bunga

Saat Hidup Terasa Berat, Mungkin Kita Lupa Melepaskan

 


“Kalau beban yang kamu pikul terasa makin berat… coba jujur pada dirimu sendiri, sudahkah kamu benar-benar menyerahkannya pada Allah?”

Ada masa dalam hidup ketika dada terasa sesak tanpa sebab yang jelas. Pekerjaan menumpuk, harapan tak kunjung nyata, doa seperti menggantung di langit yang jauh. Kita lelah, tetapi tetap memaksa diri untuk kuat. Kita ingin terlihat tegar, padahal hati sedang rapuh.

Namun pernahkah kita bertanya dengan jujur pada diri sendiri:

Benarkah semua ini harus kita pikul sendiri?

Kita Terlalu Ingin Mengendalikan Segalanya

Sebagai manusia, kita sering merasa harus mengatur semuanya. Kita ingin hasil sesuai rencana, ingin doa segera dikabulkan, ingin usaha langsung berbuah manis. Tanpa sadar, kita bukan hanya berikhtiar—kita juga mencoba mengendalikan takdir.

Padahal Allah tidak pernah meminta kita mengatur semesta.
Yang Dia minta hanyalah berusaha dan berserah.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).”
(QS. Ath-Thalaq: 3)

Ayat ini sederhana, tetapi dalam maknanya. Cukupkan. Bukan sekadar menolong—melainkan mencukupkan.

Beban Itu Bukan Selalu Masalah, Tapi Cara Kita Menggenggamnya

Terkadang hidup terasa berat bukan karena ujiannya terlalu besar, melainkan karena kita menggenggamnya terlalu erat. Kita memikirkan kemungkinan terburuk sebelum ia terjadi. Kita mencemaskan masa depan yang bahkan belum tentu datang.

Kita berdoa, tetapi masih menyisakan ruang ragu.
Kita berserah, tetapi tetap menyimpan kontrol.

Padahal tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha. Tawakal adalah percaya penuh setelah usaha dilakukan. Seperti seorang anak kecil yang berjalan di tengah keramaian sambil menggenggam tangan ayahnya. Ia mungkin tak tahu arah, tetapi ia tenang karena percaya.

Begitulah seharusnya kita kepada Allah.

Mungkin yang perlu kita lepaskan Bukan Masalahnya, Tapi Ketakutannya. 

Sering kali yang membuat kita lelah bukanlah ujian itu sendiri, melainkan ketakutan kehilangan, ketakutan gagal, ketakutan tidak dihargai, ketakutan masa depan tak sesuai harapan.

Kita memikul ketakutan itu ke mana-mana.
Kita tidur bersamanya.
Kita bangun masih memeluknya. 

Padahal Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita. Bahkan ketika jalan terasa gelap, bisa jadi itu cara Allah menjaga kita dari cahaya yang justru membakar.

Belajar Meletakkan, Bukan Hanya Memikul

Melepaskan kepada Allah bukan tanda lemah. Justru itu bentuk iman yang matang. Kita tetap berusaha, tetap bekerja, tetap berdoa—tetapi hati kita tidak lagi gelisah berlebihan.

Kita melakukan bagian kita. 
Lalu kita izinkan Allah melakukan bagian-Nya.

Dan saat itu terjadi, ada ketenangan yang perlahan tumbuh. Masalah mungkin belum selesai, tetapi hati sudah tidak serapuh kemarin.

Karena ternyata, yang membuat hidup terasa berat bukan hanya ujian—
tetapi karena kita lupa bahwa ada Zat Yang Maha Kuat yang siap memikulnya bersama kita.

Maka belajarlah melepas dengan indah. Biarkan air mata jatuh sebagai doa, biarkan malam menjadi saksi kepasrahanmu. 

Karena saat tanganmu terbuka dan tak lagi menggenggam beban itu, di situlah Allah menggantinya dengan ketenangan yang tak bisa dijelaskan—tenang yang lahir dari percaya, bahwa takdir-Nya selalu lebih lembut dari prasangkamu. 

Posting Komentar untuk "Saat Hidup Terasa Berat, Mungkin Kita Lupa Melepaskan"