bunga

Orang dengan ITP Mendapat Penghargaan dari KPPI

Wakil KPPI membacakan nama-nama ITP Survivor yang mendapat penghargaan


Orang dengan ITP Mendapat Penghargaan dari KPPI

Jakarta (12/6)_Hidup berdamai dengan suatu penyakit di tubuh itu tidaklah mudah. Begitu juga dengan para odapi yang memiliki penyakit ITP dan harus berjuang untuk terus menjadi sehat dan senyum di depan banyak orang. Terkadang malu bertemu orang apabila tubuh memiliki banyak memar, ruam biru kemerahan atau seperti terantuk benda keras_orang menyebutnya seperti jilatan setan. Atau memiliki banyak bintik-bintik merah seperti gigitan nyamuk tapi dalam jumlah yang sangat banyak.



    Terkadang keluar darah dari hidung, mata, gusi, tinja, dan lain-lain membuat kita dan orang-orang di sekeliling kita menjadi takut. Bahkan ada juga pasien yang akan mengalami trauma apabila tidak berbagi dengan orang lain. Gejala-gejala umum yang terlihat seperti itu patut dicurigai sebagai penyakit autoimun ITP.

Menurut Cleveland Clinic Journal Of Medicine, volume 7, number 9, Septermber 2012, ITP (Immune Thrombocytopenia Purpura) atau lebih dikenal lagi dengan sebutan Idiopathic Thrombocytopenic Purpura adalah penyakit autoimun yang ditandai dengan penurunan jumlah trombosit dari angka normalnya yaitu 150.000-450.000 /μL dan dapat meningkatkan resiko pendarahan. Sebab salah satu fungsi dari trombosit untuk proses pembekuan adarah atau penutupan luka yang terjadi pada tubuh manusia. Pada anak-anak, ITP-nya bisa akut_Namun kalau pada orang dewasa, ITP-nya adalah kronis.

Dr. dr Andhika, seorang hematolog dan Pembina dari Yayasan ITP Indonesia, Marisza Cordoba Foundation, mengatakan bahwa pada kasus ITP, limfosit mengalami mutasi. Sehingga menyerang trombosit yang dianggapnya sebagai benda asing.

“ITP adalah penyakit autoimun. Pada kasus ITP, limfosit, yang merupakan bagian dari leukosit atau sel darah putih ini, mengalami mutasi dan justru menyerang trobosit yang dianggap sebagai benda asing yang menyerang tubuh,” ungkap Dr dr Andhika Rachman SpPD KHOM, spesialis hematologi Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta kepada Klasika Kompas bulan Desember 2014.

Penyandang penyakit autoimun ITP di Indonesia saat ini memang tidak begitu banyak kelihatannya, namun selalu terus ada yang kena setiap bulannya. Sebab penyakit autoimun ITP ini mirip sekali dengan DHF atau demam berdarah. Bedanya pada ITP, daya tahan tubuhnya menyerang tubuhnya sendiri. Untuk mengenali ITP bisa dikenali sedini mungkin dengan samari yaitu periksa memar sendiri.

Dr dr Andhika juga menuturkan bahwa orang yang menyandang penyakit autoimun ITP, dalam kondisi normal bisa beraktivitas seperti biasa. Namun bila terjadi kecelakaan atau infeksi maka perlu perawatan lebih khusus. Sebab, kondisi orang ITP yang mengalami emergency bisa bertambah buruk.

Orang-orang ITP yang sudah menjalani hidupnya dalam kondisi normal dan menginspirasi bagi banyak orang ini layak diapresiasi dan mendapat penghargaan. Untuk itu, pada tanggal 12 Juni 2015 kemarin di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia West Mall, Jakarta, Yayasan ITP, Marisza Cordoba dan Good Life Society bekerjasama dengan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPI) membuat acara persembahan bagi para odapi dan orangmemberikan penghargaan kepada beberapa odapi (orang dengan ITP) yang telah menginspirasi sebagai ITP Survivor.

Mami Kevin, Tanti, Marwiyah (Embun), Wakil KPPI, Kevin, Evi, Febrian, Marissa


Beberapa odapi yang mendapat penghargaan ada delapan orang pada tanggal 12 Juni 2015 yaitu : Anthyke Evita Mulya, Marwiyah Irsyad, Evi Andriani, Mochammad Kevin Hariyadi, Diva Nadia Zulaika, Febrian Lubis, Tanti Sapto Purwaningsih, dan Yeni.

Semoga ke depannya akan muncul ITP Survivor lainnya yang semangat untuk terus berjuangan hidup, sehat, berkualitas serta berkarya sehingga dapat memberikan support (dukungan), dan inspirasi bagi banyak orang khususnya odapi (orang dengan ITP).

Salam semangat pagi, dan para pasien tetap selalu ceria tersenyum sebab moto kita, Smile With ITP.

Foto Evi Andriani, Smile With ITP


Evi Andriani,
(Odapi, odapus, dan penulis)