bunga

Bank Sampah Induk Bersinar: Mewujudkan Kota Bintang Lima dengan Harga Kaki Lima

 

Bank Sampah Induk Bersinar Mewujudkan Kota Bintang Lima dengan Harga Kaki Lima

Bagaimana jika sesuatu yang setiap hari kita buang ternyata dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari? Botol plastik, kardus, kertas, kaleng, dan berbagai material anorganik lainnya sering kali berakhir di tempat sampah begitu saja.

Padahal, ketika dipilah dan dikelola dengan benar, sebagian di antaranya masih memiliki nilai ekonomi.

Dari sinilah gagasan Bank Sampah Bersinar (BSB) menjadi menarik. BSB, yang kini direbranding menjadi Bank Sampah Induk Bersinar (BSIB), tidak ingin berhenti pada urusan sampah.

Ada gagasan yang jauh lebih besar: membangun sebuah ekosistem yang saling membutuhkan dan saling menguatkan.

Sampah yang berasal dari rumah menjadi awal sebuah perjalanan. Ia dipilah, disetorkan, ditimbang, dicatat, dikelola, lalu masuk ke rantai daur ulang. Nilai yang dihasilkan kemudian dapat kembali memberikan manfaat kepada masyarakat.

Di sinilah cita-cita founder BSIB, Fifie Rahardja, tentang “Kota Bintang Lima dengan Harga Kaki Lima” menemukan maknanya.

Dari Sampah Menjadi Sebuah Ekosistem

Bank Sampah Induk Bersinar berdiri pada 27 September 2014 oleh Fifie Rahardja, berawal dari kepedulian terhadap persoalan sampah di lingkungan sekitar. Dari inisiatif sosial tersebut, BSB berkembang menjadi pengelolaan sampah berbasis pemberdayaan masyarakat.

Kota Bintang Lima dengan Harga Kaki Lima
Namun, BSIB memiliki cara pandang yang lebih luas daripada sekadar mengumpulkan sampah.

BSB juga mendorong perubahan pola penanganan sampah. Jika pola konvensional cenderung membawa sebagian besar sampah menuju tempat pemrosesan akhir, sistem bank sampah menempatkan pencegahan, pemilahan, dan daur ulang sebagai bagian penting dari proses pengelolaan.

Pengelolaan dimulai dari rumah tangga, kemudian terhubung dengan Bank Sampah Unit (BSU), Bank Sampah Induk, mitra recycler, hingga produk daur ulang. Dengan alur tersebut, sampah yang sudah dipilah tidak berhenti di satu tempat, tetapi terus bergerak melalui proses pengelolaan hingga menghasilkan nilai ekonomi.

Inilah yang membuat BSIB tidak berhenti pada pengelolaan sampah semata.

Di dalamnya ada masyarakat, nasabah, BSU, mitra daur ulang, pelaku usaha, hingga berbagai program pemberdayaan yang saling terhubung.

Dengan kata lain, yang dibangun bukan hanya sistem pengelolaan sampah, tetapi ekosistem yang membuat satu manfaat melahirkan manfaat lainnya.

Prinsip pengelolaan sampah di BSIB juga sejalan dengan konsep 3R, yaitu Reduce, Reuse, dan Recycle. Reduce berarti mengupayakan pengurangan timbulan sampah, Reuse berarti memanfaatkan kembali barang atau bahan agar tidak segera menjadi sampah, sedangkan Recycle berarti menggunakan kembali bahan setelah melalui proses pengolahan.

Ketika Sampah Menjadi Nilai


Kota Bintang Lima dengan Harga Kaki Lima
Semua dapat dimulai dari rumah. Nasabah memilah sampah berdasarkan jenisnya. Sampah yang sudah dipilah kemudian dapat disetorkan ke BSU atau BSB, maupun dijemput melalui layanan yang tersedia.

Setelah itu, sampah ditimbang dan dicatat. Material kemudian disortir, dikemas, dan disiapkan untuk disalurkan kepada mitra daur ulang.

