bunga

Bencana dan Kualitas Iman



Bencana dan Kualitas Iman

Oleh: Anbar Thea


Dikisahkan, salah satu kaki Urwah bin Zubair salah seorang fuqaha tabi’in, terkena infeksi. Berdasarkan hasil diagnosa para tabib, kaki sosok mukmin penyabar ini harus diamputasi agar tidak menyerang lutut dan pahanya. Juga bisa jadi akan menggerogoti seluruh tubuhnya. Rencana operasi kaki pun dimatangkan. Untuk menghilangkan rasa sakit, para tabib menganjurkan agar pasiennya meminum obat penenang. Anjuran dokter ini ditanggapi dengan kata-kata yang mencerminkan kualitas iman seorang hamba kepada Rabb-nya. Ia berkata, “Tak masuk diakal, bila seseorang yang mengaku dirinya beriman kepada Allah, ia akan meminum obat yang bisa membuatnya tidak sadar sampai-sampai dirinya tidak mengenal Rabb-nya. Biarkan aku shalat dua rakaat karena Allah. Baru usai shalat, silakan kalian memotong kakiku.” Usai shalat, tim medis mulai mengamputasi kaki. Ajaib, Urwah bin Zubair tak sedikit pun meringis, merintih apalagi menangis.


Allah pun menurunkan ujian lainnya. Di malam dirinya diamputasi, putera yang paling ia cintai meninggal dunia. Cara meninggalnya pun sangat tragis. Ia jatuh dari atap rumah. Usai dishalatkan dan dimakamkan, Urwah berkata, “Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Putera-puteraku berjumlah tujuh orang. Engkau ambil satu orang dan menyisakan enam orang. Demikian pula, dulu aku memiliki empat ujung (dua kaki dan dua tangan), sekarang engkau ambil satu dan menyisakan tiga. Sungguh, jika Engkau mengambil. Saat itulah Engkau memberi. Dan andaipun Engkau telah menguji hamba-Mu, Engkau telah mengampuni.” (Dalil As-Sailin, hal. 386)

****

“Indonesia Menangis”. Demikian topik yang menjadi headline hampir seluruh media massa, cetak maupun elektronik plus menjadi buah bibir media mulut ke mulut. Gempa yang disusul Tsunami, memorakporandakan Nangroe Aceh Darussalam. Tak ada yang tersisa, selain masjid-masjid dan mushala-mushala yang masih berdiri kokoh. Sebagai bukti solidaritas, kaum muslimin Indonesia turut menyumbangkan apa saja yang mampu disumbangkan. Ada uang, sembako, pakaian layak dan lain sebagainya. Doa-doa dikumandangkan di setiap kesempatan. Shalat ghaib mendadak diadakan hampir di seluruh pelosok negeri. Derai air mata, isak tangis ‘sedikit’ memupus hingar bingar tahun baruan, yang sudah menjadi tren beberapa elemen masyarakat Indonesia.


Demikianlah. Bangsa ini berduka sekaligus bersatu padu atas bencana yang menimpa masyarakat yang tak kunjung didera nestapa. Mereka itulah, masyarakat muslim Aceh. Masyarakat yang dulu dikenal dengan semangat gigih membela kebenaran, dermawan dalam kebajikan, religi dalam kehidupan dan patuh pada aturan syariat Tuhan.


Sebenarnya, ada bencana yang menimpa manusia seperti dituturkan Syaikh Abul Hamid Hakim yang diperkuat pendapat Ibn Qudamah. Pertama, bencana yang dari awal hingga akhirnya tidak ada kaitan dengan pilihan manusia. Tentu, tak ada seorang pun yang menjadikan bencana sebagai pilihan hidup. Contoh bencana seperti ini adalah, bencana ditinggalkan mati karib kerabat, hancurnya harta benda, pupusnya kesehatan karena sakit dan berbagai bencana yang tak diundang tapi datang seiring sunnahtullah. Allah berfirman, “Segala sesuatu kami ciptakan dengan takdir.” (Al-Qamar: 49)


