Bank Sampah Induk Bersinar: Mewujudkan Kota Bintang Lima dengan Harga Kaki Lima
Bagaimana jika sesuatu yang setiap
hari kita buang ternyata dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari?
Padahal, ketika dipilah dan
dikelola dengan benar, sebagian di antaranya masih memiliki nilai ekonomi.
Dari sinilah gagasan Bank Sampah
Bersinar (BSB) menjadi menarik. BSB, yang kini direbranding menjadi Bank Sampah
Induk Bersinar (BSIB), tidak ingin berhenti pada urusan sampah.
Ada gagasan yang jauh lebih besar: membangun sebuah ekosistem yang saling membutuhkan dan saling menguatkan.
Sampah yang berasal dari rumah
menjadi awal sebuah perjalanan. Ia dipilah, disetorkan, ditimbang, dicatat,
dikelola, lalu masuk ke rantai daur ulang. Nilai yang dihasilkan kemudian dapat
kembali memberikan manfaat kepada masyarakat.
Di sinilah cita-cita founder BSIB,
Fifie Rahardja, tentang “Kota Bintang Lima dengan Harga Kaki Lima” menemukan
maknanya.
Dari Sampah Menjadi Sebuah Ekosistem
Bank Sampah Induk Bersinar berdiri
pada 27 September 2014 oleh Fifie Rahardja, berawal dari kepedulian terhadap
persoalan sampah di lingkungan sekitar. Dari inisiatif sosial tersebut, BSB
berkembang menjadi pengelolaan sampah berbasis pemberdayaan masyarakat.
BSB juga mendorong perubahan pola
penanganan sampah. Jika pola konvensional cenderung membawa sebagian besar
sampah menuju tempat pemrosesan akhir, sistem bank sampah menempatkan
pencegahan, pemilahan, dan daur ulang sebagai bagian penting dari proses
pengelolaan.
Pengelolaan dimulai dari rumah tangga, kemudian terhubung dengan Bank Sampah Unit (BSU), Bank Sampah Induk, mitra recycler, hingga produk daur ulang. Dengan alur tersebut, sampah yang sudah dipilah tidak berhenti di satu tempat, tetapi terus bergerak melalui proses pengelolaan hingga menghasilkan nilai ekonomi.
Inilah yang membuat BSIB tidak
berhenti pada pengelolaan sampah semata.
Di dalamnya ada masyarakat,
nasabah, BSU, mitra daur ulang, pelaku usaha, hingga berbagai program
pemberdayaan yang saling terhubung.
Dengan kata lain, yang dibangun bukan hanya sistem pengelolaan sampah, tetapi ekosistem yang membuat satu manfaat melahirkan manfaat lainnya.
Prinsip pengelolaan sampah di BSIB juga sejalan dengan konsep 3R, yaitu Reduce, Reuse, dan Recycle. Reduce berarti mengupayakan pengurangan timbulan sampah, Reuse berarti memanfaatkan kembali barang atau bahan agar tidak segera menjadi sampah, sedangkan Recycle berarti menggunakan kembali bahan setelah melalui proses pengolahan.
Ketika Sampah Menjadi Nilai
Setelah itu, sampah ditimbang dan dicatat. Material kemudian disortir, dikemas, dan disiapkan untuk disalurkan kepada mitra daur ulang.
Material anorganik bernilai yang diterima BSB antara lain PET, PP cup, HDPE, kertas, karton, logam, serta berbagai jenis material plastik, kaca, dan material lainnya sesuai ketentuan yang berlaku di BSB.
Dari sinilah sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat berubah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi bagi nasabah.
Bank Sampah Induk Bersinar memiliki lebih dari 5.000 nasabah aktif, lebih dari 20.000 masyarakat yang bermitra, serta lebih dari 500 Bank Sampah Unit yang beroperasi di tingkat RT/RW dan komunitas di delapan wilayah dampingan kabupaten/kota. Sampah yang dikelola bersama lebih dari 35 mitra daur ulang dan industri dapat mencapai sekitar 800–1.000 ton per tahun.
Angka-angka tersebut menunjukkan
bahwa kebiasaan memilah yang dilakukan banyak orang dapat membentuk dampak yang
jauh lebih besar.
Tetapi perjalanan sampah di BSB tidak berhenti setelah mendapatkan nilai.
Nilai itu diharapkan kembali kepada masyarakat.
