Suara Hati Pasien; “Dokter, Tolong Jangan Mogok Kerja.”


 
 
 
Suara Hati Pasien; “Dokter, Tolong Jangan Mogok Kerja.”

Begitu terkejutnya saya ketika mendapat pesan broadcast dari seluruh teman-teman dokter yang akan melakukan aksi mogok besok, (27/11/13).

“Aksi Solidaritas Ikatan Dokter Indonesia "Tolak Kriminalisasi Dokter" besok Rabu (27/11/13) di Jakarta terpusat di Mahkamah Agung Jl.Medan Merdeka Utara No.9-13. Aksi dimulai pkl 9 WIB, diharapkan kawan2 bisa langsung berkumpul di depan halaman MA. Peserta aksi adalah dokter berjas putih dg pita hitam & menggunakan pin IDI bertuliskan "Tolak Kriminalisasi Dokter". Adapun TS yg dilarang mengikuti aksi adalah yg sedang bertugas di: UGD,ICU/ICCU,ruang OK CITO,ruang persalinan,&yg bertugas di faskes primer dg tindakan gawat darurat. Korlap Dr. Ardiansyah Bahar (HP 085230955521)”

“Besok izinkan kami, sehari saja menjadi manusia biasa, kami istirahat sejenak dari menjadi dokter,perawat dan Bidan agar hati kami tenang, keluarga kami tidak kecewa melihat usaha kami menolong sesama dibalas dgn cacian, hujatan dan penjara. Besok biar pak hakim yg menulis resep, biar pak jaksa yg memeriksa, pak pengacara yg mengoperasi, pak polisi yg meredam amarah pasien dan keluarga, pak LSM yg menjelaskan kpd keluarga kalau pertolongan yg diberikannya gagal, semoga anda semua mampu menjalani apa yg kami lakukan selama ini :)#maaf ganggu bantu BC u/ para Dokter,,Perawat dan Bidan...”

Hati saya sebagai seorang pasien rawat jalan sangat terpukul mendengar hal itu. Karena betapa banyak para teman seperjuangan saya, maupun teman-teman lainnya yang akan menjadi korban terbengkalai pelayanan kesehatan. Walaupun hanya sehari, namun jika 1000 dokter benar-benar mogok berapa puluh ribu pasien rawat jalan terbengkalai.

Saya sangat menyesalkan BC dokter yang harus mengatakan, “Besok biar pak hakim yg menulis resep, biar pak jaksa yg memeriksa, pak pengacara yg mengoperasi, pak polisi yg meredam amarah pasien dan keluarga, pak LSM yg menjelaskan kpd keluarga kalau pertolongan yg diberikannya gagal, semoga anda semua mampu menjalani apa yg kami lakukan selama ini” >> terlepas dari siapapun yang sebarkan BC ini, tapi sungguh ini bukanlah sikap seorang dokter sejati.

Karena yang kita ketahui dokter adalah seorang yang karena keilmuannya berusaha menyembuhkan orang-orang yang sakit. Untuk menjadi dokter biasanya diperlukan pendidikan dan pelatihan khusus hingga mempunyai gelar dalam bidang kedokteran. Tentunya para dokter sudah mempunya disiplin ilmu yang baik dan dokter juga sudah mempelajari jiwa psikologis manusia sehingga dokter dapat bersikap lebih bijak. Tanpa harus berkata dalam BC di atas menyangkut pak polisi, LSM, pengacara, dll.

Saya di sini berbicara dari hati nurani sebagai seorang pasien. Terlepas permasalahan yang terjadi antara dokter dan pasien yang sangat marak diberitakan. Menurut saya, mogok bukanlah suatu solusi terbaik dalam mengatasi masalah ini. Karena jika dokter mogok maka sama saja dengan melakukan tindakan tidak perikemanusiaan. Apalagi kita tahu bahwa dokter itu manusia bukan Tuhan. Maka lakukan layaknya kita sebagai manusia. Jangan mengorbankan banyak kepentingan umum demi satu masalah yang terjadi.