Di ayat lain, Allah menegaskan, “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum Kami mencipyakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.”(Al-Hadid: 22)


Bencana demikian menimpa seluruh makhluk. Muslim, kafir, munafik, mulhid, ateis, penyembah berhala, pemuja setan dan lain sebagainya. Jika demikian halnya, maka bencana yang menimpa di Aceh dan negeri-negeri lainnya akhir-akhir ini bisa menjadi malapetaka (adzab), bukti kasih sayang Allah (rahmat), ujian (ibtila), teguran (tadzkirah) atau ampunan (maghfirah). Semua bisa terjadi, tergantung dalam kondisi apakah seseorang menerima bencana tersebut.


Seorang anak mengisahkan, dirinya kehilangan neneknya yang tengah shalat dan membaca Al-Qur’an di salah satu masjid. Dalam siaran langsung salah satu teve swasta ditayangkan seorang perwira polisi yang begitu komitmen menghadiri tugas. Begitu pun ada pula yang mati mengenaskan. Hanya Allah yang Mahatahu dalam kondisi apakah mereka diterjang badai. Uniknya, dengan kebesaran Allah, semua mata kita dapat menyaksikan berbagai fenomena mencengangkan dan penuh ibrah dari peristiwa gempa dan badai Tsunami ini. Kita saksikan, orang-orang yang lari pontang-panting menyelamatkan diri dengan berbagai kondisi. Ada yang cuman handukan. Ada yang lengkap berjilbab. Tak sedikit yang tak menutp auratnya.


Insya Allah, bagi sosok muslim yang ketaatan, kesalehan, memiliki militansi dalam berislam. Bencana yang menimpanya justru menjadi bukti kasih sayang Allah atas dirinya. Bagi muslim yang agama belum menjadi akhlak hidupnya, dimana ketaatannya hanya dalam tataran ‘wajar’ dan biasa-biasa saja, mungkin musibah yang menderanya bagian dari ampunan Allah atas dirinya. Bagi muslim yang tengah berusaha mengejar ketertinggalan dirinya dalam ketaatan terhadap Allah dan agama-Nya, tak menutup kemungkinan bencana sebagai mozaik dari ujian atas mujahadah dirinya. Sedang bagi muslim yang nun jauh dari terpaan badai Tsunami dan gempa atau selamat dari malapetaka, menjadi bukti Allah menegur dirinya. Allah hanya menurunkan siksa (adzab) kepada muslim yang membangkang, kaum musyrikin, mengkufuri ketauhidan, menyekutukan Allah dan mereka yang bergelimang dosa dan maksiat.


Kedua, bencana yang ada kaitannya dengan pilihan (ikhtiyar) manusia. Bisa jadi bencana yang dimaksud memang sengaja diciptakan, atau atas dasar kelalailan dan bisa pula dilatarbelakangi ketamakan. Bila puluhan ribu lebih masyarakat Aceh tersapu gelombang Tsunami dan gempa. Bukankah jutaan rakyat Indonesia terhimpit kehinaan, dilanda kemiskinan, diserbu kelaliman dan tertindih ketidakberdayaan akibat ulah segelintir pejabat korup dan birokrat amoral yang memperdagangkan harga diri bangsa demi keuntungan pribadi dan kelompoknya? Bila ribuan anak-anak Aceh menjadi yatim dan papa karena Tsunami dan gempa, bukankah jutaan anak-anak Indonesia menjadi anak-anak yang bukan saja kehilangan orang tua atau keluarga, tapi kehilangan harapan dan masa depan berkat kerakusan aparat dan para pejabat yang sibuk mempercantik keluarga tak peduli menelantarkan rakyat banyak?


Jelas, badai bencana kedua lebih dahsyat daripada bencana pertama. Inilah yang patut sama-sama kita tangisi. Bangsa ini telah kehilangan jati diri dan harga dirinya sekaligus. Semua bermula dari bencana yang menimpa bangsa ini, melalui tangan-tangan para penguasa lalim, amoral dan tak berperikemanusiaan. Jelas tulisan ini tidak dimaksudkan menganggap remeh apa yang menimpa saudara-saudara di Aceh. Tapi hanya ingin memperjelas kerugiaan yang diderita bangsa Indonesia akibat badai kedua, jauh lebih besar daripada bencana alam.


