya adek sayang. Hanya ini yang bisa kakak tulis untukmu. Semoga bermanfaat.



Medan, 15 April 2011
blog comments powered by Disqus