Subhanallah.. Indahnya dakwah Rasulullah...


Mulianya Dakwah Rasulullah SAW…

Bismillahirrahmanirrahiim..

Malu rasanya bercermin kembali pada segala ketidak sabaran, kelalaian, dan kesombongan yang terbentuk dengan atau tanpa disadari…
Kita refreshment yuk dengan betapa indah dan sabarnya Rasulullah dalam berdakwah, bahkan terhadap orang yang kurang pandai sekalipun…

Karin dapet tulisan bagus dari Sahabat KARIM (Kajian Remaja Muslim di Facebook) artikelnya bagus – bagus deh. Kalo tertarik buat join boleh langsung ke:
KARIM (Kajian Remaja Muslim di Facebook)

Buat yang belum join, ini salah satu tulisan dari Sahabat KARIM tadi… Semoga bermanfaat… :)
------------------------------------------------ o0o --------------------------------------------------

Dakwah terhadap orang Awam.. Berdakwahlah dengan lemah lembut


Memang, marah karena Allah termasuk hikmah. Bahkan, tanda keimanan seseorang pun ditandai dengan marah dan benci karena Allah. Yaitu, marah dan benci terhadap kekufuran, kebid’ahan dan kemaksiatan.

##TETAPI bersabarlah! Kendalikan emosi. Siapa tahu mereka itu orang-orang bodoh yang membutuhkan pelajaran. Kalau itu yang terjadi, ajarilah mereka dengan lemah lembut!##

Anas bin Malik radhiyallahu `anhu pernah mengatakan : “Aku pernah berjalan bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam saat beliau mengenakan jubah dari Najran yang kasar tepinya. Tiba-tiba datanglah seorang Arab gunung dan menarik jubah beliau secara keras. Akibat perbuatannya itu, aku melihat bekas tarikan tersebut pada sisi pundak beliau. Kemudian dia (orang Arab gunung itu) berucap : 'Wahai Muhammad, perintahkanlah, bahwa harta Allah yang ada padamu untukku.'
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam melihat kepadanya dan TERSENYUM seraya memerintahkan untuk MEMBERIKAN harta kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)



##Subhanallah...Sungguh mulia akhlaqmu ya Rasulullah##^^

Demikian pula sikap Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam terhadap seorang pemuda yang meminta ijin untuk berzina. Seperti diungkapkan Abu Umamah : “Sesungguhnya pernah ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu `alaihi wa sallam mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, IJINKANLAH AKU BERZINA...!!.’ Saat itu, orang-orang yang ada di situ membentaknya seraya mengatakan, ‘Mah, mah!’ Sementara Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menyuruh pemuda itu untuk mendekat.
‘Mendekatlah,’ ajak beliau. Pemuda itu pun mendekat. Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bertanya, ‘SUKAKAH engkau kalau hal ini terjadi pada ibumu?’ ‘Tidak, demi Allah, aku sebagai jaminanmu,’ jawabnya. ‘Demikian pula halnya setiap manusia pasti tidak menyukai hal itu terjadi pada ibu-ibu mereka,’ jelas Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam kepada pemuda itu. Kemudian beliau ajukan pertanyaan lagi, ‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada anak perempuanmu?’ Ia Jawab, ‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan diriku sebagai jaminanmu’ Beliau jelaskan lagi, ‘Demikian pula manusia tidak menyukai hal itu terjadi pada anak perempuan mereka.’ Kemudian beliau tanya, ‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada saudara perempuanmu?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu’ Lalu beliau bersabda, ‘Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada saudara-saudara perempuan mereka.’ ‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada bibimu (ammah / saudara perempuan bapak)?’ Tanya beliau kembali. Dijawabnya, ‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu’ Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam nyatakan, ‘Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada bibi mereka.’ Beliau berikan lagi pertanyaan, ‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada bibimu (khalah / saudara perempuan ibu)?’ Jawab pemuda itu, ‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu.’ Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menuturkan, ‘Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada bibi (khalah) mereka.’ ” Selanjutnya Abu Umamah menyatakan : “Maka Rasulullah meletakkan tangannya kepada pemuda itu seraya mengucapkan :
‘Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya dan peliharalah kemaluannya.’ " (Kisah ini dinukil dari HR. Ahmad dan Thabrani, disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah no. 370)

