[True Story] Sakit Yudi, Potret Derita Orang Miskin



Sakit Yudi, Potret Derita Orang Miskin

“Sakit ..., kepalaku seperti dibenturkan ke tembok,” rintih Yudi kepada ayahnya. Ini bukan yang pertama. Radang otak telah merenggut kebahagiaannya.
Sebagai supir taksi, penghasilan ayah Yudi hanya cukup untuk pengobatan seadanya. Bahkan, melihat keadaan Yudi seakan tak mendapat perawatan. Begitu saja hutangnya menumpuk. Setiap menyaksikan penderitaan Yudi, ia hanya bisa mengelus dada diiringi guyuran air mata penyesalan.
Tubuh Yudi sangat kurus.
Tapi, tidak seperti biasa. Rintihannya kali ini begitu pelan. Bahkan hampir tak terdengar. Tubuhnya pucat. Bibirnya memutih. Tatapannya kosong. Jangan-jangan ….! Jantung sang ayah berdetak kencang.
Tiba-tiba ...
Mata Yudi tertutup pelan. Bibirnya merapat. Dan ... Innalillahi Wainna Ilaihi Raji’in. Yudi telah pergi selamanya.

▄▀▄▀▄.▄▀▄▀▄.▄▀▄▀▄▄▀▄▀▄.▄▀▄▀▄.▄▀▄▀▄▄▀▄▀▄.▄▀▄▀▄.▄▀▄▀▄

Kisah di atas Evi tulis berdasarkan kisah nyata. Beberapa minggu yang lalu, saat Evi dalam perjalanan menuju RSCM untuk memeriksa kesehatan tubuh (check-up). Bapak tersebut bertanya, “Kamu sakit apa, Dek?” Dengan wajah ceria dan senyum ramah, saya ceritakan apa yang saya derita. Setelah itu, beliau menceritakan kisah hidupnya ─seperti yang saya tuliskan di atas─ .

Saat kisah itu diputar
Ada rasa pilu di hati
Ada rasa perih di jiwa
Ada rasa malu bergelora

Ingin rasanya menangis, melihat nasib rakyat kecil penuh derita. Karena bagaimanapun juga mereka adalah saudara kita, saudara setanah air, saudara seakidah juga.

Sahabatku, pernahkan kita merenung, bersedih dan menangis ketika kita memiliki uang yang berlimpah ataupun sedikit. Tapi kita masih berpikir, bahwa uangku nanti habis, untuk makan keluarga saja tidak cukup apalagi untuk disedekahkan bagi orang lain, dan masih banyak lagi alasan lain di mana kita masih takut akan pailit. Bukankah di balik rezeki yang kita miliki ada hak-hak mereka yang membutuhkan?

Infak, sedekah, dan zakat adalah obat bagi jiwa kita untuk dapat menyingkirkan penyakit bakhil dan pelit, membangkitkan kepercayaan kepada ALlah dan menjauhkan diri dari janji-janji setan yang penuh tipu daya. Kadang sebagian orang ingin memiliki harta banyak harus pergi ke dukun dan berteman dengan para setan, sehingga rusaklah iman tersebut dan tidak pernah mensyukuri apa yang diperolehnya.

Allah berfirman,
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya” (Ali Imran : 92)

... Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya lagi maha Terpuji. Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 267-268)

Sahabatku yang dicintai Allah, mari kita hujamkan dalam jiwa semangat kuat dalam memberikan sebagian harta kita untuk mereka yang membutuhkan demi mengharapkan keridhaan Allah. Jangan pernah tersirat suatu pikiran bahwa kita akan kehabisan rezeki karena rezeki Allah tidak akan pernah habis Tidaklah satu hari berlalu, melainkan dua malaikat turun dan berdoa.
“Ya Allah, berilah ganti orang-orang yang senantiasa berinfak.” Sementara itu, yang lain berkata, “Ya Allah, berilah orang yang pelit kebinasaan.”
Semakin kita rajin berinfak, semakin banyak pula orang yang mencintai kita. Derajat kita akan semakin terhormat. Kita jug terhindar dari penyakit kejiwaan dan penyakit fisik sekaligus.
Rasul bersabda, “Obatilah penyakit-penyakit yang diderita oleh kalian dengan sedekah.”
Sahabatku yang dicintai Allah, mari kita perhatikan apa yang dilakukan Rasul saat beliau bersabda kepada seseorang, “Lihatlah bukit ini!”
Si pria melirik dan ternyata di bawah banyak sekali binatang ternak. Rasul bersabda, “Semuanya untukmu!”
Seseorang yang diberi sedekah akan mengabarkan kebaikan berlimpah yang di terimanya. ia akan berkata kepada kaumnya, “Aku baru saja kembali dari manusia terbaik, manusia yang tidak takut fakir.”
***
Semoga kita semua dapat mencontoh segala teladan yang dilakukan Rasulullah, sehingga kehidupan kita termasuk pada golongan orang-orang yang berbahagia.

Sahabatku, inilah rumus cinta suci segitiga dalam Islam; cinta proporsional (equilibrium love) antara cinta kepada Allah yang tidak menelantarkan cinta kepada makhluk, dan cinta kepada makhluk yang tidak melalaikan bahkan senantiasa dalam cinta kepada Allah Sang Khalik.

“Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari hilangnya nikmatMu, bergesernya kesejahteraanMu, mendadaknya cobaanMu dan segala macam murkaMu. Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami, lapangkanlah jiwa kami dan berkahilah rezeki kami serta terimalah amalan kami”. Amin

Semoga catatan Evi ini dapat memberikan hikmah bagi sahabat semua di mana pun berada. Apabila Evi ada salah dalam penyampaian kata-kata, tulisan maupun ucapan, Evi mohon maaf ya. Segela kesempurnaan hanya milik Allah.

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
~Evi A.~
Medan, 20 Januari 2011