Material anorganik bernilai yang diterima BSB antara lain PET, PP cup, HDPE, kertas, karton, logam, serta berbagai jenis material plastik, kaca, dan material lainnya sesuai ketentuan yang berlaku di BSB.

Dari sinilah sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat berubah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi bagi nasabah.

Bank Sampah Induk Bersinar memiliki lebih dari 5.000 nasabah aktif, lebih dari 20.000 masyarakat yang bermitra, serta lebih dari 500 Bank Sampah Unit yang beroperasi di tingkat RT/RW dan komunitas di delapan wilayah dampingan kabupaten/kota. Sampah yang dikelola bersama lebih dari 35 mitra daur ulang dan industri dapat mencapai sekitar 800–1.000 ton per tahun.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan memilah yang dilakukan banyak orang dapat membentuk dampak yang jauh lebih besar.

Tetapi perjalanan sampah di BSB tidak berhenti setelah mendapatkan nilai.

Nilai itu diharapkan kembali kepada masyarakat.

Warung BSB: Ketika Nilai Sampah Kembali ke Rumah


Kota Bintang Lima dengan Harga Kaki Lima

Bayangkan seorang ibu memilah sampah dari rumah.

Botol plastik yang biasanya langsung dibuang dipisahkan. Kardus dikumpulkan. Kertas dan kaleng tidak lagi tercampur dengan sampah lainnya.

Material tersebut kemudian disetorkan dan memiliki nilai.

Lalu, apa yang terjadi setelahnya?

Di dalam ekosistem YSBI terdapat Warung BSB, tempat masyarakat dapat memanfaatkan hasil tabungan sampah untuk memperoleh berbagai kebutuhan sehari-hari.

Ada sembako, pakaian, dan kebutuhan lainnya. Konsep ini membuat hubungan antara sampah dan kebutuhan rumah tangga menjadi lebih dekat.

Sampah keluar dari rumah, menjadi nilai, lalu nilai itu kembali membantu memenuhi kebutuhan rumah.

Inilah yang menarik dari gagasan “Harga Kaki Lima”.

Bukan sekadar menjual sampah, melainkan menciptakan perputaran manfaat di dalam masyarakat.

Konsep minimarket tukar sampah juga menjadi bagian dari inovasi BSB, yaitu masyarakat dapat menukar sampah terpilah dengan kebutuhan pokok sehari-hari.

Dengan demikian, sampah bukan hanya persoalan yang harus disingkirkan. Sampah dapat menjadi pintu masuk menuju manfaat ekonomi.

Kota Bintang Lima, Harga Kaki Lima

Lalu, apa sebenarnya makna “Kota Bintang Lima”?

Bintang lima tidak harus berarti kehidupan yang mewah dan serba mahal.

Cita-cita tersebut dapat dibayangkan sebagai kondisi ketika masyarakat hidup di lingkungan yang lebih bersih, tertata, nyaman, produktif, dan memiliki kesempatan untuk memperoleh kesejahteraan bersama.

Sementara “Harga Kaki Lima” menggambarkan harapan agar kebutuhan masyarakat dapat diperoleh dengan lebih terjangkau.

Keduanya bukan konsep yang berdiri sendiri. Lingkungan yang bersih membutuhkan kesadaran masyarakat.

Kesadaran tumbuh melalui edukasi. Sampah yang dipilah membutuhkan sistem pengelolaan. Sistem membutuhkan nasabah, BSU, mitra, dan industri.

Nasabah membutuhkan manfaat ekonomi. Masyarakat juga membutuhkan akses terhadap kebutuhan sehari-hari. Karena itulah, seluruh bagian tersebut perlu terhubung.

Kota Bintang Lima dibangun dari ekosistem yang bekerja bersama, sedangkan Harga Kaki Lima lahir dari bagaimana sumber daya yang ada dapat terus memberikan manfaat.

