Ketenangan Bukan Tanpa Masalah: Belajar dan Berserah kepada Allah
Ketenangan Tidak Berarti Hidup Tanpa Ujian
Banyak orang mengira bahwa ketenangan hanya dimiliki oleh mereka yang hidupnya berjalan mulus, tanpa masalah dan tanpa luka. Padahal, anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Orang yang tenang bukan berarti hidupnya tanpa masalah, bukan pula orang
tidak pernah diterpa badai kehidupan. Masalah tetap ada, ujian tetap hadir silih berganti.
Perbedaannya terletak pada cara seseorang merespons setiap masalah yang datang. Ketenangan lahir bukan karena hidup yang mudah, melainkan karena hati yang mampu bersikap bijak dalam menghadapi kenyataan.
Masalah Selalu Ada, Respon Kitalah yang Menentukan
Setiap manusia memiliki cerita dan ujiannya masing-masing. Ada yang diuji dengan kehilangan, ada yang diuji dengan kegagalan, dan ada pula yang diuji dengan rencana hidup yang tidak berjalan sesuai harapan. Masalah yang sama dapat menghasilkan dampak yang berbeda, tergantung bagaimana seseorang menyikapinya.
Orang yang tenang memahami bahwa tidak semua masalah harus dilawan dengan emosi. Tidak semua keadaan bisa dikendalikan. Ia memilih untuk menenangkan diri, memberi jarak antara masalah dan reaksi, lalu mengambil sikap dengan pikiran yang lebih jernih.
Berserah kepada Allah sebagai Sumber Ketenangan
Salah satu kunci ketenangan dalam hidup adalah berserah kepada Allah. Berserah bukan berarti berhenti berusaha, tetapi menyadari bahwa ada batas kemampuan manusia. Ketika usaha telah dilakukan, maka hati perlu belajar untuk mempercayakan hasilnya kepada Allah.
Keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengatur menumbuhkan rasa aman di dalam hati. Seseorang yang berserah memahami bahwa setiap kejadian, baik atau buruk menurut pandangan manusia, selalu berada dalam rencana Allah yang sempurna.
Saat Hidup Tidak Sesuai Rencana
Tidak sedikit orang yang merasa kecewa ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana. Doa terasa tertunda, harapan tidak kunjung terwujud, dan jalan hidup seakan berbelok tanpa aba-aba. Dalam kondisi seperti ini, Allah sering kali sedang mengajarkan satu pelajaran penting: belajar rida.
Rida bukan berarti pasrah tanpa usaha. Rida adalah menerima takdir Allah dengan lapang dada, sambil tetap menjaga harapan dan keyakinan. Rida mengajarkan bahwa apa yang kita anggap baik belum tentu terbaik, dan apa yang terasa menyakitkan bisa jadi menyimpan hikmah yang besar.
Belajar Rida sebagai Proses Pendewasaan Diri
Belajar rida adalah proses yang tidak instan. Ia tumbuh melalui doa, perenungan, dan kejujuran pada diri sendiri. Dalam proses ini, seseorang belajar berdamai dengan keadaan tanpa kehilangan arah dan tujuan hidup.
Rida membuat hati lebih tenang, pikiran lebih jernih, dan langkah hidup lebih ringan. Dengan ridha, seseorang tidak lagi terlalu sibuk mempertanyakan takdir, tetapi lebih fokus memperbaiki diri dan mendekatkan hati kepada Allah.
Ketenangan Sejati Datang dari Hati yang Percaya
Pada akhirnya, ketenangan sejati tidak lahir dari hidup yang sempurna, melainkan dari hati yang percaya dan berserah. Orang yang tenang bukanlah mereka yang bebas dari masalah, tetapi mereka yang tahu ke mana harus bersandar ketika hidup terasa berat.
Ketika hati telah belajar berserah dan rida, badai kehidupan tidak lagi sepenuhnya menakutkan. Sebab ada keyakinan yang menenangkan: Allah selalu membersamai setiap langkah hamba-Nya, bahkan di saat hidup tidak berjalan sesuai rencana.
#ketenanganhidup #motivasiislam #ujianhidup #belajarrida


Posting Komentar untuk "Ketenangan Bukan Tanpa Masalah: Belajar dan Berserah kepada Allah"
Terima kasih sudah membaca tulisan saya ini. Mohon setelah membaca, beri komentar di bawahnya.
Silahkan follow IG saya : @eviandriani55 dan Twitter saya : @eviandri55.
Salam santun, Evi.