Warung BSB: Ketika Nilai Sampah Kembali ke Rumah
Bayangkan seorang ibu memilah
sampah dari rumah.
Botol plastik yang biasanya
langsung dibuang dipisahkan. Kardus dikumpulkan. Kertas dan kaleng tidak lagi
tercampur dengan sampah lainnya.
Material tersebut kemudian
disetorkan dan memiliki nilai.
Lalu, apa yang terjadi setelahnya?
Di dalam ekosistem YSBI terdapat
Warung BSB, tempat masyarakat dapat memanfaatkan hasil tabungan sampah untuk
memperoleh berbagai kebutuhan sehari-hari.
Ada sembako, pakaian, dan kebutuhan lainnya. Konsep ini membuat hubungan antara sampah dan kebutuhan rumah tangga menjadi lebih dekat.
Sampah keluar dari rumah, menjadi nilai, lalu nilai itu kembali membantu memenuhi kebutuhan rumah.
Inilah yang menarik dari gagasan “Harga Kaki Lima”.
Bukan sekadar menjual sampah,
melainkan menciptakan perputaran manfaat di dalam masyarakat.
Konsep minimarket tukar sampah juga menjadi bagian dari inovasi BSB, yaitu masyarakat dapat menukar sampah terpilah dengan kebutuhan pokok sehari-hari.
Dengan demikian, sampah bukan hanya persoalan yang harus disingkirkan. Sampah dapat menjadi pintu masuk menuju manfaat ekonomi.
Kota Bintang Lima, Harga Kaki Lima
Lalu, apa sebenarnya makna “Kota Bintang Lima”?
Bintang lima tidak harus berarti kehidupan yang mewah dan serba mahal.
Cita-cita tersebut dapat
dibayangkan sebagai kondisi ketika masyarakat hidup di lingkungan yang lebih
bersih, tertata, nyaman, produktif, dan memiliki kesempatan untuk memperoleh
kesejahteraan bersama.
Sementara “Harga Kaki Lima”
menggambarkan harapan agar kebutuhan masyarakat dapat diperoleh dengan lebih
terjangkau.
Keduanya bukan konsep yang berdiri
sendiri. Lingkungan yang bersih membutuhkan kesadaran masyarakat.
Kesadaran tumbuh melalui edukasi. Sampah yang dipilah membutuhkan sistem pengelolaan. Sistem membutuhkan nasabah, BSU, mitra, dan industri.
Nasabah membutuhkan manfaat ekonomi. Masyarakat juga membutuhkan akses terhadap kebutuhan sehari-hari. Karena itulah, seluruh bagian tersebut perlu terhubung.
Kota Bintang Lima dibangun dari
ekosistem yang bekerja bersama, sedangkan Harga Kaki Lima lahir dari bagaimana
sumber daya yang ada dapat terus memberikan manfaat.
YSBI dan Ekosistem yang Saling Membutuhkan
YSBI (Yayasan Solusi Bersinar Indonesia) memiliki dua divisi berbeda yaitu
2. Kelompok Mandiri Bersinar.
Kelompok Mandiri Bersinar mengelola Local Education dan Lumbung Mandiri
Bank Sampah Induk Bersinar (BSIB) berada dalam ekosistem Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI). BSIB menjadi bagian yang menggerakkan pengelolaan sampah.
Sementara Kelompok Mandiri Bersinar
memberikan ruang bagi masyarakat, termasuk nasabah BSB, untuk mendapatkan
pembinaan dan mengembangkan kegiatan yang lebih produktif.
Artinya, seseorang tidak harus berhenti sebagai nasabah yang menyetorkan sampah. Ada kesempatan untuk berkembang.
Salah satu gagasan yang
dikembangkan adalah kebun atau Lumbung Mandiri.
Ibu-ibu dan nasabah dapat dilatih
untuk berkebun, mengembangkan sayuran, buah-buahan, dan potensi pangan lainnya.
Hasilnya kemudian dapat masuk ke dalam ekosistem Warung BSB dan ditawarkan
kepada masyarakat dengan harga yang lebih terjangkau.
Di titik ini, hubungan
antarkomponen semakin terlihat.
Masyarakat membutuhkan BSB untuk
mengelola sampah. BSB membutuhkan masyarakat untuk menjalankan gerakannya.
