My Sweet Home

Rahasia Takdir Usia Siapa yang Tahu?



Ayah... Evi Rindu....
Satu kalimat yang sering ada di benak Evi.

Ayah,
Evi rindu padamu,
Rindu akan kemarahanmu.
Ga ada lagi yang memarahi dikala Evi salah.

Ayah,
Evi kangen padamu,
Kangen akan nasihat bijakmu.
Ga ada lagi yang menasihati Evi dengan baik dan penuh kasih kecuali ayah.

Ayah,
Kenapa semua begitu mendadak.
Belum sempat Evi membahagiakan ayah.
Belum sempat Evi menghadiahkan umroh buat ayah.
Padahal ayah tahun depan pergi berangkat berhaji.

Ayah,
Engkau begitu gigih dalam bekerja.
Engkau begitu semangat dalam mengajar.
Engkau begitu baik dalam membimbing.
Engkau begitu sering memberi dan sedekah.

Semua orang segan padamu, Ayah.
Karena ayah begitu baik.
Karena ayah begitu gigih dalam segala hal.
Karena ilmu pengetahuan ayah begitu multitalenta.

Ayah,
Kenapa semua begitu cepat.
Belum juga Evi minta maaf sama ayah.
Evi masih berharap ayah sembuh.
Tapi memang Allah lebih sayang dengan ayah.

Banyak tetangga yang bilang ayah itu baik.
Banyak mahasiswa yang bilang ayah itu baik.
Banyak dosen yang bilang ayah itu baik.
Bahkan tempat ayah sering mencetak buku, tempat ayah sering beli jeruk, tempat yang sering ayah datangi semuanya mengatakan ayah orangnya sangat baik.

Ayah,
Dikala sunyi, Evi tak mampu membendung tangis.
Disaat cangkul tertancap ditanah kuburmu, Evi tak sanggup melihat kepergian ayah.

Ayah tahukah engkau,
Saat engkau di ruang ICU, Evi sebenarnya sedih.
Evi sebenarnya tak kuat melihat ayah begitu menderita.
Dengan banyak tusukan jarum infus.
Dengan pasang alat bantu nafas oksigen.
Dengan makan pakai selang.
Dan alat keteter untuk buang air kecil.
Dengan tempat es yang nenopang tubuhmu sehingga engkau kedinginan.
Tapi demam ayahpun tak kunjung turun.

Ayah,
Betapa bodohnya Evi.
Evi tak mengenal bahasa isyarat ayah.
Saat engkau meminta membuka alat nafasmu, aku tak mengiyakan keinginanmu.
Saat engkau meminta mencabut alat ketetermu, aku tak mengiyakan keinginanmu.
Maafkan Evi, Ayah.
Maafkan kesalahan Evi ini.
Karena suster tak mengizinkan untuk dibuka ayah.

Ayah,
Saat kedua tanganmu diikat, Evi sedih sekali.
Setiap Evi jenguk, ikatan itu Evi lepas ayah.
Evi minta izin ke suster dan menjaga tangan ayah agar tidak mencabut semua alat di tubuh ayah.
Tapi ayah terus ingin mencabut semuanya.
Maafkan Evi karena tidak mengiyakannya ayah.
Karena Evi takut terjadi sesuatu pada ayah.
Evi juga takut jika semua dilepas terjadi perdarahan di ayah.

Ayah,
Betapa bodohnya Evi tak memahami bahasa isyarat ayah.
Kata dokter, kondisi ayah berada di tingkat kesadaran statis, makanya ga berani Evi buka ikatan tangan ayah.

Seharusnya Evi tak dengar apa kata dokter.
Sebab, ayah sering mengajar, bisa saja ingatan ayah masih kuat.
Karena orang yang sering mengajar dan belajar, jarang menjadi pelupa.
Maafkan Evi yang tak memahami bahasa isyarat ayah.

Ketika ayah sudah tiada, Evi baru memahaminya.
Mungkin ayah ingin meninggal di hari Jumat.
Mungkin hari Jumat itu adalah hari sakaratulmaut ayah.
Seharusnya Evi memahami keinginan ayah.
Seharusnya kami semua berada di sisi ayah saat sakaratulmaut ayah.
Maafkan Evi, Ayah.
Karena jam besuk ICU terbatas.
Tapi Evi selalu ada di RS dari pagi sampai malam menemani ayah.

