Dokter Harus Senang Membaca, Jika Tidak, Kesehatan Pasien Terancam

**Dokter Harus Senang Membaca, Jika Tidak, Kesehatan Pasien Terancam**

Saat saya sedang memandang foto indahnya bunga anggrek yang sedang mekar di profil ßßM Evi, saya dikejutkan oleh sebuah berita duka.

Malam itu, 11 November pukul 20.00 WIB, hatiku menjadi sedih. Seorang pasien yang baru saya jenguk akhirnya menghadap Allah swt. Ayu Nurul Rohmah, namanya. Umurnya 21 tahun. Menderita sebuah penyakit unik, ITP sebutannya.

Sebelumnya Ayu pernah dirawat lebih dari seminggu di salah satu RS Swasta tapi ga ada perkembangan. Lalu sang kakak laki-laki Ayu berusaha searching di internet, ketemulah blog Evi dan meng-SMS Evi untuk tanya-tanya tentang sakit autoimun ini.

Dahulu menurut para dokter dan bisa jadi sampai sekarang, ITP dikatakan penyakit autoimun yang ringan dan sedikit yang meninggal. Tetapi pada kenyataannya jika para dokter tahu, banyak juga pasien ITP meninggal, sama seperti lupus.

Banyak faktor penyebab meninggalnya yang saya lihat terjadi, diantaranya paling sering karena pengobatan tidak tepat, kurang update-nya para dokter dalam mengkaji penyakit darah ini, sehingga pasien menjadi komplikasi atau parah sakitnya.

Sama seperti kondisi Ayu. Saat itu saya baru sampai di Jakarta. Kakak laki-laki Ayu meminta saya untuk langsung jenguk beliau di RS Swasta di Tangerang. Ini kedua kalinya Ayu masuk. Setelah sebelumnya tanpa hasil, ia telah habis puluhan juta.

Namun saya menolak untuk jenguk Ayu, karena saya masih capek. Tidak mungkin, saya baru tiba di bandara Sukarno Jakarta, langsung ke Tangerang. Belum lagi perjalanan yang cukup jauh. Akhirnya Sabtu saya menjenguknya. Karena Jumat saya sudah ada janji dengan teman untuk ketemuan.

Ketika saya menjenguknya di RS, sungguh benar-benar saya kecewa dengan pengobatan dokter ini. Beliau hanya berikan injeksi 125ml methylprednisolone sampai lambungnya sakit. Beberapa hari kemudian baru dikasih mucosta. Padahal yang namanya obat anti radang seperti methylprednisolone, itu memang harus dipasangkan dengan obat lambung. Karena menyangkut efek sampingnya.

Selain itu tidak ada pemberian vitamin zat besi, padahal hb-nya turun. Parah menurut saya. Tiba udah rendah jadi 7 baru transfusi darah. Itu pun mau ditransfusi lagi trombosit 10kantong.

Yang saya herannya lagi, mulut si pasien ini dan gusinya bengkak seperti terserang jamur, pun tidak diberikan obat. Biasanya dokter yang biasa merawat saya dan pasien autoimun lainnya diberikan resep fluconazol.
Dan kalau sudah lumayan berat gitu radangnya, oleh dokter yang merawat saya dikasih injeksi dexamethasone, jadi bukan injeksi methylprednisolone seperti yang diberikan oleh dokter di RS Swasta Tangerang tersebut.

Pernah saya cari tahu, kenapa dokter spesialis saya beri injeksi dexamethasone ketika radang saya parah dulu di RS. Ketemu jawabannya di The New England Journal of Medicine, bahwa dexamethasone cukup efektif untuk menekan radang ITP.

Berikut sebagian isi jurnalnya:
"Initial Treatment of Immune Thrombocytopenic Purpura with High-Dose Dexamethasone"

Yunfeng Cheng, M.D., Raymond S.M. Wong, M.B., Ch.B., Yannie O.Y. Soo, M.B., Ch.B., Chung Hin Chui, Ph.D., Fung Yi Lau, Ph.D., Natalie P.H. Chan, M.B., Ch.B., Wai Shan Wong, M.B., Ch.B., and Gregory Cheng, M.D., Ph.D.
N Engl J Med 2003; 349:831-836August 28, 2003DOI: 10.1056/NEJMoa030254


Results

Of 157 consecutive patients, 125 were eligible. The mean (±SD) platelet count before treatment was 12,200±11,300 per cubic millimeter. A good initial response to high-dose dexamethasone occurred in 106 of the 125 patients (85 percent): the platelet count increased by at least 20,000 per cubic millimeter by the third day of treatment, and the mean platelet count was 101,400±53,200 per cubic millimeter (range, 50,000 to 260,000 per cubic millimeter) one week after the initiation of treatment. Among the 106 patients with a response, 53 (50 percent) had a sustained response; the other 53 (50 percent) had a relapse within six months, most of them (94 percent) within the first three months. A platelet count of less than 90,000 per cubic millimeter on day 10 was associated with a high risk of relapse. The treatment was well tolerated.

