bunga

Muhasabah Hikmah Subuh

Hikmah Shubuh ini.

Ada bimbingan arif ulama menyebutkan ;
“Bila enqkau berpulang ke alam baqa’ tanpa membawa bekal taqwa,
Sedang engkau melihat orang-orang membawanya pada hari penghimpunan,
niscaya engkau pasti menyesal karena engkau tidak seperti mereka,
mereka mempunyai persiapan sedang engkau tidak memilikinya”.
(Imam Ibnu Qayyim of Jauziyah dalam kitabnya Al Fawaid)


Begitu tajamnya pendapat Haitami menghentak kalbu kita,
“Hidup itu ibarat tidur, sedang mati seolah bangun berbaur.”
Begitulah ungkapan puitis Al Hitami, pujangga sufi kelahiran Spanyol.

Sekilas pernyataan Al Hitami ini nampak kontroversif.
Sebab, analogis yang berkembang di masyarakat lebih banyak menyatakan
bahwa mati itu ibarat tidur, atau tidur itu bagaikan mati.


Menurut akidah Islamiyah, hidup yang kini kita jalani bukanlah hidup yang paripurna.
Kita masih akan memasuki session yang berikutnya,
yaitu hidup sesudah mati sebuah kehidupan yang kekal abadi di akhirat kelak.

Firman Allah SWT mengingatkan kita semua ;
“Mengapa kamu sekalian ingkar kepada Allah,
padahal kamu tadinya mati,
lalu Allah menghidupkan kamu,
kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali,
kemudian kepada-Nya lah kamu dikembafikan”.
(Q.S. Al-Baqarah: 25)


Orang yang tidur terkadang memperoleh pengalaman yang unik dan menarik.
Ia senang, bergembira, berbahagia dan bangga ketika nasibnya sedang mujur.
Rumah megah, harta melimpah dan fasilitas serba mewah menyelimuti.
Tetapi tatkala bernasib malang, rasanya musibah itu selalu menghadang.
Di mana-mana serba tidak tenang dan tidak senang.
Resah, susah dan gelisah datang silih berganti.
Pendek kata tak ada sesuatupun yang dapat menggembirakan hati.


Akan tetapi itu semua adalah pengalaman orang yang tidur alias mimpi.
Dan bukan yang sebenarnya terjadi.
Lewat pernyataan itu Al Hitami berwasiat,
bahwa apapun yang sedang kita peroleh dalam hidup ini,
kita tidak boleh congkak atau sombong ......,
apa lagi lupa daratan yang kemudian meninggalkan kerabat dan sahabat,
mengabaikan peringatan Allah dan Rasulullah ....
akibatnya hidup akan kecewa dan menyakitkan.


Sebaiknya ketika kita sedang dirundung malang,
kita mesti bersabar dengan tetap harus berusaha dan tidak boleh berputus asa.
Sebab, sebenarnya rotasi kehidupan itu ibarat perputaran roda.
Ketika sedang berada di bagian atas jangan merasa lebih,
akan tetapi pula ketika berada di bawah jangan bersedih hati.


Kita semua yakin bahwa mati itu pasti akan datang,
cepat atau lambat,
dengan tidak membedakan status sosial, ekonomi ataupun usia.

Banyak orang kaya yang juga dihampiri oleh malaikat Izrail (malaikat maut)
dan tidak sedikit pula orang yang masih muda tiba-tiba meninggal.

Dengan kata lain bahwa kematian itu cocok untuk segala umur
dan cocok untuk semua lapisan.


Firman Allah SWT:
“Di mana saja kamu berada,
kematian pasti akan menjumpai kamu,
kendatipun kamu berada di benteng yang tinggi dan kokoh”.
(Q.S An-Nisa’:75)


Karena itu kita sebagai kaum muslimin tidak seharusnya takut akan kematian.
Mengapa ...???
Karena kematian merupakan awal dari sebuah kebahagiaan hakiki
yang telah dijanjikan oleh Allah,
tentu saja buat mereka yang benar-benar beriman
dan bagi mereka yang banyak melakukan kebajikan.

Akan tetapi bagi mereka yang ingkar dan tidak memiliki bekal kebajikan,
mati adalah ibarat hantu yang sangat ditakuti,
betapa tidak,
selain harus bercerai dengan istri,
berpisah dengan keluarga,
dan melepaskan semua harta,
berarti pula mereka mula merasakan penderitaan
akibat siksaan yang berkepanjangan....
yang akan dirasakan nanti di alam baqa ...
Na ‘uzubillah.