Para dokter yang yang baik hatinya, masih ingatkan dengan sumpah dokternya? Salah satunya yang tercantum pada SUMPAH DOKTER INDONESIA (PP No.26 -1960/SK Menkes No. 434-1983) berbunyi, “Demi Allah saya bersumpah bahwa saya akan: 1. Hidup berbakti untuk kepentingan keperikemanusiaan.”

Apakah tindakan mogok salah satu bentuk perikemanusiaan? Apakah demi membela teman sejawat harus mengorbankan kepentingan umum? Marilah kita beristigfar, marilah kita menenangkan diri sejenak, marilah kita berpikir jernih, bukan dengan emosional.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan jikalau memang si dokter melakukan hal yang benar. Saya di sini tidak akan membahas siapa yang benar atau siapa yang salah. Tapi, saya di sini berbicara sebagai seorang pasien yang ingin membuka mata hati kita semua, bahwa segala sesuatu yang dilakukan itu haruslah baik. Sehingga akhlak yang keluar dari sikap kita juga baik. Jika panasnya api dilawan dengan api maka tetap saja kasus juga tidak akan terpecahkan. Hindari mogok kerja, dan beraktivitaslah seperti biasa.

Apa sebenarnya yang bisa dilakukan selain melakukan mogok kerja? Tentu banyak yang bisa dilakukan para sahabatku, dokter-dokter yang baik hati.
1. Bangunlah mediasi komunikasi dari hati ke hati.
Para dokter menjumpai keluarga korban dan berbicara dengan rendah hati, bukan dengan emosional. Kalau perlu ajak juga pasien lainnya, yang bisa menenangkan hati keluarga korban. Saya yakin mereka pasti sakit hati dan terluka atas kejadian ini karena ada korban meninggal. Dalam hal ini saya juga ga mengatakan bahwa para dokter salah dalam menangani pasien. Tapi intinya di sini adalah sebuah komunikasi yang baik. Selain para pasien, juga bisa memanggil para pemuka agama untuk meluruskan dan mendamaikan masalah ini. Agar si keluarga korban ikhlas, dan tidak harus memperpanjang kasus ini. Si dokter juga lebih berhati-hati dan bermuhasabah juga bahwa segala pekerjaan apapun itu bentuknya, bukan hanya profesi dokter, tapi profesi lainnya juga memiliki resiko.

2. Kumpulkan tanda tangan atau apapun bentuk solidaritas yang bijak dan berakhlak baik dari para dokter, jikalau memang para dokter ingin melakukan aksi. Bukan dengan mogok kerja.

3. Buat suatu badan intelijen dokter
Mengapa saya bilang ini harus dibuat? Karena untuk menyelidiki segala kasus-kasus yang mungkin akan terjadi. Dengarkan suara pasien dan dengarkan juga suara hati dokter. Seimbangkanlah kedua hal tersebut. Jadilah seperti seorang detektif, berpikir dengan logika, dan hati yang jernih, bukan dengan emosi. Saya yakin kasus seperti ini akan terulang kembali.

4. Ajaklah para dokter untuk menulis serentak membela si dokter yang dianggap salah, jikalau memang si dokter itu tidak bersalah. Kumpulkan semua surat dokter dan serahkan secara baik-baik kepada pihak korban. Sehingga pihak korban akan terbuka ikhlas dan tidak menyalahkan siapapun. Dalam hal ini, keduanya harus saling memaafkan.

Dan masih banyak cara lain lagi, saya percaya teman-teman saya di facebook ini juga pasti punya banyak ide-ide berlian dalam mengatasi masalah ini dengan baik.
***
Percayakah wahai para dokter yang baik, saya juga merupakan salah satu korban dari dokter yang pernah memberikan penanganan tidak tepat dan hampir saja tubuh saya menderita osteoporosis dalam waktu yang singkat. Apakah saya ada menuntut, wahai dokter yang baik? Saya tidak ada menuntut. Saya ikhlas. Saya sangat bersyukur kepada Allah swt, karena masih memberikan saya kesempatan untuk bertahan hidup dan mendapat dokter yang tepat sehingga saya bisa sehat saat ini. Dari kejadian itu, saya berusaha untuk menjadi pasien yang cerdas, saya rajin membaca, dan saya membantu pasien lainnya untuk bisa bangkit, bertahan, dan kuat. Masih banyak pasien-pasien lainnya yang mengalami penanganan yang tidak tepat, tapi mereka juga tidak menuntut. Karena itu tidak ada gunanya juga.

