Ramadan di Waktu Kecil Sekolah Dasar


Setiap orang punya cerita sendiri tentang Ramadan di waktu kecil. Kalau saya pilihnya di waktu Sekolah Dasar (SD). Ramadan di waktu kecil jelas berbeda dengan Ramadhan ketika saya remaja, apalagi dewasa. Ramadan di waktu remaja dan dewasa, saya bisa puasa penuh 1 hari. Namun, Ramadan di waktu Sekolah Dasar (SD) saya belum bisa puasa satu hari penuh.


Puasa di waktu Ramadan hanya bisa puasa setengah hari. Siangnya makan.  Kadang-kadang saya bukanya jam 12.00, kadang jam 13.00, kadang jam 14.00 WIB. Awal kelas 1 SD malah lebih banyak bolongnya. 1/2hari juga agak susah saya puasanya hehehe. Jadi pernah buka sembunyi-sembunyi minum air putih atau susu di kamar sebelum jam 12 siang.


Waktu zaman saya SD dulu tahun 90-an, pada malam hari di saat orang salat Tarawih, saya kadang melakukan tarawih di masjid, rapi lebih banyak ga salat tarawihnya khususnya kelas 1 dan 2 SD. Yang saya lakukan di depan rumah malah main lilin.


Lilin saya letakkan di pagar-pagar rumah. Karena rumah lama saya dari samping dan depan semua ditutup pagar. Kebayang ya banyak pagar besinya. Jadi kalau dipasang lilin itu cantik banget. Terang gitu. Saya main lilin bukan pas malam lebaran tapi pas Ramadan.


Satu Minggu sebelum lebaran, malah sisa lilin di pagar dikerok alias dibersihkan hehehe. Pagar besi dan dinding di cat agar cantik. Pokoknya sebelum lebaran kita bersih-bersih deh.


Zaman sekarang anak-anak seperti anak saya ga main lilin lagi. Lilin dianggap berbahaya sekarang karena takut menimbulkan kebakaran atau kena kabel listrik. Begitu juga kembang api. Saya dulu waktu kecil sebelum lebaran dan sewaktu Ramadan suka main kembang api. Zaman dulu juga semua masih seba murah. Pakai uang jajan kita bisa beli. Zaman sekarang lebih mahal. Benda-benda berapi dianggap berbahaya.


Kalau ingat waktu kecil itu asyik banget dan kita bebas berekspresi. Serulah pokoknya. Trus, sorenya kita jalan-jalan naik motor dengan almarhum ayah saya, kita berburu takjil. Kadang kalau ayah lama pulang, ayah sudah beli takjil untuk kita dalam perjalanan pulang dari kantornya sehabis mengajar di kampus.


Kalau ayah saya pulang dari kantor nggak bawa takjik, pasti saya selalu tanyain.


"Ayah, ga beli agar-agar kesukaan Evi?" tanya saya pada ayah yang masih capek baru letakkan sepeda motornya di garasi samping rumah.


"Belum sempat, karena macet tadi," ujar ayah.


"Ayok ayah kita beli sekarang! jawab saya maksa.


Waktu kecil, saya belum begitu mengerti bagaimana capeknya ayah bekerja. Belum sempat istirahat duduk di rumah, langsung saya ajak beli takjil. Apalagi saya tuh suka banget agar-agar atau puding. Makanan favorit saya kalau bulan Ramadan. Waktu kecil saya ga begitu suka gorengan. Sudah dewasa baru suka gorengan seperti risol, tahu bakso, bakwan, dll. Ayah saya sabar dan pengertian banget, capek-capek masih mau menuruti anaknya. Sayang banget ayah sama anaknya.


Sudah dewasa dan mempunyai anak, saya baru sadar bahwa orang tua kita dulu sabar banget melayani kita. Sekarang giliran kita yang sabar melayani anak. Apalagi anak saya cuma satu orang atau anak tunggal. Terlalu sabar banget. Hehehe. Tahulah manjanya minta ampun. Apa-apa minta diambilkan dan dibuatkan. Padahal kalau di sekolahnya, dia mandiri banget. Kalau sudah di rumah ketemu mamanya, manja banget hehehe.


Kalau ayah, ibu, nenek, om yang tinggal di rumah biasanya bukaan mereka kue dan gorengan. Kadang bubur sumsum, kolak pisang, bubur candil, dll. Kalau saya waktu kecil kurang suka bukaan seperti itu. Agak enek di mulut dan tenggorokan. Anehnya udah dewasa dan punya anak, malah saya suka makanan seperti itu, pengennya agar-agar. Kalau buah pun senangnya jeruk atau semangka. Bisa berubah-ubah ya kesukaan kita. 


Ada rindu yang ga dapat terucap. Rindu juga sama Ayah. Semoga Allah menempatkan ayah saya di sisi-Nya yang terbaik.
"Allahummaghfirlahu warhamhu wa 'aafihii wa'fu 'anhu, wa akrim nuzuulahu wawassi'mad kholahu ,waghsilhu bil maa'i wats salju walbaradi, wa naqqihii, minadz dzunubi wal khathaya kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minad danasi. Aamiin ya Rabbal'alamiin.


Sewaktu saya kecil, nenek masih hidup. Nenek rajin sekali buat kue. Kadang buat lemet, lepat, ombus-ombus, wajik, dan berbagai kue lainnya, dll. Kadang sayur yang dibuat nenek pun beranekaragam seperti gudeg, daun ubi tumbuk, sayur lontong, gulai, dll. Enak-enak semua masakan nenek. Karena kedua orang tua saya bekerja. Saya sering bersama nenek kita masak di dapur. Jadi rindu sama almarhumah nenek. Semoga beliau ditempatkan di sisi Allah yang terbaik.


"Allahummaghfir lahaa warhamhaa wa ‘asfihaa wa fu’anhaa wakrim nudzulahaa wawasi’ mudholahaa wagsilhaa bilmaai watsalji wal barodi wanaqqohaa min khotooyaa kamaa naqoitats tsaubal abyado minad danasi wabdilhaa  daarol khoiron min daarihaa eaahlan khoiron min ahlihaa  wajaudzan khoiron nin jaudzihaa  waadhilnaj jannata wa a’idzhaa min adzaabil qobrii au min adzabin naar”


Semoga Ramadan tahun ini lebih baik daripada Ramadan di Sekolah Dasar. Aamiin.


Salam santun,
Evi Andriani
Depok, 31 Maret 2024

Posting Komentar untuk "Ramadan di Waktu Kecil Sekolah Dasar"