Foto ayah ketika masih di ruang kamar 622
(belum masuk ICU)

Mama dan keluarga ga sanggup melihat keadaan ayah.
Ga sanggup menahan air mata.
Tapi Evi berusaha menahan air mata, agar bisa jenguk ayah di ICU.
Evi berusaha tegar agar bisa memberikan semangat pada ayah.
Bahkan Evi rela berdiri satu jam lebih di samping ayah sampai masa jam besuk habis.

Ayah, Evi rindu...
Kata ustadz, doa anak tidak ada batas.
Evi akan selalu mendoakan ayah.

Allaahummaghfirlahu warhamhu wa’aafihii wa’fu anhu wa akrim nuzu lahu wa wassi’ madkholahu waghsilhu bilmaai wats-tsalji walbarodi wanaqqihi minal khothooyaa kamaa yunaqqots tsaubul abyadhu minaddanasi . Aamiin



Dalam perjalanan sakit ayah yang mendadak selain membuat saya menjadi sedih, ada banyak hikmah yang saya peroleh :
1. Takdir Allah sudah tercatat di Kauful Mahfudz.

Pada hari Jumat tanggal 12 Juli 2019, pagi hari jam 06.30, ayah telah berangkat dari rumah ke kampus Unimed untuk mengawas ujian. Pulangnya, Rifqi cucunya meminta jalan-jalan ke Plaza. Pulang malam hari. Keesokan harinya Sabtu, jam 4 pagi mulai ayah cegukan dan banyak keluar lendir dari mulut. Jadi ayah meludah terus tak berhenti. Kakinya lemah ga bisa jalan. Mulutnya sudah susah bicara dan matanya sudah mulai menurun. Langsung kita bawa ayah ke RS Columbia Asia. Karena saya tahu itu stroke. Semua serba cepat dan mendadak. Semua di luar dugaan kita.

Dalam hal ini, saya jadi sadar bahwa Allah Ta’ala telah mencatat segala takdir manusia dalam lauhul mahfudz  sampai hari kiamat. Tidak ada sesuatupun yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi kecuali telah tercatat.

Sebagaimana dalam FirmanNya :
“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah” (QS. Al Hajj:70).

2. Pemasangan alat jantung dan ventilator ketika penyakit sudah sangat parah atau harapan hidup hanya tinggal mukjizat kata dokter, menurut saya tidak perlu. Karena kalau di ruang ICU kita jadi tidak bisa temani pasien setiap waktu, sebab waktu terbatas. Bahkan mau ajarinya kalimat dzikrullah juga terbatas.

Saya tidak tahu ayah meninggalnya hari Jumat atau Minggu. Karena hari Jumat, ayah sudah koma. Hari Sabtu dan Minggu, ayah hanya dibantu alat jantung dan ventilator untuk bernafas. Jadi kata dokter yang memeriksa, ayah seperti ada dan tiada. Kalau dicabut alat, maka meninggal. Hanya dipompa hari minggu dan dikasih nafas ventilator dengan tingkat tertinggi tidak ada dneyut jantung, kondisi ini dinyatakan dokter telah meninggal.

Saya jadi sangat menyesal. Saya bilang ke mama, kalau saya suatu saat seperti posisi di ayah, saya tidak mau dipasang alat ini itu. Saya ingin bersama keluarga sampai akhir nafas terakhir. Begitu juga mama saya pun menyatakan hal yang sama.

3. Dokter punya kemampuan terbatas.

Ketika ayah sakit, dan mengalami cegukan terjadi pemberian dosis obat yang tidak sesuai antara dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis syaraf. Dokter Penyakit syaraf mengatakan 25mg tapi dokter penyakit dalam memberikan dosis 50mg.

Yang terjadi adalah kondisi tubuh ayah semakin drop dan tertidur lama. Akhirnya ayah dimasukkan ke ruang ICU. Ayah mulai tertular Virus pnemonia dan edema dari pasien lain. Kasihan sekali ayah.

Seharusnya ayah bisa pulang dalam waktu 3 hari lagi, malah makin drop hingga meninggal karena pnemonia hospital. Sebelumnya kondisi paru-paru ayah bagus dan bersih. Ayah juga tidak pernah merokok.

Saya terkejut ketika mama mengabarkan ayah masuk ICU dan dokter spesialias paru menerangkan ayah kena pnemonia berat+edema. Astagfirullah.

Saya jadi ingat perkataan dokter Gino. Kalau kita pasien lupus tidak boleh kena paru-paru karena harapan hidup hanya 10-20% saja.