Namun, yang saya sangat sedihkan, mengapa kasus dokter Ayu dan keluarga korban begitu sampai hebohnya? Perseteruan individual tiba-tiba jadi masalah profesi hajat hidup banyak orang. Saya ga mau membela siapapun dalam hal ini. Tapi saya hanya ingin menyampaikan bahwa kita semua ini adalah manusia yang memiliki hati nurani, manusia yang berakhlak, manusia yang berjiwa sosial. Marilah kita duduk bersama dengan hati yang lapang dan berakhlak mulia untuk memecahkan kasus ini. Saya ga bisa bayangkan, apa yang akan terjadi di hari Rabu, apabila benar seribu dokter mogok kerja. Berapa banyak pasien yang akan terbengkalai. Bisa jadi puluhan ribu pasien tidak dapat konsultasi dan pelayanan yang baik. Saya hanya bisa istigfar dalam hati. Saya hanya bisa menangis dan sedih. Astagfirulla... astagfirullah...

Saya makin kaget lagi ketika teman saya dokter bilang, “Kan hanya pasien rawat jalan saja yang tidak dapat konseling sedangkan yang darurat atau genting dapat penanganan” >>> menurut saya ini ga pantas diucapkan dokter, saya sedih sekali sebagai seorang pasien, karena ini namanya diskriminasi pasien.

Teman dokter lainnya berkata, “Ga ada jalan lain lagi. Sudah berbagai mediasi dilakukan. Dengan melakukan mogok, maka mata dan hati pemerintah akan terbuka” >> masyaAllah, astagfirullah. Apakah kasus hal ini sampai sebegitu parahnya, sebegitu hebohnya. Saya hanya bisa ucapkan, “Astagfirullah... astagfirullah...”

Saya ga tahu harus berbicara apalagi. Bagi saya kesehatan umat, kepentingan umum, kepentingan sosial, kepentingan orang banyak adalah kepentingan yang harus diprioritaskan daripada kepentingan individual atau kepentingan yang sedikit.

Di bilik tempat peristirahatan, saya mencoba menuangkan isi hati. Saya yakin masih banyak dokter yang tidak melakukan mogok kerja, karena ia ingat akan sumpahnya untuk berbakti pada kepentingan perikemanusiaan dan mengutamakan kesehatan penderita.

Hal ini saya perkuat ketika saya tadi (26/11) berobat ke dokter spesialis mata untuk memeriksakan mata saya apakah ada pendarahan atau tidak. Alhamdulillah semua baik-baik saja. Hanya ada pembesaran bagian mata dan bisa diobati. Saya pun sempat bertanya, apakah para dokter di sini ikut mogok kerja? Ternyata mereka bilang, “tidak ada yang mogok”. Saya pun berucap, “Alhamdulillah, masih ada dokter-dokter berhati mulia, yang tidak ikut-ikutan mogok kerja demi perikemanusiaan”

Saya hanya turut prihatin, bagaimana ntar nasib para pasien yang ga dapat konseling atas penyakitnya, hanya gara-gara dokter mogok kerja? Ntah mengapa saya tidak tenang. Mungkin dzikir adalah obat yang terbaik dalam menenangkan.

Semoga kasus ini dapat segera selesai, dan tidak menimbulkan banyak pihak kepentingan umum yang dirugikan. Aamiin.

Dokter, tolong jangan mogok kerja... Saya mohon berakvitaslah seperti biasanya...

Salam santun
~Evi A.~
Medan, 26/11/2013
ITP & Lupus Survivor