YSBI dan Ekosistem yang Saling Membutuhkan

YSBI (Yayasan Solusi Bersinar Indonesia) memiliki dua divisi berbeda yaitu

1. Bank Sampah Induk Bersinar (BSIB)
2. Kelompok Mandiri Bersinar.
Kelompok Mandiri Bersinar mengelola Local Education dan Lumbung Mandiri

Bank Sampah Induk Bersinar (BSIB) berada dalam ekosistem Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI). BSIB menjadi bagian yang menggerakkan pengelolaan sampah.

Sementara Kelompok Mandiri Bersinar memberikan ruang bagi masyarakat, termasuk nasabah BSB, untuk mendapatkan pembinaan dan mengembangkan kegiatan yang lebih produktif.

Artinya, seseorang tidak harus berhenti sebagai nasabah yang menyetorkan sampah. Ada kesempatan untuk berkembang.

Salah satu gagasan yang dikembangkan adalah kebun atau Lumbung Mandiri.

Kota Bintang Lima dengan Harga Kaki Lima

Ibu-ibu dan nasabah dapat dilatih untuk berkebun, mengembangkan sayuran, buah-buahan, dan potensi pangan lainnya. Hasilnya kemudian dapat masuk ke dalam ekosistem Warung BSB dan ditawarkan kepada masyarakat dengan harga yang lebih terjangkau.

Di titik ini, hubungan antarkomponen semakin terlihat.

Masyarakat membutuhkan BSB untuk mengelola sampah. BSB membutuhkan masyarakat untuk menjalankan gerakannya. Sampah membutuhkan mitra untuk dikelola. Nasabah membutuhkan manfaat dari nilai sampahnya. Kelompok Mandiri membutuhkan nasabah yang mau berkembang. Hasil kebun membutuhkan pasar. Warung BSB menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan kebutuhan tersebut.

Tidak ada yang benar-benar berdiri sendiri. Semuanya saling membutuhkan. Dan ketika hubungan tersebut berjalan, terbentuklah sebuah ekosistem.

Memberdayakan Nasabah dan Pemulung

Pemberdayaan di BSB juga tidak hanya berbicara tentang nilai ekonomi

Nasabah dan pemulung dapat mendapatkan ruang pembinaan melalui kegiatan sosial dan seni, termasuk Angklung Bersinar.

Ada ruang untuk belajar.
Ada ruang untuk berkarya.
Ada ruang untuk berinteraksi.
Ada kesempatan untuk membangun kepercayaan diri dan mengembangkan potensi.
Dengan demikian, bank sampah dapat berkembang menjadi ruang pemberdayaan masyarakat.

Ada kesempatan untuk membangun kepercayaan diri dan mengembangkan potensi. Dengan demikian, bank sampah dapat berkembang menjadi ruang pemberdayaan masyarakat.

Lebih dari Sekadar Tempat Menyetorkan Sampah

BSB juga memiliki berbagai skema layanan pengelolaan sampah.

Untuk rumah tangga, layanan Household Waste Management (HWM) menyediakan penjemputan sampah dari rumah dengan biaya Rp35.000 per pickup sesuai ketentuan layanan. Sampah harus sudah dipilah, dengan batas maksimal organik 5 kg dan residu 5 kg per pickup.

Kota Bintang Lima dengan Harga Kaki Lima

Untuk institusi dan dunia usaha, tersedia layanan Responsible Waste Management, dengan skema mulai Rp150.000 per pickup untuk sampah hingga 50 kg, dan penyesuaian biaya sesuai volume serta kebutuhan layanan.

Sementara itu, standar layanan pengelolaan sampah perumahan mencantumkan tarif Rp90.000 per rumah per bulan, dengan minimum kerja sama 1.000 rumah.

Skema tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan BSB dapat menjangkau berbagai kebutuhan, mulai dari rumah tangga hingga institusi dan dunia usaha.

Namun satu prinsip tetap penting:
sampah harus dipilah dari sumbernya.