Sampah membutuhkan mitra untuk dikelola. Nasabah membutuhkan manfaat dari nilai
sampahnya. Kelompok Mandiri membutuhkan nasabah yang mau berkembang. Hasil
kebun membutuhkan pasar. Warung BSB menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan
kebutuhan tersebut.
Tidak ada yang benar-benar berdiri sendiri. Semuanya saling membutuhkan. Dan ketika hubungan tersebut berjalan, terbentuklah sebuah ekosistem.
Memberdayakan Nasabah dan Pemulung
Pemberdayaan di BSB juga tidak hanya berbicara tentang nilai ekonomi
Nasabah dan pemulung dapat mendapatkan ruang pembinaan melalui kegiatan sosial dan seni, termasuk Angklung Bersinar.
Ada ruang untuk belajar.
Ada ruang untuk berkarya.
Ada ruang untuk berinteraksi.
Ada kesempatan untuk membangun
kepercayaan diri dan mengembangkan potensi.
Dengan demikian, bank
sampah dapat berkembang menjadi ruang pemberdayaan masyarakat.
Ada kesempatan untuk membangun kepercayaan diri dan mengembangkan potensi. Dengan demikian, bank sampah dapat berkembang menjadi ruang pemberdayaan masyarakat.
Lebih dari Sekadar Tempat Menyetorkan Sampah
BSB juga memiliki berbagai skema layanan pengelolaan sampah.
Untuk rumah tangga, layanan
Household Waste Management (HWM) menyediakan penjemputan sampah dari rumah
dengan biaya Rp35.000 per pickup sesuai ketentuan layanan. Sampah harus sudah
dipilah, dengan batas maksimal organik 5 kg dan residu 5 kg per pickup.
Untuk institusi dan dunia usaha, tersedia layanan Responsible Waste Management, dengan skema mulai Rp150.000 per pickup untuk sampah hingga 50 kg, dan penyesuaian biaya sesuai volume serta kebutuhan layanan.
Sementara itu, standar layanan
pengelolaan sampah perumahan mencantumkan tarif Rp90.000 per rumah per bulan,
dengan minimum kerja sama 1.000 rumah.
Skema tersebut menunjukkan bahwa
pengelolaan BSB dapat menjangkau berbagai kebutuhan, mulai dari rumah tangga
hingga institusi dan dunia usaha.
Namun satu prinsip tetap penting:
sampah harus dipilah dari
sumbernya.
Karena pemilahan adalah awal dari
seluruh proses.
BSU: Ketika Gerakan Dimulai dari Lingkungan
Tidak semua perubahan harus dimulai
dari sesuatu yang besar.
Bank Sampah Unit atau BSU justru
menjadi salah satu cara agar gerakan pengelolaan sampah dapat tumbuh dari
lingkungan terdekat.
Rumah tangga memilah sampah.
Warga menyetorkannya ke BSU.
Sampah ditimbang dan dicatat.
Material kemudian masuk ke proses
pengelolaan berikutnya.
Model seperti ini membuat
pengelolaan sampah menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Saat ini, BSB memiliki lebih dari 500 BSU yang beroperasi di tingkat RT/RW dan komunitas. Ke depan, pengembangannya diarahkan menuju 1.000 Bank Sampah Unit aktif di seluruh Bandung Raya.
Semakin banyak lingkungan yang
memiliki sistem pemilahan, semakin besar peluang sampah yang dapat dikelola
sebelum berakhir di TPA.
Dari Kebiasaan Kecil Menuju Dampak Besar
Sebuah botol plastik mungkin
terlihat kecil.
Satu kardus mungkin terasa tidak
berarti.
Beberapa lembar kertas mungkin tampak terlalu sedikit untuk menghasilkan perubahan.
Tetapi ketika ribuan orang melakukan hal yang sama, dampaknya menjadi berbeda.
BSB mencatat bahwa volume sampah
yang dikirim ke TPA berpotensi berkurang lebih dari 70 persen apabila kesadaran
masyarakat dalam memilah terus meningkat. Nilai ekonomi dari sampah yang
terkelola juga diperkirakan dapat mencapai Rp2 miliar per tahun di BSB.
Tentu, angka tersebut merupakan
potensi yang menjadi bagian dari data dan proyeksi BSB, bukan jaminan nilai
yang akan diterima setiap nasabah.
Namun pesan yang ingin disampaikan
sederhana:
semakin baik sampah
dikelola, semakin besar manfaat yang dapat diciptakan.