Contoh lain adalah kisah Muawiyah bin Al-Hakam As-Sulami, yang mengatakan :
“Ketika aku shalat bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, tiba-tiba ada seseorang dari satu kaum yang bersin. Maka aku mengucapkan yarhamukallah. Ketika semua orang melemparkan pandangannya kepadaku, sehingga aku berkata : 'Duhai ibuku yang kehilangan aku, ada apa kalian melihatku?' Mereka lalu menepuk tangan mereka ke pahanya. Ketika aku lihat, mereka menyuruh aku diam, lantas aku pun diam. Setelah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam selesai shalat --dengan bapak dan ibuku-- sungguh aku belum pernah melihat seorang pengajar pun yang lebih baik pengajarannya dari beliau shallallahu `alaihi wa sallam. Demi Allah, beliau TIDAK MEMBENTAKKU, TIDAK MEMUKULKU, dan TIDAK PULA MENCELAKU. Beliau bersabda:
'Sesungguhnya di dalam shalat ini tidak layak sedikit pun ada ucapan manusia. Sesungguhnya shalat adalah tasbih, takbir dan bacaan Al Qur’an.' " (HR. Muslim dalam kitab Masajid bab Tahrimul Kalam fish Shalah)

Tidak hanya sampai di sini, kesabaran Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam terhadap orang-orang bodoh. Bahkan, dalam riwayat Bukhari masih berlanjut kisah orang Arab gunung tersebut. Yaitu, ketika Rasulullah dan para shahabat shalat bersamanya, maka orang tadi berdoa dalam shalatnya, “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad dan janganlah engkau rahmati seorang pun selain kami."
Maka ketika selesai shalat beliau bersabda, "Sungguh engkau telah mempersempit yang luas."
Yang dimaksud adalah rahmat Allah yang luas.

Kelembutan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam pun ditunjukkan pula terhadap seorang Arab gunung lainnya yang kencing di masjid. Anas bin Malik mengisahkan : “Ketika kami berada di masjid bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang Arab kampung. Orang itu lantas berdiri dan kencing di masjid. Maka (bangkitlah) para shahabat Rasulullah membentaknya seraya membentak, ‘Mah, mah!’ Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam lantas mencegah para para sahabat sambil bersabda, ‘Jangan kalian putuskan kencingnya. Biarkan dia.’

Maka para shahabat pun membiarkannya sampai ia selesai. Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam memanggilnya dan menasehatinya, ‘Sesungguhnya masjid ini tidak patut sedikit pun untuk tempat buang air, (begitu pula) buang untuk kotoran. Masjid ini merupakan tempat untuk berdzikir kepada Allah, shalat dan membaca Al Qur’an.’
Kemudian beliau memerintahkan untuk mengambil seember air dan menyiramkannya.” (HR. Muslim)

DEMIKIANLAH, BEGITU HIKMAHNYA DAKWAH RASULULLAH...^^

Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menyikapi seorang yang memang bodoh, membutuhkan pengajaran dan pendidikan. Ketika orang Arab gunung itu setelah faqih (memahami agama) dia katakan, “Ayah dan ibuku sebagai jaminan. Sungguh Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bangkit kepadaku tanpa mencela, menghardik atau pun memukulku.”

Selain itu kita juga dapati sifat ta`anni beliau shallallahu `alaihi wa sallam ketika para shahabat membentak si orang gunung tersebut. Beliau malah mengatakan, “Biarkan dia”. Hal itu karena beliau berfikir dan melihat sisi hikmah, yaitu jika dibentak dan diganggu ketika dia sedang buang air, akan membawa dampak negatif yang lebih banyak. Bisa jadi najis dari kencingnya akan berceceran di tempat yang lebih luas, atau najis itu bisa saja mengenai pakaiannya. Bahkan, justru akan menjadikan penyakit bagi orang tersebut karena menahan kencing dan lainnya.

Demikianlah semestinya sikap seorang mukmin, apalagi dia seorang da’i. Janganlah segera bersikap emosional, bersifatlah ta`anni. Perlakukanlah orang-orang awam dan jahil dengan sabar serta ajarilah mereka dengan lemah lembut.

