'Angin Segar' Pendidikan Beradab

Institusi pendidikan Islam semestinya berada di garda terdepan dalam memproduk manusia beradab agar bisa membangun peradaban Islam yang bermartabat. Namun, masalahnya sisitem dan paradigma pendidikan Indonesia yang 'bercorak' materialis saat ini cenderung menghasilkan cendekiawan yang pragmatis.


Sistem pendidikan nasional kita yang mengandalkan kemampuan kognitif bagi siswa, jelas memberi ruang sempit terhadap pengembangan adab. Beberapa praktisi pendidikan berpikir, pendidikan adab itu cukup terwakili dalam pelajaran agama seminggu sekali. Cara pandang seperti itu menandakan bahwa konsep adab belum dipahami secara baik.

Disamping pemahaman yang kurang baik tentang konsep adab, sistem yang berlaku pun cenderung kepada kognitif dan antroposentris. Padahal konsep ini adalah konsep pendidikan perspektif Barat. Bagi barat, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana memaksimalkan potensi manusia dan memanusiakan manusia. Dari sisi ini konsep tersebut bisa kita terima, akan tetapi konsep tersebut menafikan pendidikan pengenalan terhadap diri dan terhadap Tuhannnya.

Ketiadaan adab (the lose adab) bagi KH. Hasyim Asy’ari-seorang tokoh pendidikan pesantren di indonesia- berkonsekuensi berat terhadap kualitas ketauhidannya. Dalam kitabnya, Adabul Alim wal-Muta’allim, Kyai Hasyim mengintegrasikan antara adab dan iman. Barangsiapa yang tidak beradab maka sebenarnya ia tidak bersyari’at, tiada iman, dan tiada tauhid dalam dirinya.

Cukup menarik pemikiran KH. Hasyim Asy’ari tentang adab tersebut. Jika disimpulkan, manusia beradab – bukanlah sekedar mempraktikkan akhlak – lebih dari itu, insan adabi (individu beradab) adalah sebenarnya manusia mu’min-muttaqi. Jika direlevansikan dengan teori Imam al-Ghazali, insan adabi yang dimaksud KH. Hasyim Asy’ari adalah manusia yang ya’rifu bi nafsihi dan ma’rifatullah.

Manusia beradab (insan adabi) adalah individu yang sadar sepenuhnya akan sisi individualitasnya dan hubungannya yang tepat dengan diri, Tuhan, masyarakat, dan alam yang nampak maupun yang ghaib. Insan adabi ini lah yang disebut individu yang baik.

Dengan pemahaman seperti itu, maka tepatlah apa yang digagas Prof. Najib al-Attas bahwa terma yang tepat dan benar untuk membawakan konsep pendidikan Islam adalah ta’dib bukan ta’lim atau tarbiyah. Karena substansi ta’lim dan tarbiyah terdapat dalam pendidikan ta’dib.

Secara sederhana konsep ta’dib (pendidikan beradab) adalah bahwa pengajaran dan proses mempelajari dengan menekankan pada penanaman ilmu dan adab. Konsep ta’dib memiliki kekuatan sejarah, yakni mengambil pelajaran dari hadis Nabi “Addabaniy Rabbi fa ahsana Ta’dibi” (HR. Ibnu Mas’ud dalam al-Jami’ al-Shaqhir). Kata addabani dalam hadis tersebut tidak sekedar bermakna akhlak. Pendidikan Rasulullah SAW dalam hal ini menjadi contoh dalam konsep ta’dib.

Akitivitas Nabi SAW berupa pengajaran al-Qur’an dan hikmah serta penyucian umat adalah manifestasi langsung dari peranan ta’dib. Dengan demikian, adab secara konseptual telah idisi dengan ilmu dan perbuatan dan terlibat aktif dalam wacana intelektual.

Secara lebih jelas, adab adalah pengenalan dan pengakuan terhadap realitas bahwasannya ilmu dan segala sesuatu yang ada terdiri dari hierarki yang sesuai dengan kategori-kategori dan tingkatannya, dan bahwa seseorang itu memiliki tempatnya masing-masing dalam kaitannya dengan realitas, kapasitas, potensi fisik, intelektual dan spiritual.

Adab yang dimaksud di sini, adalah sebuah konsep yang mewarnai dan selalu hadir dalam tiap aktifitas fakir manusia dan di tiap ilmu yang dipelajarid manusia. Adab terhadap diri adalah pengakuan bahwa dirinya terdari dari dua unsur yaitu akal dan sifat-sifat hewaniyah. Manusia beradab, meletakkan dirinya pada tempatnya, yakni menggunakan akal yang telah terisi iman untuk membuang sifat-sifat kebinatangan tersebut.

Dalam konteks hubungan dengan manusia lain, adab dimaknai norma-norma etika yang didiasarkan pada posisi seseorang. Hal itu diwujudkan dalam bentuk misalnya sikap, rendah hati, kasih sayang, hormat, peduli dan lain sebagainya.

Dalam konteks ilmu, adab berarti disiplin intelektual yang bisa membaca mana ilmu-ilmu yang menjadi prioritas dan mana yang menjadi prioritas nomor dua, mengaitkan semua ilmu dengan etika dan juga memperlakukan seorang ilmuan sesuai dengan kapasitasnya. Adab ini akan menghasilkan cara tepat dan benar dalam belajar dan penerapan berbagai bidang sains.