Karena pemilahan adalah awal dari seluruh proses.

BSU: Ketika Gerakan Dimulai dari Lingkungan

Tidak semua perubahan harus dimulai dari sesuatu yang besar. 

Bank Sampah Unit atau BSU justru menjadi salah satu cara agar gerakan pengelolaan sampah dapat tumbuh dari lingkungan terdekat.

Rumah tangga memilah sampah.
Warga menyetorkannya ke BSU.
Sampah ditimbang dan dicatat.
Material kemudian masuk ke proses pengelolaan berikutnya.
Model seperti ini membuat pengelolaan sampah menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Saat ini, BSB memiliki lebih dari 500 BSU yang beroperasi di tingkat RT/RW dan komunitas. Ke depan, pengembangannya diarahkan menuju 1.000 Bank Sampah Unit aktif di seluruh Bandung Raya.

Semakin banyak lingkungan yang memiliki sistem pemilahan, semakin besar peluang sampah yang dapat dikelola sebelum berakhir di TPA.

Dari Kebiasaan Kecil Menuju Dampak Besar

Sebuah botol plastik mungkin terlihat kecil.
Satu kardus mungkin terasa tidak berarti.

Beberapa lembar kertas mungkin tampak terlalu sedikit untuk menghasilkan perubahan.

Tetapi ketika ribuan orang melakukan hal yang sama, dampaknya menjadi berbeda.

BSB mencatat bahwa volume sampah yang dikirim ke TPA berpotensi berkurang lebih dari 70 persen apabila kesadaran masyarakat dalam memilah terus meningkat. Nilai ekonomi dari sampah yang terkelola juga diperkirakan dapat mencapai Rp2 miliar per tahun di BSB. 

Tentu, angka tersebut merupakan potensi yang menjadi bagian dari data dan proyeksi BSB, bukan jaminan nilai yang akan diterima setiap nasabah.

Namun pesan yang ingin disampaikan sederhana:
semakin baik sampah dikelola, semakin besar manfaat yang dapat diciptakan.

Cara Menjadi Nasabah Bank Sampah Induk Bersinar

1. Daftar
Calon nasabah mengisi formulir pendaftaran yang disediakan BSB.
Layanan nasabah terbuka bagi individu, rumah tangga, dan masyarakat umum.
2. Pilah sampah dari rumah
Pisahkan sampah berdasarkan jenisnya.
Untuk anorganik bernilai, material yang diterima antara lain PET, PP cup, HDPE, kertas, karton, dan logam, sesuai ketentuan BSB.

Kota Bintang Lima dengan Harga Kaki Lima
3. Setorkan sampah
Sampah yang telah dipilah dapat disetorkan langsung ke Bank Sampah Bersinar.
Bagi nasabah yang membutuhkan layanan penjemputan dari rumah, tersedia layanan HWM/HWS sesuai ketentuan.
4. Timbang dan verifikasi
Sampah akan ditimbang dan diidentifikasi berdasarkan jenis materialnya.
Nilainya dihitung berdasarkan harga yang berlaku.
5. Dapatkan nilai atau cashback
Hasil sampah anorganik bernilai dapat diberikan kepada nasabah sesuai ketentuan BSB.

Flyer BSB juga menjelaskan alur sederhananya: daftar, pilah, setor, timbang, lalu dapatkan nilainya.

Jadi, tidak perlu menunggu memiliki sampah dalam jumlah besar.
Perubahan dapat dimulai dari apa yang ada di rumah hari ini.

Saatnya Melihat Sampah dengan Cara Berbeda

Selama ini, kita mungkin melihat sampah sebagai sesuatu yang harus segera disingkirkan.

BSB mengajak kita melihatnya dengan sudut pandang berbeda.

Kota Bintang Lima dengan Harga Kaki Lima
Ada sampah yang masih memiliki nilai.
Ada masyarakat yang memiliki potensi.
Ada nasabah yang dapat diberdayakan.
Ada pemulung yang dapat dilibatkan.
Ada pangan yang dapat dikembangkan.
Ada kebutuhan masyarakat yang harus dipenuhi.
Dan ada lingkungan yang harus dijaga.