Adapun orang-orang bodoh yang tidak mau mengerti perkataan orang, tinggalkanlah dan hindarilah dia dengan baik dan ucapkanlah ucapan yang baik. Allah berfirman dalam mengungkapkan sifat hamba-hamba-Nya :

“Hamba-hamba Allah yang Maha Rahman adalah orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati. Jika orang-orang bodoh mengajak bicara mereka, mereka mengucapkan perkataan yang baik” (Al-Furqan: 63)

Dikisahkan dalam sebuah riwayat, seorang mencela orang lain kemudian orang yang dicela tersebut mengatakan alaikas salam (semoga keselamatan atasmu). Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam yang mendengar ucapan itu langsung menegur, “Ketahuilah, sesungguhnya malaikat (yang menyaksikan) di antara kalian berdua membelamu. Setiap dia mencelamu malaikat itu berkata, ‘Bahkan engkau! Engkau lebih berhak dengannya!’ Sedang ketika engkau mengucapkan kepadanya, 'alaikas salam,' malaikat itu berkata, ‘bahkan atasmu! Engkau lebih berhak dengannya.' " (HR. Ahmad 5 / 445, Kata Ibnu Katsir sanadnya hasan. Lihat Al-Hikmah hal. 61)

Wallahu ‘a’lam (Dikutip dari tulisan al Ustadz Muhammad Umar as Sewed, judul asli Menyikapi Orang Awam. Url sumber Menyikapi Orang Awam
Diringkas oleh: Abu Falih
------------------------------------------------ o0o --------------------------------------------------

Hmm… gimana refreshment kali ini? :)
Dari Karin sendiri, bahasa sederhananya, amazed sama tulusnya Rasulullah dalam berdakwah.. begitu bersihnya cinta itu sehingga dengan (Subhanallah) baiknya beliau menjaga emosinya, berpikir dengan jernih, yang pada akhirnya membawa kebaikan.

Tiba –tiba teringat sebuah tulisan ntah dari di mana bacanya, yang jelas bikin hati ngilu, bagaimana sebagian dari kita mungkin mengimplementasikan ‘Uhibbukum Fillah’ terbatas hanya untuk yang “ber-title Akhwat Ikhwan” tanpa menyadari bahwa Akhwat Ikhwan tidak terbatas pada aktivis… bahwa Ukhuwah dalam Islam tidak didiskriminasikan berdasarkan keterlibatannya dalam liqo’ atau halaqah… Kira – kira kenapa ya? ^^

Mungkin memang lebih mudah merasakan ukhuwah itu ketika kedua belah pihak memahami apa itu dan bagaimana ukhuwah. Tapi lagi – lagi, sulit bukan berarti tidak mungkinkan?
Yuk, strive untuk menyempurnakan keimanan kita… ^_^ Kita belajar mencintai semua saudara kita sesama Muslim.. Kita belajar dari Rasulullah SAW bagaimana beliau pun berdakwah dengan penuh kasih sayang dan cinta... semuanya semata - mata lillahita'ala...

Wallahu'alam.

_yang mau mid test dalam 17 jam ke depan_*perlu refreshment…. :)
Auckland, in the beginning of Autumn…


------- Memory di sudut kota awal musim gugur ------------------

……… : “………”
…….. : “Dalami dulu, apa alasan buat ‘ini’? Apa alasan buat nasehat.. Adakah hanya karena keharusan? Adakah terpaksa? Ada sesuatu yang indah yang jangan sampai terlupa.. dalam dakwah ada unsur kasih sayang. Rasa sayang terhadap Saudara seiman. Rasa itulah yang membuat sedih ketika kemungkaran berlaku terhadap mereka dan keinginan melihat Saudara kita selamat di jalan Allah. So, bukan hanya memberi nasehat dan kemudian lepas tangan. Coba tengok adakah Rasulullah selepas memberi nasehat kemudian membiarkan para Sahabat begitu saja? Tak kan? Itulah, usrah yang kita lakukan tiap minggu tu semacam majelis ilmunya, sementara usrah yang sebenarnya adalah selepas tasbih kifarat dan Al-‘ashr, di mana di kehidupan sehari – hari itulah, kita sesama muslim saling nasehat menasehati dan sayang menyayangi, yang semuanya? FIllah.. karena Allah…”
Subhanallah

(dari : sahabatku Nadia Karina Hakman)