Dalam kaitannya dengan alam, adab berarti seseorang bisa membuat keputusan yang tepat mengenai nilai-nilai dari segala sesuatu, baik dalam konteksnya sebagai tanda-tanda Tuhan, sumber ilmu pengetahuan, maupun sebagai sesuatu yang berguna bagi pengembangan ruhani dan jasmani manusia.
Sedangkan adab dalam spiritual berarti pengenalan dan pengakuan terhadap tingkat-tingkat keluhuran yang menjadi sifat alam spiritual, pengenalan dan pengakuan terhadap disiplin spiritual dengan benar serta membungkus jiwa dan fisiknya dalam aktivitas ibadah.

Dengan pemahaman adab seperti di atas maka, bagi al-Attas, konsep ta’dib adalah kosep ideal bagi pendidikan Islam. Karena dalam ta’dib sudah mencakup kegiatan ta’lim, dan tarbiyah. Ibnu Maskawih mengatakan ta’dib menunjukkan pendidikan intelektual, spiritual, dan sosial. Tarbiyah, hanya berkatian dengan pengembangan fisikal dan emosional manusia. Ta’lim juga cenderung pada pengajaran dan pendidikan kognitif.

Jadi dalam konsep ta’dib, cakupannya lebih luas dan dalam. Sehingga dalam materi fisika atau biologi misalnya, siswa tidak hanya mempelajari teori-teori kealaman saja, dalam konsep pendidikan beradab, siswa juga diajari mengenal kekuasaan Allah melalui teori sains tersebut. Tentunya pada saat yang sama ia belajar ilmu-ilmu agama, seperti tafsir.

Dengan konsep tersebut, ilmu yang diperoleh diharapkan diamalkan secara baik dan tidak disalahgunakan secara bebas. Karena ilmu tidak bebas nilai, akan tetapi ilmu itu sarat nilai (value laden). Atas dasar inilah, maka pemilikan ilmu pengetahuan dan teknologi saja tidak cukup, akan tetapi harus dilengkapi dengan adab. Bila tidak, akan mengakibatkan kesalahan dalam penggunaannya.

Penjelasan di atas meyakinkan kita bahwa pemikiran tentang manusia beradab dari Imam al-Ghazali dan KH. Hasyim Asy’ari sangat relevan jika diinternlisasikan ke dalam sisitem dan kurikulum pendidikan nasional. Mengingat, kurikulum dan sistem pendidikan nasional yang beberapa dekade silih berganti, belum membawa perubahan berarti terhadap penciptaan individu-individu dan masyarakat yang beradab.

Dalam satu sisi, kita tidak bisa menolak – bahwa ada kemajuan-kemajuan intelektual. Akan tetapi, prestasi-prestasi siswa yang berhasil menggondol emas dalam olimpiade sains tingkat dunia juga tidak bisa menutupi fakta-fakta miring tentang kebobrokan pendidikan.

Fakta-fakta negatif itu juga berkait langsung dengan sistem yang belum memberi porsi signifikan untuk pengembangan adab di tiap materi pelajaran. Belajar dari konsep ilmu Imam al-Ghazali, yang membagi ilmu secara hirearkis – ilmu fardlu ’ain dan fardlu kifayah, semestinya setiap materi, apapun mata pelajarannya selayaknya mengaitkan dengan ilmu fardlu ’ain.

Sebab, dalam ilmu fardlu ’ain inilah konsep adab diajarkan secara komprehensif dan secara integral konsep-konsep adab tersebut akan mengontrol ilmu-ilmu fardlu kifayah – seperti ilmu matematika, biologi, kimia, fisika, sosiologi dan lain sebagainya.

Gagasan yang hendak dicapai oleh Imam Ghazali dalam pembagian ilmu secara hirearkis tersebut adalah agar, seorang pencari ilmu-ilmu fardlu kifayah tetap terjaga kefitrahannya sebagai manusia beriman. Sehingga, ia pun menjadi cendekiawan-cendekiawan yang setiap kerja-kerja ilmiahnya dilandasi tauhid dan cara pandang islami (tasawwur al-Islamiy).

Matematikawan yang faqih, dokter yang mufassir, sosiolog yang muhaddis – begitulah kira-kira yang diinginkan oleh Imam Ghazali. Individu-individu yang seperti ini dapat dicontohkan dalam sosok Imam Fakhruddin al-Razi – penulis kitab tafsir Mafatihul Ghaib. Ia tidak sekedar mufassir kenamaan, tetapi ia menulis berjilid-jilid kitab kimia, matematika, biologi dan kedokteran.

Baik al-Ghazali maupun KH. Hasyim Asya’ri dalam karya-karyanya tentang ilmu, mengesankan beliau berdua menawarkan sebuah paradigma pendidikan manusia beradab. Yang hendak digagas beliau adalah sebuah paradigma pendidikan adabi.

Paradigma, dalam istilah Thomas S. Kuhn, ilmuan Barat yang pertama kali menggunakan istilah ini berpendapat bahwa paradigma adalah cara pandang ilmuan yang terbangun dalam berbagai kerangka teori dan konsep-konsep untuk memahami alam. Sebuah paradigma, menentukan dan mengontrol aktivitas-aktifitas ilmiah.

Maka, dengan pemahaman tersebut kita bisa memahami mengapa yang digagas oleh al-Ghazali adalah paradigma pendidikan adabi. Paradigma pendidikan adabi inilah yang menentukan arah pembelajaran seorang murid. Dari sini, semakin jelas bahwa memasukkan konsep pendidikan beradab dalam sistem dan kurikulum menjadi hal yang mendesak untuk direalisasikan pada saat ini. Tentu, hal ini akan menjadi angin segar baru dalam metode pendidikan Islam di Indonesia. Dengan penyegaran, diharap akan lahir otak-otak segar yang bisa membawa angin baru menuju peradaban yang bermartabat. Wallahu a’lam bisshowab.

Februari, Kampung Perdamaian, 2010
by: --->Zahir Nawwab<----

dari : sahabatku Kholili Hasib