Ketika semuanya dihubungkan, sampah tidak lagi berdiri sebagai persoalan tunggal.

Ia menjadi awal dari sebuah ekosistem.

Sampah dari rumah masuk ke sistem pengelolaan. Nilainya kembali kepada masyarakat. Nasabah dapat berkembang melalui Kelompok Mandiri Bersinar. Potensi pangan dapat dikembangkan melalui kebun atau Lumbung Mandiri. Hasilnya dapat masuk ke Warung BSB. Masyarakat kemudian mendapatkan pilihan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan lebih terjangkau.

Satu bagian membutuhkan bagian lainnya.

Itulah yang membuat gerakan ini menjadi lebih besar daripada sekadar aktivitas menyetorkan sampah.

Mewujudkan Kota Bintang Lima dari Rumah Sendiri

“Kota Bintang Lima dengan Harga Kaki Lima” pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah kota.

Ia adalah sebuah cita-cita tentang bagaimana masyarakat dapat hidup dalam lingkungan yang lebih bersih sekaligus memiliki kesempatan untuk tumbuh dan sejahtera.

Dan untuk mencapai sesuatu yang besar, langkah pertamanya justru sangat sederhana.

Kota Bintang Lima dengan Harga Kaki Lima
Memilah sampah.
Menyetorkannya.Karena mungkin, kota yang benar-benar “bintang lima” bukanlah kota yang membuat segala sesuatu menjadi mahal.

Menjadi bagian dari sistem.
Kemudian membiarkan manfaatnya terus berputar.

Melainkan kota yang mampu menciptakan lingkungan berkualitas, masyarakat berdaya, sumber daya yang tidak terbuang sia-sia, dan kebutuhan yang dapat dijangkau lebih banyak orang.

Sementara “harga kaki lima” adalah harapan bahwa kesejahteraan tidak hanya menjadi milik segelintir orang.

Sebab setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk hidup lebih baik.

Dan mungkin, perjalanan menuju ke sana bisa dimulai dari benda yang selama ini kita anggap tidak berharga.

Sampah!

Dari sampah menjadi nilai.
Dari nilai menjadi manfaat.
Dari manfaat menjadi pemberdayaan.
Dan dari pemberdayaan, tumbuh sebuah ekosistem yang saling menguatkan.

Pada akhirnya, gerakan Bank Sampah Induk Bersinar bukan hanya tentang berapa banyak sampah yang berhasil dikumpulkan.

Lebih dari itu, ada upaya untuk membangun kebiasaan baru, menghubungkan masyarakat, menciptakan nilai ekonomi, membuka ruang pemberdayaan, serta menghadirkan manfaat yang kembali kepada komunitas.

Dari komunitas untuk bumi, tumbuh bersama, lestari selamanya.
Mengubah Sampah menjadi nilai menjadikan Kampung cahaya.
Ibu-ibu bergerak, Sampah menjadi cahaya.
Masa depan bermartabat pun akan tercipta.
Kota Bintang Lima dengan Harga Kaki Lima.

#SampahJadiNilai #GerakanBersinar

Ingin Bergabung dengan BSIB?

Bank Sampah Induk Bersinar (BSIB/BSB)
Jln. Terusan Bojongsoang No. 174A, Kabupaten Bandung

Admin Bank Sampah Bersinar:
0851-8686-1856

Email: infobanksampahbersinar@gmail.com

Instagram: banksampahbersinar.id




21 komentar untuk "Bank Sampah Induk Bersinar: Mewujudkan Kota Bintang Lima dengan Harga Kaki Lima"