Conclusions

A four-day course of high-dose dexamethasone is effective initial therapy for adults with immune thrombocytopenic purpura.

Ah, ternyata membaca membuat kita banyak tahu hal. Kadang dokter saya bilang, "Evi, kamu ini sebenarnya sudah seperti dokter". Saya senang sekali dengan dokter saya, yang selalu menyuruh saya untuk belajar dan memberikan materi yang bisa saya pelajari khususnya ITP dan lupus.

Namun, Sabtu kemarin saya cukup sangat kecewa banget. Karena memang pengobatannya hanya injeksi methyl itu saja padahal sakitnya sudah kompleks. Trus hanya juga ditambah transfusi darah terus-terusan.

Saya ingat sekali nasihat dokter yang merawat saya bahwa pada penyakit autoimun, paling penting adalah menekan radang dan juga menekan autoimunnya. Bila ada komplikasi lain, baru ditambahkan obat lainnya sesuai keluhan pasien.

Saya lihat keadaan Ayu dengan pengobatan ga tepat tersebut semakin parah dan melemah; lalu saya minta Ayu dibawa ke dokter lain. Saya beri Ayu semangat. Namun, sebelum Ayu dibawa ke dokter lain, ternyata Ayu mengalami pendarahan di mata, dan malamnya Ayu meninggal.

Innalillahi wa innailahi raji'un, atas meninggalnya Ayu Nurul Rohmah.
Allaahumma firlaha warhamha wa'aafihi wa'fuanha, wa akrim nujulaha, wawassi'madkholaha wagsilha bilmaa-i. Allahuma aamiin. Al-fatihah...

Al baqa'u lillah, semoga Almarhum mendapat tempat terbaik di surga-Nya dan semoga keluarga yang ditinggalkan selalu diberi ketabahan oleh Allah 'Azza wa Jalla. Aamiin

Selamat jalan Ayu. Doa Mba Evi selalu menyertaimu. Senang sekali mngenal keluarga Ayu yang ramah. Saya tuh paling senang sekali ketika ketemua banyak orang yang baik. Bayangkan saja, saat salah satu keluarganya menjemput saya di rumah, saya begitu berani menerima tawarannya untuk ketemu dan jenguk pasien. Padahal kenal juga baru lewat SMS dan telpon. Karena saya merasa terpanggil untuk melihat ini pasien. Walaupun lelahnya saya luar biasa. Dari Kebayoran Lama ke Tangerang itu cukup jauh. Untuk pertama kalinya saya kunjungi kota ini.

Terima kasih ya Allah, Engkau berikan hamba banyak saudara, salah satunya melalui ukhuwah lewat sakit autoimun ini.

Selamat Hari Kesehatan Nasional.
Buat para dokter, hanya satu yang kuharapkan untuk selalu haus ilmu. Bila tak sanggup memikul atau ragu, jangan berani untuk coba-coba apapun ke pasien, sebaiknya dialihkan kepada dokter yang lebih ahli lagi.
Untuk kita sebagai masyarakat umum ataupun pasien, haruslah menjadi pasien yang cerdas.

Banyak ilmu bertebaran di internet. Jangan pernah bosan untuk searching. Banyak ilmu bermunculan juga lewat buku, maka jangan bosan untuk membaca.

Saya tidak ingin menyalahkan dokter, saya hanya ingin para dokter untuk terus professional di bidangnya. Karena engkau, para dokter, juga sangat kita butuhkan dibidang kesehatan. Apa jadinya jika pasiennya suatu saat lebih cerdas dari dokternya? Tentu saja pengobatan tiap dokter berbeda, itu sudah pasti. Namun, yang terpasti adalah pengobatan yang tepat. Apapun merk obatnya. Harus tepat dan sesuai yang dialami pasien.

Salam santun,
~Evi A.~
(ITP&Lupus Survivor)
Kebayoran Lama, 12 November 2013
http://eviandrianimosy.blogspot.com/

Gambar Makam Ayu



Like · · Unfollow Post · Share · Edit · Promote · 12 November · Edited ·