Untuk itu mari kita perhatikan tuntunan Rasulullah SAW berikut ini:
“Pergunakanlah lima masa sebelum datang lima masa (yang lainny), yaitu ;
pergunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu,
pergunakanlah masa senggangmu sebelum datang masa sibukmu,
pergunakanlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu,
pergunakanlah masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
dan pergunakanlah masa hidupmu sebelum datang saat kematianmu”.
(HR. Al Baihaqi)


Oleh sebab itu marilah kita memulai hidup kita dengan langkah yang baru,
dengan energi dan semangat yang baru.
Kita tinggalkan masa lalu yang kurang bermanfaat
dengan terus berjalan dengan menelusuri lorong-lorong yang menuju ke kampung akhirat,
yang pasti akan kita datangi.

Umur yang telah Allah anugerahkan kepada kita
hendaknya dimanfaatkan dengan baik dalam rangka beramal dan beribadah,
untuk mengabdi kepada Allah SWT.

Betapa pentingnya waktu sehingga Allah bersumpah deminya.
Itu maknanya bahwa waktu amat penting dan harus diperhatikan oleh manusia.
Jika tak ada waktu, tidak akan ada perjalanan umur manusia.

Tidak memperhatikan waktu dan umur,
akan membuat kehidupan sia-sia.
Artinya,
dalam melangkah dalam kehidupan yang baru yang akan kita jalani itu
haruslah dengan penuh keimanan serta diisi ketaqwaan kepada Allah SWT,
yakni berupa amal shaleh, kebenaran dan kesabaran.

Jika umur atau perjalanan hidup tidak diisi taqwa,
hidup akan hampa,
tidak bermakna dan sia-sia.

Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang termulia,
perlu menjaga dan menghargai umurnya dengan bertaqwa
agar kemuliaan itu tetap bertahan menjadi haknya.

Jika tidak ...,
manusia akan turun harga
menjadi lebih rendah dari hewan berkaki empat atau binatang yang melata.

Kita memasuki Ramadhan di setiap tahun,
seakan kita memulai hidup di awal baru yang mapan,
bersih dan tidak punya beban ...
karena Allah siapkan untuk kita pengampunan
di bulan barokah Ramadhan,
sehingga kesalahan-kesalahan yang lewat
sudah menjadi masa lalu yang tetap diingat,
kini, kita mohonkan keampuan Allah dengan bertaubat,
dan jangan diulang-ulang lagi di masa depan semua yang telah silap,
Sehingga kelalaian masa lalu tidak terbentang lagi sebagai masa depan yang gelap,
Insyaallah dengan teguh hati kita selalu berharap ...
di dalam menjaga keutamaan takwa yang sudah diraih dan didekap.

Tahun-tahun selanjutnya yang ada di hadapan kita adalah tahun yang lain,
dan merupakan kelanjutan dari perjalanan umur kita,
dan itupun jika Allah masih memberikan jatah hidup kepada kita.

Sekilas,
memulai kehidupan baru di tahun-tahun mendatang ini
berarti bertambahlah umur kita beberapa masa
untuk dapat diisi dengan amalan bermanfaat,
dan kita ucapkan Alhamdulilah,
tanda kesyukuran kita kepada Allah.

Kita patut bersyukur karena Allah yang telah memanjangkan umur kita.
Namun, jika kita kita menyimak kembali sya’ir Abu Nawas,
pergantian masa dari setiap umur yang dilalui,
memiliki arti yang lain dari apa yang kita sangka
bahwa umur kita di dalam bilangan telah bertambah,
tetapi sebenarnya berkurang dari jatah yang tersedia ....

Abu Nawas bersya’ir :
“Umurku berkurang setiap hari.. .
Sedang dosa terus bertambah...
Bagaimana mungkin aku bisa memikulnya nanti …”


Menurut sya’ir ini,
memasuki umur-umur baru baru berarti sisa umur kita makin berkurang.
Otomatis, maut semakin mendekat.
Sisa umur itulah yang masih terbentang di hadapan kita,
dan kita tidak tahu kapan berakhir.

Sebelum umur kita berakhir....
maka akal sehat yang bersandar kepada iman akan bangkit
untuk semakin memacu diri dalam mengisi sisa umur
dengan amal shaleh dan ketaqwaan.

Akal sehat akan memandu kita
agar sisa umur tak sia-sia
dan hidup tak boleh rugi percuma.
Semoga Allah meridhai kita,

Alangkah indahnya Ramadhan yang dianugerahkan untuk kita semua kini,
sehingga dengan memohonkan maghfirah Ilahi,
sesungguhnya kita telah diberi kesempatan memperbaiki diri..

Ya Allah ampuni kami,
dan ampuni kedua orang tua kami,
ampuni kaum muslimin dan muslimat,
baik yang masih hidup
atau yang telah lebih dahulu menninggalkan kami ..
Amin.

Allahu a ‘lam bishawab.

Wassalam
Buya H. Masoed Abidin

Posting Komentar untuk "Muhasabah Hikmah Subuh"