Cara Menjadi Nasabah Bank Sampah Induk Bersinar
1. Daftar
Calon nasabah mengisi formulir
pendaftaran yang disediakan BSB.
Layanan nasabah terbuka bagi
individu, rumah tangga, dan masyarakat umum.
2. Pilah sampah dari rumah
Pisahkan sampah berdasarkan
jenisnya.
Untuk anorganik bernilai, material
yang diterima antara lain PET, PP cup, HDPE, kertas, karton, dan logam, sesuai
ketentuan BSB.
Sampah yang telah dipilah dapat disetorkan langsung ke Bank Sampah Bersinar.
Bagi nasabah yang membutuhkan layanan penjemputan dari rumah, tersedia layanan HWM/HWS sesuai ketentuan.
4. Timbang dan verifikasi
Sampah akan ditimbang dan diidentifikasi berdasarkan jenis materialnya.
Nilainya dihitung berdasarkan harga yang berlaku.
5. Dapatkan nilai atau cashback
Hasil sampah anorganik bernilai dapat diberikan kepada nasabah sesuai ketentuan BSB.
Flyer BSB juga menjelaskan alur
sederhananya: daftar, pilah, setor, timbang, lalu dapatkan nilainya.
Jadi, tidak perlu menunggu memiliki
sampah dalam jumlah besar.
Perubahan dapat dimulai dari apa
yang ada di rumah hari ini.
Saatnya Melihat Sampah dengan Cara Berbeda
Selama ini, kita mungkin melihat
sampah sebagai sesuatu yang harus segera disingkirkan.
BSB mengajak kita melihatnya dengan
sudut pandang berbeda.
Ada masyarakat yang memiliki potensi.
Ada nasabah yang dapat diberdayakan.
Ada pemulung yang dapat dilibatkan.
Ada pangan yang dapat dikembangkan.
Ada kebutuhan masyarakat yang harus dipenuhi.
Dan ada lingkungan yang harus dijaga.
Ketika semuanya dihubungkan, sampah
tidak lagi berdiri sebagai persoalan tunggal.
Ia menjadi awal dari sebuah ekosistem.
Sampah dari rumah masuk ke sistem
pengelolaan. Nilainya kembali kepada masyarakat. Nasabah dapat berkembang
melalui Kelompok Mandiri Bersinar. Potensi pangan dapat dikembangkan melalui
kebun atau Lumbung Mandiri. Hasilnya dapat masuk ke Warung BSB. Masyarakat
kemudian mendapatkan pilihan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan lebih
terjangkau.
Satu bagian membutuhkan bagian lainnya.
Itulah yang membuat gerakan ini menjadi lebih besar daripada sekadar aktivitas menyetorkan sampah.
Mewujudkan Kota Bintang Lima dari Rumah Sendiri
“Kota Bintang Lima dengan Harga Kaki Lima” pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah kota.
Ia adalah sebuah cita-cita tentang
bagaimana masyarakat dapat hidup dalam lingkungan yang lebih bersih sekaligus
memiliki kesempatan untuk tumbuh dan sejahtera.
Dan untuk mencapai sesuatu yang
besar, langkah pertamanya justru sangat sederhana.
Menyetorkannya.Karena mungkin, kota yang benar-benar “bintang lima” bukanlah kota yang membuat segala sesuatu menjadi mahal.
Menjadi bagian dari sistem.
Kemudian membiarkan manfaatnya
terus berputar.
Melainkan kota yang mampu
menciptakan lingkungan berkualitas, masyarakat berdaya, sumber daya yang tidak
terbuang sia-sia, dan kebutuhan yang dapat dijangkau lebih banyak orang.
Sementara “harga kaki lima” adalah
harapan bahwa kesejahteraan tidak hanya menjadi milik segelintir orang.
Sebab setiap orang berhak
mendapatkan kesempatan untuk hidup lebih baik.
Dan mungkin, perjalanan menuju ke sana bisa dimulai dari benda yang selama ini kita anggap tidak berharga.
Sampah!
Dari sampah menjadi nilai.
Dari nilai menjadi manfaat.
Dari manfaat menjadi pemberdayaan.
Dan dari pemberdayaan, tumbuh
sebuah ekosistem yang saling menguatkan.
Pada akhirnya, gerakan Bank Sampah
Induk Bersinar bukan hanya tentang berapa banyak sampah yang berhasil
dikumpulkan.