  1. Semua harus dukung ini mulai dari rumah, mulai dari piring masing-masing. Selama ini untuk mengatasi sampah fokusnya ke sampah kemasan plastik botol dll. Padahal kalau semua kompak 'makan sampai piring bersih' itu membantu sekali meminimalkan sampah yang harus dipilah, memudahkan praktik bank sampah. Nice sharing kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas dukungannya ya Kak Kristi. Semoga banyak orang yang berpikiran seperti Kak Kristi. Sebab sesuatu yang tidak kita makan sampai habis juga hasilnya ga baik ya Kak

      Hapus
  2. Biasanya sampah dianggap sesuatu yang harus segera dibuang, padahal kalau dipilah sejak dari rumah ternyata bisa punya nilai ekonomi sekaligus masuk ke ekosistem yang lebih besar. Konsep dari sampah menjadi nilai, dari nilai menjadi manfaat menurut saya kuat banget. Bagus nih Warung BSB, alurnya terasa nyata: sampah dari rumah dipilah, disetorkan, punya nilai, lalu manfaatnya bisa kembali membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi gerakannya melibatkan masyarakat, BSU, pemulung, mitra daur ulang, sampai pemberdayaan melalui kebun atau Lumbung Mandiri. Jadi bukan sekadar bank sampah, tetapi benar-benar membangun ekosistem. Kalau setiap rumah tangga mulai membiasakan memilah sampah, mungkin perubahan besar memang bisa dimulai dari kebiasaan yang kelihatannya sederhana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih ya Kak Dian untuk support-nya. Saya pun merasakan gerakan ini sungguh luar biasa. Karena bukan hanya gerakan saja yang dihadirkan tapi juga pemberdayaan nasabahnya, tidak membedakan status sosial. Bahkan pemulung dan anak-anaknya juga dibina

      Hapus
  3. Aku jadi makin kepikiran soal kebiasaan memilah sampah di rumah setelah baca tulisan ini, Ternyata dampaknya bisa luas banget. Mantap nih konsep “Kota Bintang Lima” dan “Harga Kaki Lima” yang saling terhubung, dari lingkungan bersih, pengelolaan sampah, sampai manfaat ekonomi untuk masyarakat. Apalagi nasabah BSB bisa ikut belajar lewat Local Education dan Lumbung Mandiri, jadi bukan cuma setor sampah tapi juga punya kesempatan berkembang.

    BalasHapus
  4. Sampah bukan hanya sekadar sebagai masalah lingkungan, tapi juga sebagai sumber nilai dan pemberdayaan masyarakat. Konsepnya sederhana, tapi dampaknya bisa besar kalau dimulai dari kebiasaan kita sendiri di rumah. Semoga gerakan seperti ini semakin luas dan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.

    BalasHapus
  5. Menarik banget konsep bank sampah yang bukan hanya membantu mengurangi sampah, tetapi juga punya nilai ekonomi bagi masyarakat. Apalagi kalau pengelolaannya sudah terorganisir melalui bank sampah induk, dampaknya tentu bisa lebih luas. Gagasan mewujudkan kota dengan fasilitas yang baik tetapi tetap memperhatikan keterjangkauan juga terasa menarik, terutama kalau dibarengi dengan kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah

    BalasHapus
  6. Bank sampah baru denger sih ini. Apalagi ini khusus mengenai seputar sampah dan tentunya cara kelola sampah. Karena di indo sampah banyak di pelosok kota ataupun daerah.

    BalasHapus
  7. urusan pilah sampah rumah tangga ternyata bisa seluar biasa ini dampaknya. Sering kali botol plastik atau kardus bekas berakhir begitu saja di tempat sampah tanpa sadar kalau masih punya nilai ekonomi.
    Konsep Warung BSB yang mengubah tabungan sampah jadi kebutuhan pokok itu benar benar jenius dan sangat membantu warga sekitar. Kalau makin banyak lingkungan yang sadar dan mulai aktif memilah dari rumah, bukan cuma lingkungan jadi bersih, tapi ekonomi warga juga ikut terbakar semangatnya.