Jika mantan Wapres Jusuf Kalla memperkirakan kerugian yang diakibatkan gempa dan Tsunami adalah 1 triliyun, pertanyannya, berapa ratus trilyun uang rakyat yang seharusnya digunakan untuk mensejahterakan rakyat digerus para pejabat, aparat dan konglomerat?


Kesabaran memang kunci solusi dari kedua bencana di atas. Sebagai muslim, saat ditimpa musibah diajarkan untuk mengucapkan “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un”. Sungguh kami milik Allah dan hanya kepada-Nya kami kembali. Ungkapan yang oleh Rasyid Ridha disarankan saat pengucapannya benar-benar penuh penghayatan dan kesadaran akan kondisi diri dan tuntutan iman. Artinya, bila bencana yang datang adalah bencana pertama, maka tak ada daya dan upaya kita selain kembali merengkuhkan badan dan menapikan kesombongan diri dalam taubat nasuha. Namun bila yang menimpa adalah bencana kedua, selain kita bersabar dan bertaubat, kita harus sama-sama berusaha menolak dan menghilangkan bencana tersebut. Agar harta, kehormatan dan hak-hak terjaga.


Oleh karena itu, sudah saatnya kita mengamputasi satu generasi bangsa ini. Kita singkirkan mereka biangkerok yang acap menimpakan bencana kepada bangsa ini. Bencana hutang, bencana inflasi, bencana pengangguran, bencana kemiskinan, bencana pembodohan, bencana dusta, bencana kemunafikan dan bencana-bencana lainnya yang mengakibatkan kita ‘sulit bernafas’. Caranya, seperti yang dilakukan Urwah bin Zubair, kita laksanakan shalat dua rakaat. Artinya, jadikan pribadi-pribadi kita kembali mentaati Allah dan Rasul-Nya dan mengejawantahkannya dalam tatanan kehidupan. Bila ini dilakukan, kita takkan merasakan rasa sakit sedikit pun saat penyakit yang terus menggerogoti bangsa ini kita singkirkan. Wallahu A’lam.


********************************************************************************


Semoga apa yang evi share kan kepada semua sahabat, dapat menjadi bahan perenungan kita semua. Setiap kejadian yang kita alami dapat diambil ibrah atau pelajarannya yang dapat membuat kita menjadi lebih baik dari sebelumnya, semakin mencintai Allah dan Rasul-Nya sehingga hati dan jiwa selalu bersih untuk mendekatkan diri kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.


Diambil contoh tsunami Aceh sebagai salah satu bahan perenungan, karena saat terjadi kejadian ini, saya sendiri di Medan, merasakan gempa berulang-berulang sangat kuat yang kemudian berujung tsunami. Begitu dahsyatnya perhatian dunia terhadap bencana ini.



“Allahumma inna laa nas'aluka raudhal qadha walakinna yutfaqih

(Ya Allah hamba bukan menolak takdir-Mu karena semua takdir-Mu adalah yang terbaik, tetapi berikan kecerdasan hamba untuk menangkap, menterjemahkan bahasa hikmah di balik ayat-ayat takdir-Mu)


Subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallaah wallaahu akbar
.

(Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan yang pantas disembah kecuali Allah dan Allah Maha Besar)


Sahabatku semua dimanapun berada, Evi mohon maaf jikalau evi ada kesalahan dalam penulisan, ucapan ataupun perbuatan yang membuat sahabat-sahabat evi tersinggung, terluka ataupun tersakiti karena evi hanyalah hamba Allah yang tidak sempurna masih melakukan kesalahan-kesalahan dan berusaha menjadi pribadi yang baik nan sholehah. Semoga kita semua senantiasa selalu berdzikir kepada-Nya setiap detik-detik hidup dan nafas kita.


Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh

~Evi A.~

Medan, 26 September 2010