Lebih dari itu, ada upaya untuk
membangun kebiasaan baru, menghubungkan masyarakat, menciptakan nilai ekonomi,
membuka ruang pemberdayaan, serta menghadirkan manfaat yang kembali kepada
komunitas.
Dari komunitas untuk bumi, tumbuh
bersama, lestari selamanya.
Mengubah Sampah menjadi nilai
menjadikan Kampung cahaya.
Ibu-ibu bergerak, Sampah menjadi
cahaya.
Masa depan bermartabat pun akan
tercipta.
Kota Bintang Lima
dengan Harga Kaki Lima.
#SampahJadiNilai #GerakanBersinar
Ingin Bergabung dengan BSIB?
Bank Sampah Induk Bersinar
(BSIB/BSB)
Jln. Terusan Bojongsoang No. 174A,
Kabupaten Bandung
Admin Bank Sampah Bersinar:
0851-8686-1856
Email: infobanksampahbersinar@gmail.com
Instagram: banksampahbersinar.id









Semua harus dukung ini mulai dari rumah, mulai dari piring masing-masing. Selama ini untuk mengatasi sampah fokusnya ke sampah kemasan plastik botol dll. Padahal kalau semua kompak 'makan sampai piring bersih' itu membantu sekali meminimalkan sampah yang harus dipilah, memudahkan praktik bank sampah. Nice sharing kak.
BalasHapusTerima kasih atas dukungannya ya Kak Kristi. Semoga banyak orang yang berpikiran seperti Kak Kristi. Sebab sesuatu yang tidak kita makan sampai habis juga hasilnya ga baik ya Kak
HapusBiasanya sampah dianggap sesuatu yang harus segera dibuang, padahal kalau dipilah sejak dari rumah ternyata bisa punya nilai ekonomi sekaligus masuk ke ekosistem yang lebih besar. Konsep dari sampah menjadi nilai, dari nilai menjadi manfaat menurut saya kuat banget. Bagus nih Warung BSB, alurnya terasa nyata: sampah dari rumah dipilah, disetorkan, punya nilai, lalu manfaatnya bisa kembali membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi gerakannya melibatkan masyarakat, BSU, pemulung, mitra daur ulang, sampai pemberdayaan melalui kebun atau Lumbung Mandiri. Jadi bukan sekadar bank sampah, tetapi benar-benar membangun ekosistem. Kalau setiap rumah tangga mulai membiasakan memilah sampah, mungkin perubahan besar memang bisa dimulai dari kebiasaan yang kelihatannya sederhana
BalasHapusTerima kasih ya Kak Dian untuk support-nya. Saya pun merasakan gerakan ini sungguh luar biasa. Karena bukan hanya gerakan saja yang dihadirkan tapi juga pemberdayaan nasabahnya, tidak membedakan status sosial. Bahkan pemulung dan anak-anaknya juga dibina
HapusAku jadi makin kepikiran soal kebiasaan memilah sampah di rumah setelah baca tulisan ini, Ternyata dampaknya bisa luas banget. Mantap nih konsep “Kota Bintang Lima” dan “Harga Kaki Lima” yang saling terhubung, dari lingkungan bersih, pengelolaan sampah, sampai manfaat ekonomi untuk masyarakat. Apalagi nasabah BSB bisa ikut belajar lewat Local Education dan Lumbung Mandiri, jadi bukan cuma setor sampah tapi juga punya kesempatan berkembang.
BalasHapusSampah bukan hanya sekadar sebagai masalah lingkungan, tapi juga sebagai sumber nilai dan pemberdayaan masyarakat. Konsepnya sederhana, tapi dampaknya bisa besar kalau dimulai dari kebiasaan kita sendiri di rumah. Semoga gerakan seperti ini semakin luas dan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.
BalasHapusMenarik banget konsep bank sampah yang bukan hanya membantu mengurangi sampah, tetapi juga punya nilai ekonomi bagi masyarakat. Apalagi kalau pengelolaannya sudah terorganisir melalui bank sampah induk, dampaknya tentu bisa lebih luas. Gagasan mewujudkan kota dengan fasilitas yang baik tetapi tetap memperhatikan keterjangkauan juga terasa menarik, terutama kalau dibarengi dengan kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah
BalasHapusBank sampah baru denger sih ini. Apalagi ini khusus mengenai seputar sampah dan tentunya cara kelola sampah. Karena di indo sampah banyak di pelosok kota ataupun daerah.