    BalasHapus
  8. Ternyata Bank Sampah Induk Bersinar ini sudah berdiri sedari 2014, ya? Keren banget lho. Terus bertumbuh dan berdampak luar biasa baik bagi masyarakat serta lingkungan. Memang sudah saatnya, kita harus memahami kalau sampah itu bukan hanya dibuang dan berakhir di TPA lalu menyebabkan banyak masalah kesehatan. Tetapi, bisa jadi peluang cuan. Mulai dari memilah, menjual, atau membuat kerajinan tangan dan lainnya. Intinya sampah masih punya nilai ekonomis dan sepakat sama judul artikel ini. Karena isinya sesuai sekali.

    BalasHapus
  9. Konsep 'Kota Bintang Lima Harga Kaki Lima' lewat gerakan Bank Sampah Induk Bersinar ini beneran jadi solusi konkret buat masalah sampah. Senang membaca paparan tentang pentingnya memilah sampah dari rumah dan bagaimana sampah bisa bernilai ekonomi bagi warga.

    BalasHapus
  10. Arah kebijakan BSB sangat baik ya Mba..terutama karena berniat membuat lokasi yang zero waste. Dengan begitu sampah betul jadi berkah dan kelak menjadi Kota Bintang Lima dengan Harga Kaki Lima

    BalasHapus
  11. Ngelola bank sampah itu susah-susah gampang. Kebanyakan emang tidak terlalu aktif. Ngga semua mau ngelola terutama di lingkungan RT. Keren banget di BSIB ini karena ada pemberdayaan masyarakat juga

    BalasHapus
  12. Oo... Ini rupanya artikel yang menang waktu itu๐Ÿ˜. Keren. Oiya, Kak, teringatnya sampah yang masuk di BSB itu diapain aja, Kak? Penasaran dengan output sampahnya.

    BalasHapus
  13. Wah terima kasih mbak, daging semua ilmunya. Jadi kepikiran tentang sampah-sampah yang kubiarkan saja di rumah. Sepertinya harus mulai belajar memilah sampah nih..

    BalasHapus
  14. Jadi inget ada 1 RT yg viral krna pemanfaatan sampah nya bagus banget. Penggagas nya Pak RT yg memang cerdas banget.

    BalasHapus
  15. Kalau di sini bank sampahnya cuma mau terima jenis sampah anorganik itu pun tertentu aja seperti plastik, botol, kertas, alat elektronik dan minimal 1 pick up baru mau ambil. Kalau di sana gimana kak? Diambilnya berapa hari sekali?

    BalasHapus
  16. Senang melihat banyak orang sudah sadar terhadap lingkungannya. Dengan memulai memilah sampah dari rumah hingga menggiatkan bank sampah di lingkungan masing-masing. ๐Ÿ‘๐Ÿป☺️

    BalasHapus
  17. Konsep 'Kota Bintang Lima dengan Harga Kaki Lima' lewat Bank Sampah Induk Bersinar ini benar-benar solutif dan menginspirasi.

    BalasHapus
  18. Urusan memilah sampah ini memang perlu sosialisasi yang sangat gencar sih karena masih banyak sekali orang yang tidak aware dengan memilah sampah dan tahunya cuma buang sampah pada tempatnya aja. Padahal dengan memilah sampah akan sangat membantu dalam pengelolaan sampah kita ya. Aku sendiri juga masih terus berusaha memperbaiki proses pemilahan sampah di rumah nih karena untuk sampah kecil gitu masih suka kecampur

    BalasHapus
  19. kadang kita tak menyadari ya sampah di sekitar kita itu bisa sangat berarti bagi orang lain karena bernilai ekonomis, tapi makin berarti kalau kita mulai rajin memisahkan sampah organik dan an organik dan bisa di daur ulang, bisa juga ke Bank Sampah

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca tulisan saya ini. Mohon setelah membaca, beri komentar di bawahnya.
Silahkan follow IG saya : @eviandriani55 dan Twitter saya : @eviandri55.
Salam santun, Evi.