Saya masih berharap ada keajaiban. Tapi Allah lebih menyayangi ayah sehingga ayah meninggal. Saya sangat sedih

Keluarga kita kecewa banget dengan dokter tersebut. Mau marah juga buat apa. Karena ayah juga sudah meninggal. Ga ada gunanya juga marah. Mau menuntut juga buat apa. Sebab pemberian dosis obat cegukan itu bisa 25mg-100mg. Jadi tidak menyalahi kode etik kedokteran. Hanya bergantung respon tubuh pasien terhadap obat tersebut.

Keluarga saya asa yang sangat marah dengan dokter penyakit dalam tersebut, karena jadi seperti percobaan pemberian dosis obat.

Saya kecewanya kenapa masalah dosis obat bisa ada perbedaan diantara tim dokter.

Keluarga kita pun jadi trauma. Kalau opname, ga mau di sana lagi. Selain buang uang ratusan juta, tapi pengobatan kurang baik sesama tim dokter. Kerjasamanya kurang kompak.

4. Mulai memperhatikan kesehatan tubuh.

Ayah terkenal dengan kegigihannya dalam bekerja. Kadang sakit yang tidak terlalu sakit pun ga mau dibawa berobat untuk diperiksa dan mengatakan tubuh sehat. Hal ini jadi pelajaran bagi saya dan keluarga. Kalau susah ada keluhan sakit yang tidak biasa, harus ke dokter dan jangan ditunda. Karena kalau penyakit sudah sangat parah maka susah diobati.

5. Mulai menjaga pola makan.

Yang terberat dari kita adalah susah menahan selera makan. Maunya ini itu dimakan. Padahal makanan itu kurang baik buat tubuh. Apalagi kalau kita punya riwayat tekanan darah tinggi ataupun ada keluarga yang menderita diabetes. Maka keturunannya juga bisa diabetes. Karena sudah ada bakat tersebut di dalam tubuh.

6. Melatih kesabaran.

Sakit yang sangat parah akan menambah kesabaran. Baik kesabaran bagi si penjaga orang sakit maupun kesabaran bagi orang yang sakit.
Hal itu saya rasakan ketika menemani dan melihat ayah di ruang icu. Kalau kesabaran kita ga kita latih, maka kita akan nangis terus tiada berhenti seperti mama saya yang kemarin tak kuasa menahan air matanya. Saya pun sebenarnya menangis. Tapi saya berusaha self healing untuk menagan tangis saya. Saya menangis hanya di malam hari ketika semua sudah tidur. Saya tumpahkan semua air mata yang saya tahan.

Ayah.. Evi rindu...

Medan, 1 Agustus 2019

This Is The Newest Post
author

a wife, a mom, a blogger, a survivor of ITP & Lupus, a writer, author, a counselor of ITP & Lupus autoimmune, a mompreuneur, a motivator, a lecturer.

8 comments

Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un, kepergian Ayah karena sakit begitu mendadak ya Vi, nangis bacanya, semoga Ayah mendapat tempat terbaik di sisi Allah, Evi dan keluarga semoga diberi kekuatan..peluuk..love u..

reply

Pengen nangis nacanya. Ingat ayah sendiri...

reply

Innalillahi wa innailaihi rajiun, semoga beliau diberikan tempat terbaik ya mbak...

reply

innalillahi wa innaillahi rojiun yah, semoga ayahanda khusnul khatimah. aamiin. rasa rindu bisa kita obati dengan mengirimkan doa kepada ayahanda, semoga bisa terobati ya dek

reply

Semoga Evi dan keluarga dikuatkan menghadapi musibah kematian ini. Semoga ayahnya juga khusnul khatimah.

reply

Semoga Mba Evi dan keluarga diberi ketabahan dan kesabaran ya Mba. Allah lebih sayang kepada ayah Mba, maka Allah mengambilnya kembali. kalo mba dan keluarga sudah ikhlas, InsyaAllah mba dan keluarga bisa bangkit lagi walau tanpa kehadiran sosok Ayah

reply

Sosok seorang ayah sangat berarti, terutama bagi anak perempuan. Yang sabar ya Mbak, banyak2 kirimin doa dan bersedekah buat ayahnya. Insyaa Allah sampai pahalanya.

reply

Innalilahi wa inna ilaihi rajiun. Semoga Ayahanda husnul khatimah, diterima amal Islamnya. Dan semoga keluarga yang ditinggalkan dapat tabah dan sabar

reply

Terima kasih sudah membaca tulisan saya ini. Mohon setelah membaca, beri komentar di bawahnya.Salam santun, Evi.