BalasHapusurusan pilah sampah rumah tangga ternyata bisa seluar biasa ini dampaknya. Sering kali botol plastik atau kardus bekas berakhir begitu saja di tempat sampah tanpa sadar kalau masih punya nilai ekonomi.
BalasHapusKonsep Warung BSB yang mengubah tabungan sampah jadi kebutuhan pokok itu benar benar jenius dan sangat membantu warga sekitar. Kalau makin banyak lingkungan yang sadar dan mulai aktif memilah dari rumah, bukan cuma lingkungan jadi bersih, tapi ekonomi warga juga ikut terbakar semangatnya.
Ternyata Bank Sampah Induk Bersinar ini sudah berdiri sedari 2014, ya? Keren banget lho. Terus bertumbuh dan berdampak luar biasa baik bagi masyarakat serta lingkungan. Memang sudah saatnya, kita harus memahami kalau sampah itu bukan hanya dibuang dan berakhir di TPA lalu menyebabkan banyak masalah kesehatan. Tetapi, bisa jadi peluang cuan. Mulai dari memilah, menjual, atau membuat kerajinan tangan dan lainnya. Intinya sampah masih punya nilai ekonomis dan sepakat sama judul artikel ini. Karena isinya sesuai sekali.
BalasHapusKonsep 'Kota Bintang Lima Harga Kaki Lima' lewat gerakan Bank Sampah Induk Bersinar ini beneran jadi solusi konkret buat masalah sampah. Senang membaca paparan tentang pentingnya memilah sampah dari rumah dan bagaimana sampah bisa bernilai ekonomi bagi warga.
BalasHapusArah kebijakan BSB sangat baik ya Mba..terutama karena berniat membuat lokasi yang zero waste. Dengan begitu sampah betul jadi berkah dan kelak menjadi Kota Bintang Lima dengan Harga Kaki Lima
BalasHapusNgelola bank sampah itu susah-susah gampang. Kebanyakan emang tidak terlalu aktif. Ngga semua mau ngelola terutama di lingkungan RT. Keren banget di BSIB ini karena ada pemberdayaan masyarakat juga
BalasHapusOo... Ini rupanya artikel yang menang waktu itu๐. Keren. Oiya, Kak, teringatnya sampah yang masuk di BSB itu diapain aja, Kak? Penasaran dengan output sampahnya.
BalasHapusWah terima kasih mbak, daging semua ilmunya. Jadi kepikiran tentang sampah-sampah yang kubiarkan saja di rumah. Sepertinya harus mulai belajar memilah sampah nih..
BalasHapusJadi inget ada 1 RT yg viral krna pemanfaatan sampah nya bagus banget. Penggagas nya Pak RT yg memang cerdas banget.
BalasHapusKalau di sini bank sampahnya cuma mau terima jenis sampah anorganik itu pun tertentu aja seperti plastik, botol, kertas, alat elektronik dan minimal 1 pick up baru mau ambil. Kalau di sana gimana kak? Diambilnya berapa hari sekali?
BalasHapusSenang melihat banyak orang sudah sadar terhadap lingkungannya. Dengan memulai memilah sampah dari rumah hingga menggiatkan bank sampah di lingkungan masing-masing. ๐๐ป☺️
BalasHapusKonsep 'Kota Bintang Lima dengan Harga Kaki Lima' lewat Bank Sampah Induk Bersinar ini benar-benar solutif dan menginspirasi.
BalasHapusUrusan memilah sampah ini memang perlu sosialisasi yang sangat gencar sih karena masih banyak sekali orang yang tidak aware dengan memilah sampah dan tahunya cuma buang sampah pada tempatnya aja. Padahal dengan memilah sampah akan sangat membantu dalam pengelolaan sampah kita ya. Aku sendiri juga masih terus berusaha memperbaiki proses pemilahan sampah di rumah nih karena untuk sampah kecil gitu masih suka kecampur
BalasHapuskadang kita tak menyadari ya sampah di sekitar kita itu bisa sangat berarti bagi orang lain karena bernilai ekonomis, tapi makin berarti kalau kita mulai rajin memisahkan sampah organik dan an organik dan bisa di daur ulang, bisa juga ke Bank Sampah
BalasHapus