Sebuah Episode Penantian Jodoh



*Sebuah Episode Penantian Jodoh*

Subhanallah..
Terimakasih buat dia yang telah menyuruh Evi membaca diskusi status Arvy berjumlah 124 komentar di sepertiga malam.
Suka bgt diskusinya yang panjang.
***
Evi nimbrung jawab ya, karena prinsipnya sama juga spt ukhti Arvy Rachma dalam proses penantian seorang pendamping hidup.

“Yang penting bisa jadi menjadi imam untuk saya dan anak2 saya kelak,” kata Arvy dalam statusnya.

Sebuah topik yang menarik untuk kita bahas, tapi saya tidak akan membahas mengenai bertanggungjawab dan ketaqwaan seperti dalam paparan dialog diskusi. Melainkan adalah inti jawaban dari perkataan ukhty Arvy dalam status.
***

Pada dasarnya, kita sebagai insan yang di ciptakan Allah ke muka bumi ini adalah dalam keadaan fitrah sebagai khalifah (pemimpin yang menjadi wakil Allah di bumi).

“Sesungguhnya Aku menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi...” (QS. 2 : 30)

Bagi manusia, kepemimpinannya adalah aktivitas dari bentuk penghambaannya kepada Allah. Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan kita sebagai wanita yang sholehah kelak akan menjadi seorang istri yang wajib taat pada perintahnya selama perintah itu tidak menyalahi perintah Allah.

Sebelum kita menggapai posisi sebagai suami dan istri, kita terlebih dahulu harus meluruskan niat kita, tentunya niat menikah. Di sinilah makna terpenting dalam mencari seorang imam, seorang suami bagi kita―kaum wanita.

Bukan dengan siapa kita menikah, karena Allah tidak memperhatikan penampilan, kekayaan, pekerjaan, keahlian atau keturunan kita. Melainkan niat kita menikah adalah karena apa? Tentu saja menikah karena Allah Ta’ala. Jika ikhtiar sudah kuat, kokoh dan yakin maka percayalah sahabatku, Allah akan memperpendek proses penantian sehingga tidak sampai terlalu lama menunggu. Namun jika niat kita menikah bukan karena apa, tapi dengan siapa, biasanya jodoh itu pun akan lambat datangnya.

Tapi kalau niat kita belum siap, sebaiknya jangan pula bersedih, persiapkan diri kita sebaik mungkin karena yakinlah Allah akan berikan yang terbaik untuk kita. Begitu juga jika jodoh kita tak sampai, jangan pula putus asa sehingga tidak ingin menikah atau berbuat yang aneh-aneh, salah satunya bunuh diri karena sesungguhnya pernikahan itu indah, pernikahan itu nikmat yang seharusnya disyukuri, nikmat halal yang bernilai ibadah dan cara mensyukurinya adalah dengan semangatkan diri untuk berdakwah.

Makna kata ‘imam’ di atas bukan juga diartikan menikah karena modal cinta semata atau pasrah dalam memilih jodoh karena cinta sesungguhnya dapat kita buktikan setelah kita menikah, itulah cinta yang hakiki, yang tulus dari sepasang insan. Maka pilihlah pasangan yang mengantarkan kita untuk lebih dekat kepada Allah swt. Pilihlah laki-laki muslim sejati, ini juga berlaku untuk perempuan muslim sejati. Karena muslim sejati merupakan bntuk komitmen kita kepada Islam. Bagaimana mengislamkan aqidah kita, mengislamkan akhlak kita, mengislamkan ibadah kita, mengislamkan keluarga dan rumah tangga kita, mengalahkan nafsu kita, dan berusaha juga mengislamisasikan ilmu kita agar kita tidak terpengaruh terhadap pemikiran budaya barat seperti liberalism.

Oleh sebab itu, kunci terpenting ketika kita dalam masa penantian, mencari seorang pendamping hidup yang akan menjadi imam kita kelak ataupun yang akan menjadi makmum kita kelak adalah niat awal kita menikah. luruskanlah niat itu maka pernikahan yang sakinah dan harmonis penuh kemesraan akan kita peroleh. Semua terbingkai dalam cinta berbalut dakwah. Subhanallah...
• Menikah sebaiknya jangan karena harta semata karena bila harta habis maka cintanya pun akan habis
• Menikah sebaiknya bukan karena asmara yang tergila-gila karena asmara itu buta dan tidak bertahan lama serta tidak tahan uji
• Menikah bukan hanya karena kecantikan
Kecantikan di luar memang indah tapi akan luntur termakan usia
• Menikah bukan karena iba
Dasar pernikahan adalah kasih bukan kasihan karena apabila kehidupannya sudah bahagia dan tidak bersedih lagi makarasanya akan semakin pudar. Cintailah dgn tulus
• Menikah bukan hanya karena kebutuhan biolgis semata
Kebutuhan biologis adalah salah satu bagian dari pernikahan. Jika dalam pernikahan terdapat kebutuhan biologis yang tidak sesuai harapan, apakah engkau akan meninggalkannya?
• Menikah bukan karena paksaan orangtua
Pernikahan karena paksaan orangtua akan menimbulkan banyak perkara. Kita sebagai anak harus berbakti pada orangtua tapi bukan pasrah begitu saja. Harus ada komunikasi antara kedua belah pihak.
• Menikah karena Allah, membentuk rumah tangga Islami
Rumah tangga islami yaitu rumah tangga yang didirikan atas landasan ibadah dan menjadi teladan, panutan dan dambaan umat

Sahabatku yang kucintai karena Allah, saat kita memilih pendamping hidup maka lakukanlah dengan niat yang benar jika kebaikan yang ingin kita dapatkan saat berumah tangga. Bukankah kita mengharapkan lahirnya generasi Rabbani, generasi Qur’ani, generasi cerdas dan berakhlak mulia. Maka marilah luruskan niat, perbaiki diri menjadi lebih baik dan berdo’alah semoga penantian jodoh kita berujung ketika kita masih di dunia.

Semoga apa yang evi sampaikan buat sahabat semua bermanfaat. Jikalau ada kesalahan dalam pengucapan ataupun tulisan dari Evi mohon di maafkan ya sahabatku. uhibbukum fillah.

Sangat senang sekali apabila sahabat dapat berbagi ilmu dan berdiskusi

Wassalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh
~Evi A.~
Medan, 4 Juni 2011
http://eviandrianimosy.blogspot.com/